Data Pajak 678 Ribu Warga Prancis Bocor! Hacker ZeroBytes Bongkar Sistem Keuangan Nasional
Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Ringkasan Singkat
- Hacker dengan alias ZeroBytes berhasil mencuri data pajak dan properti lebih dari 678.000 orang di Prancis.
- Data yang bocor meliputi pajak penghasilan, tarif keluarga, nama perusahaan, dan nomor SIREN, namun kredensial login tetap aman.
- Pemerintah Prancis menutup akses sistem Direktorat Jenderal Keuangan Publik dan bekerja sama dengan ANSSI serta CNIL untuk mitigasi.
Paris, 17 Agustus 2026 – Sebuah serangan siber besar-besaran menggegerkan dunia digital setelah ZeroBytes mengklaim berhasil menembus Direktorat Jenderal Keuangan Publik (DGFiP) milik Kementerian Keuangan Prancis. Pada 12 Agustus, peretas tersebut mempublikasikan sebagian besar database curian di forum PwnForums, memicu investigasi intensif oleh otoritas.
Menurut pernyataan resmi Kementerian Keuangan yang dikutip Bleeping Computer pada Senin (17/8), lebih dari 678.000 individu dan profesional terdampak. Data yang diakses meliputi informasi pajak penghasilan, rasio pajak keluarga, tarif pemungutan, nama perusahaan, serta nomor identifikasi SIREN. Penting untuk dicatat, username dan password tidak termasuk dalam kebocoran, sehingga akses akun tetap terkendali.
Selain data keuangan, ZeroBytes juga mengaku menembus Serveur Professionnel de Données Cadastrales (SPDC), portal nasional yang menyimpan catatan kepemilikan properti. Dari total 20 juta warga yang terdaftar, peretas hanya berhasil mengekstrak sekitar 252.000 catatan properti milik lebih dari 2 juta orang sebelum sistem mendeteksi anomali dan memutuskan aliran data.
Setelah kebocoran teridentifikasi, DGFiP segera menonaktifkan akses ke sistem sensitif dan melaporkan insiden ke Otoritas Perlindungan Data Prancis (CNIL). Kolaborasi dengan Badan Keamanan Siber Nasional (ANSSI) sedang berlangsung untuk menilai dampak penuh serta memperkuat pertahanan siber.
Kementerian berjanji akan menghubungi semua korban melalui email atau surat resmi, memberikan detail data yang terkompromi serta langkah-langkah mitigasi, termasuk rekomendasi pengawasan kredit dan perubahan kebijakan privasi.
Insiden ini menambah deretan serangkaian serangan siber terhadap institusi publik Prancis dalam setahun terakhir, termasuk pembobolan data France Travail (43 juta rekam), FICOBA (1,2 juta akun bank), dan France Titres (19 juta dokumen administratif). Kritik tajam muncul terhadap kecepatan respons pemerintah, yang dianggap lambat oleh komunitas keamanan siber.
Analisis Pakar
Serangan ini menegaskan bahwa infrastruktur keuangan publik masih menjadi target utama bagi grup peretas berkemampuan tinggi. Meskipun kredensial login tidak bocor, eksposur data pajak dan properti dapat dimanfaatkan untuk social engineering yang lebih canggih, seperti penipuan identitas atau pemerasan berbasis data finansial.
Dari sudut pandang cyber hygiene, kegagalan dalam segmentasi akses menjadi titik lemah kritis. Sistem DGFiP tampaknya menggabungkan data sensitif pajak dan properti dalam satu endpoint, memudahkan peretas untuk mengeskalasi privilegium setelah menembus satu lapisan. Praktik zero trust architecture dan enkripsi end‑to‑end pada data at‑rest seharusnya menjadi standar wajib, bukan opsional.
Kolaborasi antara DGFiP, ANSSI, dan CNIL merupakan langkah yang tepat, namun respons yang lebih proaktif diperlukan. Misalnya, penerapan bug bounty program khusus untuk layanan publik dapat mengidentifikasi kerentanan sebelum peretas mengeksploitasinya. Selain itu, audit keamanan berkala oleh pihak ketiga harus menjadi kewajiban regulasi.
Untuk para tech‑enthusiast, kasus ini menjadi pengingat pentingnya data minimization dan privacy‑by‑design. Pemerintah dan perusahaan harus meninjau kembali kebijakan retensi data, memastikan bahwa hanya informasi yang benar‑benar diperlukan yang disimpan, serta mengadopsi teknik tokenization untuk melindungi data sensitif. Jika tidak, kebocoran serupa akan terus mengancam kepercayaan publik terhadap layanan digital pemerintah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa saja data yang bocor dalam serangan ini?
A: Data pajak penghasilan, rasio pajak keluarga, tarif pemungutan, nama perusahaan, dan nomor SIREN. Data login (ID & password) tidak terkompromi. - Q: Bagaimana saya bisa mengetahui apakah data saya termasuk yang bocor?
A: Kementerian Keuangan Prancis akan mengirimkan email atau surat resmi kepada korban dengan detail data yang terpengaruh serta langkah pencegahan yang harus diambil. - Q: Apa yang harus saya lakukan untuk melindungi diri setelah kebocoran ini?
A: Pantau laporan kredit, gunakan layanan pemantauan identitas, periksa aktivitas keuangan secara rutin, dan ikuti rekomendasi keamanan yang diberikan oleh otoritas.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Riset NOAA Ungkap: Awan Tropis Mempercepat Pemanasan Global 71% Lebih Cepat dari Prediksi

Saham Intel Anjlok 29%, Investasi Pemerintah AS Rugi Rp 218 Triliun
China Catat Momen Historis: Volume Inferensi AI Melampaui Data Pelatihan
