Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Bukan Cuma Jual Balapan: Strategi ITDC Tebar Tax Holiday Demi Gaet Rp 9,7 Triliun ke Mandalika

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Bukan Cuma Jual Balapan: Strategi ITDC Tebar Tax Holiday Demi Gaet Rp 9,7 Triliun ke Mandalika
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat ITDC membidik total investasi hingga Rp 9,7 triliun untuk pengembangan ekosistem pariwisata terintegrasi di Mandalika.
  • Guna menarik minat investor global, ITDC menawarkan insentif fiskal berupa tax holiday , peningkatan infrastruktur, dan kesiapan SDM lokal.
  • Gelaran MotoGP 2026 diproyeksikan menjadi momentum besar dengan kehadiran pembalap lokal baru di kelas Moto2 dan Moto3 untuk mendongkrak kunjungan turis.

Ringkasan Singkat

  • ITDC membidik total investasi hingga Rp 9,7 triliun untuk pengembangan ekosistem pariwisata terintegrasi di Mandalika.
  • Guna menarik minat investor global, ITDC menawarkan insentif fiskal berupa tax holiday, peningkatan infrastruktur, dan kesiapan SDM lokal.
  • Gelaran MotoGP 2026 diproyeksikan menjadi momentum besar dengan kehadiran pembalap lokal baru di kelas Moto2 dan Moto3 untuk mendongkrak kunjungan turis.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pengelola kawasan pariwisata, ITDC (InJourney Tourism Development Corporation), tengah tancap gas untuk mengubah wajah Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tidak tanggung-tanggung, korporasi pelat merah ini membidik angka investasi fantastis sebesar Rp 6 triliun pada tahap awal, yang nantinya akan ditambah secara bertahap sebesar Rp 3,7 triliun. Fokus pengembangan ini akan berpusat di sekitar sirkuit MotoGP dan melebar ke seluruh ekosistem kawasan.

Plt Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menegaskan bahwa Mandalika tidak boleh hanya sekadar menjadi penarik arus lalu lintas wisatawan (traffic puller) sesaat. Target besarnya adalah menjadikannya sebagai instrumen nation branding yang kuat bagi Indonesia di kancah global. Untuk memuluskan ambisi tersebut, ITDC menawarkan berbagai pemanis investasi, mulai dari fasilitas tax holiday, peningkatan infrastruktur penunjang, hingga penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal yang kompetitif.

Momentum emas ini juga akan diakselerasi lewat gelaran MotoGP 2026. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, ajang balap motor paling bergengsi di dunia ini diproyeksikan bakal menghadirkan "new Indonesia heroes" yang akan berlaga di kelas Moto2 dan Moto3. Kehadiran pembalap lokal ini, ditambah dengan berbagai side event berskala internasional, diharapkan mampu mendongkrak kunjungan turis domestik maupun mancanegara secara signifikan.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat langkah ITDC menggelontorkan insentif fiskal seperti tax holiday untuk Mandalika adalah langkah klasik yang memang diperlukan, namun tidak boleh menjadi satu-satunya senjata. Menargetkan investasi total Rp 9,7 triliun di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini adalah tantangan yang sangat berat. Investor hari ini tidak hanya mencari keringanan pajak; mereka mencari kepastian hukum, kemudahan birokrasi, dan yang terpenting, jaminan tingkat pengembalian investasi (ROI) yang realistis dalam jangka panjang.

Mandalika memiliki tantangan struktural yang cukup pelik, yaitu masalah konektivitas dan biaya logistik yang tinggi jika dibandingkan dengan Bali. Insentif tax holiday hanya akan menarik jika ekosistem pendukungnya sudah matang. Jika infrastruktur dasar dan aksesibilitas udara ke NTB masih mahal dan terbatas, maka insentif pajak tersebut akan kehilangan taringnya. ITDC harus mampu mengintegrasikan Mandalika dengan jaringan pariwisata regional secara lebih efisien agar investor melihat adanya aliran pasar (market flow) yang konsisten, bukan sekadar musiman.

Selain itu, ketergantungan pada event besar seperti MotoGP sebagai traffic puller utama memiliki risiko tinggi (high-risk, high-cost). MotoGP memang luar biasa untuk nation branding, namun dampaknya sering kali bersifat temporer—hanya ramai selama satu pekan dalam setahun. Tantangan terbesar ITDC adalah bagaimana menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan di luar kalender balapan. Pengembangan sport tourism, MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), dan pariwisata berbasis komunitas lokal harus digenjot agar investasi Rp 9,7 triliun tersebut tidak menjadi aset mangkrak (idle asset) di sisa hari dalam setahun.

Terakhir, fokus pada penyiapan SDM lokal adalah kunci krusial yang sering terabaikan dalam proyek megah seperti ini. Jika masyarakat lokal hanya menjadi penonton atau pekerja kasar berupah rendah, maka akan timbul ketimpangan sosial yang justru merusak iklim investasi itu sendiri. Transformasi Mandalika harus mampu menciptakan multiplier effect yang inklusif, di mana pertumbuhan ekonomi kawasan berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal di Nusa Tenggara Barat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Berapa target investasi yang dibidik ITDC untuk kawasan Mandalika?
A: ITDC menargetkan investasi awal sebesar Rp 6 triliun, yang kemudian akan ditambah secara bertahap sekitar Rp 3,7 triliun, sehingga total keseluruhan proyeksi mencapai Rp 9,7 triliun.

Q: Apa saja insentif yang ditawarkan ITDC untuk menarik minat investor?
A: ITDC menawarkan berbagai kemudahan, termasuk fasilitas libur pajak (tax holiday), peningkatan infrastruktur kawasan, serta jaminan kesiapan SDM lokal yang terampil.

Q: Bagaimana strategi ITDC memanfaatkan MotoGP 2026 untuk pariwisata?
A: Selain menggelar balapan utama, ITDC akan menghadirkan pembalap lokal baru ("new Indonesia heroes") di kelas Moto2 dan Moto3, serta menyelenggarakan berbagai acara pendukung (side events) untuk menarik turis domestik dan asing.

Meow! Tanya Nesi!
😸