Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Menhan China Janji Bersama Indonesia Gagalkan Pengaruh Asing: Dampak Besar bagi Keamanan Asia

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Menhan China Janji Bersama Indonesia Gagalkan Pengaruh Asing: Dampak Besar bagi Keamanan Asia
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Menjabat Laksamana Dong Jun menegaskan komitmen Indonesia‑China untuk menolak intervensi kekuatan asing.
  • Pernyataan disampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin di Jakarta, menandai fase baru hubungan kedua negara.
  • Kerjasama diproyeksikan melalui model pertahanan baru bagi negara‑negara Global Selatan, sekaligus memperkuat stabilitas kawasan pasca‑Perang Dunia II.

Dalam kunjungan resmi ke Kantor Kementerian Pertahanan RI pada Jumat, 21 Agustus 2026, Laksamana Dong Jun, Menteri Pertahanan Republik Rakyat Tiongkok, menegaskan bahwa kedua negara akan bersama‑sama menggagalkan niat jahat dari kekuatan asing yang berusaha mengganggu tatanan internasional. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers bersama Menhan Sjafrie Sjamsoeddin.

Dong Jun menambahkan, “Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping dan Presiden Prabowo Subianto, hubungan Indonesia‑China berada pada titik awal yang baru. Kedua negara, sebagai komunitas senasib sepenanggungan, memiliki kepentingan bersama dalam menjaga keamanan dan pembangunan. Kita memikul tanggung jawab bersama, dan tepat saatnya untuk mempererat kerja sama pertahanan.”

Menurut Dong Jun, kerjasama ini akan menumpuk kekuatan positif untuk menjaga stabilitas kawasan, mencegah serta mengendalikan tindakan‑tindakan yang dapat merusak tatanan internasional yang terbentuk sejak berakhirnya Perang Dunia II pada 1945. Ia menekankan pentingnya model baru kerja sama pertahanan yang dapat dijadikan contoh bagi negara‑negara Global Selatan dalam menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Kunjungan Dong Jun ke Indonesia merupakan bagian dari rangkaian diplomasi militer yang mencakup Pertemuan 2+2 ke‑2 serta Bilateral Meeting RI‑RRT 2026. Ia tiba di Bali pada Kamis, 20 Agustus, dan disambut langsung oleh Menhan Sjafrie di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sebelum melanjutkan agenda ke Jakarta.

Analisis Pakar

Penegasan komitmen pertahanan bersama antara Indonesia dan China harus dipahami dalam konteks persaingan strategis yang melibatkan Amerika Serikat, Jepang, dan Australia di Indo‑Pasifik. Kedua negara berupaya menciptakan “model baru” yang menekankan kedaulatan nasional dan solidaritas Global Selatan, namun hal ini juga berpotensi menambah lapisan kompleksitas pada arsitektur keamanan regional. Sementara Indonesia secara tradisional mengedepankan non‑blok, peningkatan kedekatan militer dengan China dapat menimbulkan persepsi bahwa Jakarta bergerak lebih dekat ke lingkaran pengaruh Beijing.

Di sisi lain, pernyataan Dong Jun tentang “menggagalkan niat jahat” dari kekuatan asing mencerminkan narasi Beijing tentang keamanan kolektif yang menolak intervensi eksternal. Bagi Indonesia, ini menjadi peluang untuk memperkuat kapasitas pertahanan melalui transfer teknologi, latihan bersama, dan interoperabilitas sistem. Namun, transparansi dalam kerjasama tersebut menjadi krusial agar tidak menimbulkan ketegangan dengan sekutu tradisional seperti Amerika Serikat, yang telah lama menjadi mitra utama dalam bidang pertahanan.

Strategi China untuk memperluas jaringan pertahanan di kawasan melalui aliansi bilateral atau multilateral dengan negara‑negara Global Selatan dapat dilihat sebagai upaya menyeimbangkan dominasi militer Barat. Indonesia, dengan posisi geografis strategis dan ekonomi yang terus tumbuh, menjadi pionir dalam skenario ini. Keberhasilan atau kegagalan model kerjasama ini akan memberikan sinyal kuat tentang arah geopolitik Indo‑Pasifik dalam dekade berikutnya.

Terakhir, penting bagi pembuat kebijakan Indonesia untuk menjaga keseimbangan antara manfaat praktis dari kerjasama militer dengan China dan kebutuhan untuk tetap menjaga kebijakan luar negeri yang independen. Pengawasan parlemen, keterlibatan publik, dan dialog dengan mitra tradisional harus menjadi bagian integral dari proses pengambilan keputusan, guna menghindari potensi ketergantungan yang dapat mengurangi ruang manuver diplomatik Jakarta.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa tujuan utama kunjungan Laksamana Dong Jun ke Indonesia?
    A: Menguatkan kerja sama pertahanan dalam kerangka Pertemuan 2+2 dan menegaskan komitmen bersama untuk menolak intervensi asing.
  • Q: Bagaimana reaksi negara‑negara Barat terhadap peningkatan kerja sama militer Indonesia‑China?
    A: Secara umum, ada keprihatinan bahwa langkah ini dapat menggeser keseimbangan keamanan di Indo‑Pasifik, meskipun belum ada tindakan konkret.
  • Q: Apa implikasi bagi negara‑negara Global Selatan?
    A: Kerja sama ini dapat menjadi contoh model pertahanan yang lebih mandiri, namun juga menuntut mereka menilai risiko geopolitik yang muncul.
Meow! Tanya Nesi!
😸