Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ratusan Senjata Tersembunyi di Sekolah Jakarta Selatan: Investigasi Polisi Ungkap Kolusi Perusahaan‑Yayasan

KriminalSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ratusan Senjata Tersembunyi di Sekolah Jakarta Selatan: Investigasi Polisi Ungkap Kolusi Perusahaan‑Yayasan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Polisi menginterogasi 13 saksi, termasuk pejabat PT Lokta Karya Perbakin dan Yayasan Harapan Ibu, terkait penemuan 995 airsoft gun dan satu senjata api di sebuah sekolah swasta Jakarta Selatan.
  • Penyelidikan berfokus pada asal‑usul, perizinan, dan mekanisme penyimpanan senjata, serta dugaan bahwa barang tersebut dipakai untuk ekstrakurikuler menembak.
  • Klaim bahwa senjata berasal dari kerja sama olahraga menembak masih dipertanyakan, sementara kepemilikan senjata api terhubung pada almarhum direktur PT Lokta.

Polisi Metro Jakarta Selatan memperluas penyelidikan setelah menemukan ratusan senjata, termasuk 995 airsoft gun dan satu senjata api jenis Franchi SPAS‑15 kaliber 12 gauge, di sebuah sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama. Menurut Kombes Budi Hermanto, Kabid Humas Polri, hingga kini 13 saksi telah dipanggil, meliputi tiga anggota Polres Metro Jakarta Selatan, perwakilan yayasan, serta dua karyawan PT Lokta yang memegang izin impor.

Di antara saksi, disebutkan ketua pengurus yayasan periode 2025‑2026, IWD, serta Direktur Utama PT Lokta, Alhadid Endar Putra (AHE). Mereka diminta menjelaskan perjanjian kerja sama (PKS) yang menghubungkan yayasan dengan perusahaan, yang menurut pihak berwenang menjadi jalur masuk senjata ke lingkungan sekolah. "Kami masih menelusuri apakah PKS tersebut pernah ditandatangani, dilaksanakan, atau hanya sekadar dokumen formal," ujar Budi.

Direktur PT Lokta, Alhadid Endar Putra, awalnya mengklaim bahwa senjata tersebut diperuntukkan bagi ekstrakurikuler menembak air rifle. Namun, penyidik belum menemukan bukti konkret bahwa program tersebut pernah dijalankan. "Ada dokumen yang diserahkan, tapi belum jelas apakah itu sudah menjadi kegiatan resmi atau masih dalam tahap perencanaan," tambah Budi.

Penyelidikan kini memusatkan perhatian pada tiga aspek krusial: asal‑usul kepemilikan, legalitas perizinan, dan prosedur penyimpanan. Pihak berwenang juga menelusuri jejak senjata api yang diduga milik seorang direktur PT Lokta berinisial DS, yang ternyata telah meninggal dunia. Subdit Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak (Wasendak) Ditintelkam Polda Metro Jaya mengonfirmasi hal ini, menambah lapisan misteri dalam kasus yang sudah menimbulkan keprihatinan publik.

Analisis Pakar

Kasus ini mengungkap celah serius dalam regulasi dan pengawasan senjata non‑letal di Indonesia. Meskipun airsoft gun secara teknis tidak termasuk senjata api, keberadaannya dalam jumlah besar di lingkungan pendidikan menimbulkan risiko penyalahgunaan dan menodai netralitas ruang belajar. Kerjasama antara PT Lokta Karya Perbakin dan Yayasan Harapan Ibu tampaknya memanfaatkan celah legal untuk mengimpor dan menyalurkan barang‑barang tersebut tanpa pengawasan ketat.

Selanjutnya, peran Jakarta Selatan sebagai lokasi kejadian menambah beban pada aparat daerah yang sudah berjuang mengatasi masalah keamanan sekolah. Pemerintah daerah harus segera meninjau kembali kebijakan izin ekstrakurikuler yang melibatkan peralatan berpotensi berbahaya, serta memperketat audit terhadap perusahaan yang bergerak di bidang olahraga menembak.

Di tingkat nasional, kasus ini menuntut revisi kebijakan perizinan senjata, termasuk airsoft. Saat ini, perizinan masih bergantung pada dokumen yang mudah dimanipulasi, sehingga membuka peluang bagi pihak‑pihak yang tidak bertanggung jawab. Penegakan hukum yang tegas dan transparan akan menjadi sinyal kuat bahwa negara tidak toleran terhadap praktik semacam ini.

Akhirnya, kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan dan keamanan negara berada di ujung tanduk. Jika penyelidikan mengungkap adanya kelalaian atau korupsi dalam proses perizinan, maka konsekuensi hukum harus dijatuhkan tidak hanya pada pelaku langsung, tetapi juga pada pejabat yang mengawasi dan memberi lampu hijau. Hanya dengan akuntabilitas menyeluruh, kepercayaan masyarakat dapat dipulihkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa banyak senjata yang ditemukan di sekolah tersebut?
    A: Sebanyak 995 airsoft gun dan satu senjata api Franchi SPAS‑15 kaliber 12 gauge.
  • Q: Siapa yang bertanggung jawab atas perjanjian kerja sama antara yayasan dan perusahaan?
    A: Ketua pengurus Yayasan Harapan Ibu (IWD) dan Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin (Alhadid Endar Putra) terlibat dalam perjanjian tersebut.
  • Q: Apakah senjata tersebut memang untuk kegiatan ekstrakurikuler?
    A: Klaim tersebut masih dalam penyelidikan; belum ada bukti bahwa program menembak air rifle pernah dijalankan secara resmi.

BERITA TERKAIT (Kriminal)

Meow! Tanya Nesi!
😸