Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Misi Kushner ke Timur Tengah Gagal Buka Jalan Damai Gaza: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Misi Kushner ke Timur Tengah Gagal Buka Jalan Damai Gaza: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Jared Kushner menghabiskan dua hari bertemu Benjamin Netanyahu dan perwakilan Hamas di Israel dan Mesir, namun kembali tanpa kesepakatan konkret.
  • Perbedaan utama tetap pada urutan penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas, yang menghambat rencana 15‑poin yang didukung mantan Presiden AS.
  • Ketegangan politik di Israel menjelang pemilu 27 Oktober memperkecil peluang kompromi, sementara korban sipil terus bertambah di Gaza.

Utusan khusus Presiden Amerika Serikat, Jared Kushner, kembali ke Israel pada Senin setelah pertemuan intensif dengan Benjamin Netanyahu di Yerusalem dan delegasi Hamas yang dipimpin Khalil Al‑Hayya di Mesir. Misi tersebut dimaksudkan untuk menghidupkan kembali rencana perdamaian 15 poin yang sebelumnya disetujui oleh mantan Presiden Donald Trump, namun hasilnya masih jauh dari harapan.

Kushner menggambarkan pertemuan empat jam dengan Netanyahu sebagai "baik" dan menyatakan bahwa perwakilan Hamas menyampaikan "semua hal yang tepat". Ia menambahkan kepada koresponden Fox News, Trey Yingst, bahwa ada harapan untuk melihat "penurunan senjata dalam 30 hari" serta "penutupan sebagian terowongan dalam 60‑90 hari ke depan". Namun, pernyataan tersebut belum diikuti oleh langkah konkret di lapangan.

Inti kebuntuan terletak pada tuntutan yang saling eksklusif. Hamas menuntut penarikan total pasukan Israel dari Gaza dan penghentian serangan sebelum melucuti senjata. Sebaliknya, Netanyahu menegaskan bahwa pelucutan senjata Hamas harus terjadi terlebih dahulu sebelum Israel dapat menarik pasukannya. Kedua belah pihak juga berselisih mengenai urutan pelaksanaan rencana rekonstruksi: Israel menolak memulai pembangunan kembali sampai Gaza dinonmiliterisasi.

Pejabat Dewan Perdamaian Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membatasi hak Israel untuk membela diri bila ada ancaman nyata, termasuk penggunaan senjata ringan, berat, dan penutupan terowongan. Sementara itu, pejabat Israel melaporkan bahwa Hamas telah berkomitmen untuk menghentikan semua aktivitas militer, termasuk penggalian terowongan, namun belum ada verifikasi independen.

Konflik yang telah menewaskan lebih dari 1.200 warga Palestina dan empat tentara Israel sejak Oktober 2023 terus menambah tekanan kemanusiaan. Kedua pemimpin sepakat membentuk dua kelompok kerja: satu untuk perlucutan senjata, dan satu lagi untuk menangani sanitasi, air bersih, serta masalah kesehatan masyarakat di Gaza. Namun, tanpa kesepakatan tentang urutan langkah, prospek gencatan senjata masih jauh.

Analisis Pakar

Secara geopolitik, misi Kushner menyoroti keterbatasan diplomasi pribadi dalam konflik yang dipolitisasi secara domestik. Netanyahu, yang tengah menghadapi pemilihan ulang pada 27 Oktober, berada di bawah tekanan keras dari koalisi kanan yang menuntut kebijakan keamanan yang tegas. Oleh karena itu, ia cenderung menolak penarikan pasukan sebelum Hamas dinonmiliterisasi, meski hal ini memperpanjang penderitaan sipil.

Di sisi lain, Hamas memanfaatkan posisi tawar mereka dengan menuntut gencatan senjata sebagai prasyarat utama. Permintaan ini mencerminkan strategi bertahan yang mengandalkan tekanan internasional untuk memaksa Israel bernegosiasi. Namun, tanpa jaminan keamanan yang memadai, permintaan tersebut sulit dipenuhi oleh pihak yang masih menganggap Hamas sebagai ancaman eksistensial.

Peran Amerika Serikat melalui Kushner tampak lebih simbolis daripada substantif. Meskipun ia membawa agenda Trump, tidak ada mekanisme yang kuat untuk menegakkan kepatuhan, terutama ketika kepentingan nasional Israel dan dinamika politik domestik Israel berbenturan. Hal ini menegaskan kembali bahwa solusi jangka panjang memerlukan kerangka multilateral yang melibatkan PBB, Uni Eropa, dan negara-negara Arab, bukan sekadar inisiatif satu tokoh.

Ke depan, skenario yang paling realistis adalah stagnasi diplomatik yang berlanjut hingga ada perubahan signifikan dalam kalkulasi politik di dalam Israel atau tekanan internasional yang lebih intensif. Tanpa itu, warga sipil di Gaza akan terus menanggung beban konflik yang tak berkesudahan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa yang menjadi penyebab utama kegagalan pertemuan Kushner dengan Netanyahu dan Hamas?
    A: Perbedaan fundamental tentang urutan penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas membuat kedua belah pihak tidak dapat mencapai kesepakatan.
  • Q: Bagaimana pemilu Israel pada 27 Oktober memengaruhi proses perdamaian?
    A: Kandidat yang menekankan keamanan keras, termasuk Netanyahu, cenderung menolak konsesi besar, sehingga mengurangi peluang kompromi sebelum pemilu.
  • Q: Apakah ada mekanisme internasional yang dapat menegakkan rencana 15 poin Trump?
    A: Saat ini tidak ada; implementasinya bergantung pada kesediaan pihak-pihak terkait, terutama Israel dan Hamas, serta dukungan kuat dari komunitas internasional.
Meow! Tanya Nesi!
😸