Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Sisi Gelap Torsi Melimpah: Studi ITB Ungkap Mesin Diesel Jadi Biang Kerok Polusi Terbesar Jakarta!

OtomotifSiska AmeliaSiska AmeliaSumber: CNN Otomotif
Siska Amelia
Siska Amelia
Rider & Reviewer

Membawa perspektif segar dalam dunia otomotif roda dua dari kacamata perempuan.

Sisi Gelap Torsi Melimpah: Studi ITB Ungkap Mesin Diesel Jadi Biang Kerok Polusi Terbesar Jakarta!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Studi terbaru dari ITB mengungkapkan bahwa kendaraan bermesin diesel menyumbang 32,4% polutan PM2.5 di Jakarta, menjadikannya kontributor terbesar di sektor transportasi.
  • Kendaraan berbahan bakar bensin berada di posisi kedua dengan 26,9%, disusul oleh polutan sekunder (secondary sulfate) sebesar 20,3%.
  • Para ahli merekomendasikan pengetatan standar bahan bakar, kewajiban penggunaan Diesel Particulate Filter (DPF) pada kendaraan komersial, serta percepatan transisi ke Euro IV dan kendaraan listrik.

Halo para pecinta otomotif, Doni Surya di sini. Kita semua tahu mesin diesel dipuja karena torsinya yang badak, durabilitas tinggi, dan efisiensi termal yang luar biasa. Tapi, ada harga mahal yang harus dibayar dari setiap kepulan asap hitam khas mesin peminum solar ini. Sebuah studi terbaru yang dirilis oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) menampar keras kita semua dengan fakta bahwa kendaraan diesel adalah penyumbang polutan PM2.5 terbesar di DKI Jakarta, dengan kontribusi masif mencapai 32,4 persen!

Di posisi kedua, kendaraan berbahan bakar bensin menyumbang 26,9 persen. Sementara itu, posisi ketiga ditempati oleh secondary sulfate sebesar 20,3 persen. Jika ketiga sumber ini digabungkan, mereka mendominasi 79,6 persen dari total polusi udara yang menyelimuti langit ibu kota. Angka yang sangat mengkhawatirkan bagi kita yang setiap hari membelah kemacetan Jakarta.

Studi komprehensif bertajuk Source Apportionment PM2.5 di Jakarta ini digarap oleh tim peneliti andal dari Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (KK PUL-FTSL) ITB, dengan sokongan dari Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB). Ketua tim peneliti, Prof. Ir. Puji Lestari, Ph.D., menegaskan bahwa sektor transportasi masih menjadi 'raja' di puncak daftar penyumbang emisi Jakarta, mengalahkan sektor industri, pembakaran sampah, dan konstruksi.

Bagi Anda yang belum familier secara teknis, PM2.5 adalah partikulat super mikro berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Sebagai perbandingan, ukurannya 30 kali lebih tipis dari sehelai rambut manusia! Karena ukurannya yang mikroskopis ini, PM2.5 dengan mudah menembus masker biasa, masuk ke saluran pernapasan dalam, hingga menyusup ke pembuluh darah. Dampak jangka panjangnya mengerikan: asma, ISPA, kanker paru-paru, hingga kematian dini.

Untuk meredam racun di udara ini, tim peneliti ITB menyodorkan rekomendasi teknis yang cukup radikal. Pemerintah didesak untuk segera memperketat standar bahan bakar dan mempercepat adopsi kendaraan berstandar Euro IV serta kendaraan listrik (EV). Sebagai solusi transisi cepat, pemerintah juga disarankan mewajibkan pemasangan perangkat penyaring emisi aktif berupa Diesel Particulate Filter (DPF) pada armada truk dan bus komersial yang masih berkeliaran menggunakan solar berkualitas rendah. Selain itu, pengetatan regulasi uji emisi dan peremajaan armada transportasi publik menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

Namun, masalah polusi Jakarta ternyata tidak sesederhana membenahi knalpot kendaraan di jalan raya saja. Studi ITB juga mendeteksi adanya kontribusi polusi regional alias kiriman lintas batas dari kawasan industri di daerah penyangga. Hal ini diamini oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Menurutnya, langkah Pemprov DKI membenahi transportasi publik dan mendorong migrasi ke mobil listrik tidak akan pernah 100% tuntas membersihkan langit Jakarta selama Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu baraβ€”seperti PLTU Suralaya di Bantenβ€”dan industri berat di sekitar Jakarta masih terus menyemburkan emisi tanpa kontrol ketat.

Analisis Pakar

Sebagai seorang reviewer otomotif yang mencintai mesin pembakaran internal (ICE), saya harus bersikap jujur dan realistis. Hasil studi ITB ini adalah alarm keras bagi para 'pemuja' torsi diesel di Indonesia. Mengapa mesin diesel begitu kotor di Indonesia? Jawabannya ada pada kombinasi fatal antara kualitas bahan bakar yang buruk dan kurangnya perawatan sistem emisi oleh pemilik kendaraan.

Secara teknis, mesin diesel modern (common-rail) membutuhkan bahan bakar dengan kandungan sulfur yang sangat rendah (di bawah 10-50 ppm) agar sistem after-treatment seperti DPF dan Selective Catalytic Reduction (SCR) bisa bekerja optimal. Faktanya, di jalanan kita masih banyak kendaraan diesel yang 'dipaksa' menenggak solar subsidi dengan kandungan sulfur tinggi (mencapai 500 ppm atau lebih). Hasilnya? Jelaga atau soot menyumbat sistem pembuangan, memicu modifikasi ilegal seperti decat (melepas katalis) atau menonaktifkan EGR (Exhaust Gas Recirculation) demi mengejar performa. Ini adalah bencana lingkungan yang nyata.

Rekomendasi ITB untuk memasang DPF pada truk dan bus adalah solusi yang sangat bagus di atas kertas, namun implementasinya akan menjadi mimpi buruk jika kualitas solar di daerah belum diseragamkan. Memasang DPF pada mesin yang meminum solar berkualitas rendah justru akan merusak mesin itu sendiri karena penyumbatan yang cepat (clogging). Oleh karena itu, pemerintah harus membenahi hulu-nya terlebih dahulu: sediakan bahan bakar diesel standar Euro IV/V secara merata dengan harga yang rasional, baru kemudian terapkan sanksi tegas di hilir.

Di sisi lain, saya sangat setuju dengan pernyataan Pramono Anung. Menjadikan sektor transportasi sebagai satu-satunya kambing hitam adalah tindakan yang naif. Polusi udara adalah masalah makro. Kita bisa saja memaksa seluruh warga Jakarta memakai mobil listrik (EV), tetapi jika listrik yang digunakan untuk mengecas EV tersebut masih diproduksi oleh PLTU batu bara yang kotor di wilayah penyangga, kita hanya memindahkan cerobong polusi dari jalan raya ke area pemukiman di sekitar PLTU. Sinergi lintas wilayah dan ketegasan pemerintah pusat adalah kunci mutlak yang tidak bisa ditunda lagi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa emisi mesin diesel menghasilkan PM2.5 yang lebih tinggi dibanding mesin bensin?
A: Mesin diesel bekerja dengan prinsip kompresi tinggi di mana bahan bakar diinjeksikan langsung ke ruang bakar yang panas. Proses pembakaran heterogen ini sering kali tidak sempurna, menghasilkan partikel karbon padat (jelaga/soot) yang merupakan komponen utama dari PM2.5. Sementara mesin bensin menggunakan pembakaran homogen yang menghasilkan partikel jauh lebih sedikit.

Q: Apa itu Diesel Particulate Filter (DPF) dan bagaimana fungsinya?
A: DPF adalah komponen penyaring fisik yang dipasang pada sistem knalpot mesin diesel. Fungsinya adalah menangkap dan menyaring partikel jelaga (soot) berbahaya agar tidak terlepas ke udara bebas. Secara berkala, DPF akan melakukan proses 'regenerasi' dengan membakar jelaga yang menumpuk menjadi abu yang tidak berbahaya menggunakan suhu sangat tinggi.

Q: Apakah beralih ke kendaraan listrik (EV) akan langsung menyelesaikan masalah polusi di Jakarta?
A: Tidak sepenuhnya. Meskipun EV menghilangkan emisi gas buang secara instan di jalan raya Jakarta, polusi udara ibu kota juga sangat dipengaruhi oleh faktor regional, seperti emisi dari industri berat dan PLTU batu bara di wilayah penyangga (Banten dan Jawa Barat) yang terbawa angin masuk ke Jakarta.

BERITA TERKAIT (Otomotif)

Meow! Tanya Nesi!
😸