Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Dua Prajurit Turunkan Bendera Bulan Bintang di Aceh, Naik Pangkat Luar Biasa: Kontroversi Simbol Nasional Memanas

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Dua Prajurit Turunkan Bendera Bulan Bintang di Aceh, Naik Pangkat Luar Biasa: Kontroversi Simbol Nasional Memanas
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Serda Irfan Farhan dan Prada Donni Pinto Harahap diberi Kenaikan Pangkat Luar Biasa oleh PanglimaTNI setelah menurunkan bendera Bulan Bintang di MasjidRayaBaiturrahman, Banda Aceh.
  • Insiden terjadi saat peringatan HariDamaiAceh ke-21, memicu bentrokan antara massa dan aparat keamanan.
  • Pemberian penghargaan dipandang sebagai sinyal politik militer, menimbulkan pertanyaan tentang kebebasan berpendapat dan penggunaan simbol negara.

Berita Utama

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto pada Kamis (20/8) di Mabes TNI, Cilangkap, menurunkan KenaikanPangkatLuarBiasa kepada Sersan Dua (Serda) Irfan Farhan, Yonif 112/DJ Kodam I/M, dan Prajurit Dua (Prada) Donni Pinto Harahap, Yonarmed 17/RC Kodam I/M. Kedua prajurit dipuji karena menurunkan bendera Bulan Bintang dan mengibarkan Bendera Merah Putih di halaman MasjidRayaBaiturrahman pada 15 Agustus lalu.

Menurut Kapuspen TNI Mayjen Muhammad Nas, tindakan itu mencerminkan “keberanian, loyalitas, dan semangat pengabdian dalam menjaga kehormatan Merah Putih”. Ia menegaskan bahwa penghargaan ini merupakan “program reward” resmi bagi prajurit yang berprestasi.

Insiden semula dimulai ketika sekelompok massa mengibarkan bendera Bulan Bintang di tiang utama masjid saat zikir dan doa bersama memperingati HariDamaiAceh ke-21. Aparat keamanan telah meminta agar bendera tersebut tidak dikibarkan, namun perintah itu diabaikan. Ketegangan memuncak, berujung pada aksi lempar‑lemparan antara massa dan aparat, yang akhirnya dibubarkan polisi dengan gas air mata.

Penghargaan naik pangkat tersebut menimbulkan perdebatan publik. Sebagian menganggapnya sebagai pengakuan sah atas keberanian mempertahankan simbol negara, sementara yang lain menilai langkah ini sebagai upaya militer menegaskan kontrol atas simbol‑simbol politik di ruang publik.

Analisis Pakar

Penetapan Kenaikan Pangkat Luar Biasa dalam konteks ini bukan sekadar penghargaan militer biasa. Ia mengirimkan pesan kuat bahwa simbol negara – dalam hal ini Merah Putih – harus dijaga dengan tangan besi, bahkan bila hal itu berpotensi menyinggung kelompok yang mengusung identitas berbeda. Dari sudut pandang sosiopolitik, tindakan ini memperkuat narasi militer sebagai penjaga utama persatuan, sekaligus menyingkirkan ruang bagi dialog terbuka tentang pluralisme simbolik di Aceh yang memiliki sejarah konflik dan perjanjian damai.

Namun, keberanian yang dipuji sekaligus dijadikan bahan propaganda ini menimbulkan dilema etis. Apakah menurunkan bendera Bulan Bintang di sebuah tempat ibadah merupakan tindakan heroik atau provokasi yang mengancam ketertiban umum? Pemerintah daerah dan lembaga keagamaan tampaknya tidak diberi ruang untuk menanggapi secara resmi, sehingga publikasi keputusan TNI menjadi satu‑satunya narasi yang dominan.

Selanjutnya, penggunaan penghargaan militer sebagai “reward” dapat dilihat sebagai upaya memperkuat loyalitas internal TNI, terutama menjelang pemilihan umum dan dinamika politik nasional. Dengan menonjolkan contoh konkret, pimpinan militer berusaha menanamkan standar keberanian yang selaras dengan kepatuhan pada perintah tertinggi, sekaligus menegaskan batas toleransi terhadap simbol‑simbol yang dianggap menentang ideologi negara.

Terlepas dari niat baik yang diutarakan, langkah ini berisiko menambah polarisasi. Masyarakat Aceh, yang selama ini berusaha menyeimbangkan identitas lokal dengan identitas nasional, kini dihadapkan pada pertanyaan: apakah simbol kebangsaan dapat dipertahankan tanpa mengorbankan kebebasan berpendapat? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan sejauh mana militer dapat berperan dalam urusan sipil tanpa menimbulkan gesekan yang lebih dalam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa prajurit diberikan kenaikan pangkat setelah menurunkan bendera Bulan Bintang?
    A: Mereka dianggap telah menunjukkan keberanian melindungi simbol negara (Merah Putih) dan menegakkan disiplin militer dalam situasi publik.
  • Q: Apa konsekuensi hukum bagi massa yang mengibarkan bendera Bulan Bintang di Masjid Raya Baiturrahman?
    A: Hingga kini tidak ada proses hukum resmi; aparat hanya membubarkan massa dengan gas air mata.
  • Q: Apakah penghargaan ini menandakan adanya kebijakan baru TNI terkait simbol politik?
    A: Tidak ada kebijakan tertulis, namun insiden ini memberi sinyal bahwa TNI akan lebih aktif menegakkan standar simbol kebangsaan di ruang publik.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸