Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Berjudi dengan Langit: Pramono Anung Paksa Modifikasi Cuaca Jakarta Meski Tanpa Jaminan Sukses

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Berjudi dengan Langit: Pramono Anung Paksa Modifikasi Cuaca Jakarta Meski Tanpa Jaminan Sukses
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menginstruksikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Jumat (21/8) memanfaatkan prediksi kemunculan awan hujan.
  • Pramono mengakui secara terbuka bahwa teknologi ini tidak menjamin turunnya hujan, berkaca dari serangkaian kegagalan operasi serupa sebelumnya.
  • Kebijakan spekulatif ini memicu kritik terkait efisiensi anggaran daerah dan ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi akar masalah ekologis Jakarta.

Ringkasan Singkat

  • Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menginstruksikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Jumat (21/8) memanfaatkan prediksi kemunculan awan hujan.
  • Pramono mengakui secara terbuka bahwa teknologi ini tidak menjamin turunnya hujan, berkaca dari serangkaian kegagalan operasi serupa sebelumnya.
  • Kebijakan spekulatif ini memicu kritik terkait efisiensi anggaran daerah dan ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi akar masalah ekologis Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memilih jalur spekulatif dalam mengatasi persoalan lingkungan di ibu kota. Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi memerintahkan jajarannya untuk menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Jumat (21/8). Langkah ini diambil menyusul adanya laporan prakiraan cuaca yang mendeteksi keberadaan awan potensial di langit Jakarta.

Namun, di balik instruksi tersebut, terselip nada pesimisme yang cukup mengkhawatirkan dari sang pemimpin daerah. Pramono secara terbuka mengakui bahwa teknologi penyemaian awan ini tidak memberikan garansi mutlak akan turunnya hujan. Ia membeberkan bahwa Pemprov DKI telah berulang kali melakukan uji coba serupa, namun berakhir dengan kegagalan tanpa setetes air pun yang membasahi bumi.

"Kalau diterbangkan apakah terjadi hujan atau enggak, itu pun belum jaminan. Kami sudah berkali-kali juga menerbangkan, enggak ada hujan. Bahwa hujan itu ciptaan Tuhan, ya, pasti saya setuju," ujar Pramono saat memberikan keterangan di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (20/8).

Meski menyadari rekam jejak kegagalan tersebut, politisi senior ini bersikeras bahwa intervensi teknologi harus tetap dilakukan ketimbang tidak berbuat apa-apa. Rencananya, armada penyemai akan menaburkan garam atau zat pemicu lainnya pada awan gerimis yang diprediksi muncul, dengan harapan intensitas hujan bisa meningkat demi membawa manfaat bagi warga Jakarta. Kendati demikian, Pramono juga mewanti-wanti jajarannya agar modifikasi cuaca ini tidak justru berbalik menjadi petaka banjir bagi ibu kota.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah mengawal kebijakan publik selama puluhan tahun, saya melihat keputusan Pramono Anung ini sebagai bentuk nyata dari "illusion of action"—sebuah ilusi tindakan yang sengaja diciptakan pemerintah agar terlihat bekerja keras di mata publik, meskipun efektivitasnya sangat meragukan. Menggelar operasi teknologi tinggi yang mahal tanpa adanya jaminan hasil adalah bentuk perjudian anggaran yang tidak bertanggung jawab.

Setiap penerbangan dalam Operasi Modifikasi Cuaca memakan biaya operasional yang tidak sedikit, mulai dari bahan bakar pesawat, penyediaan bahan semai, hingga insentif personel. Ketika kepala daerah sendiri mengakui bahwa operasi ini berkali-kali gagal, maka patut dipertanyakan di mana letak akuntabilitas publiknya? Kebijakan berbasis coba-coba (trial and error) seperti ini seharusnya tidak lagi menjadi standar kerja pemerintahan modern yang mengedepankan prinsip berbasis data dan efisiensi anggaran.

Lebih jauh lagi, ketergantungan pada hujan buatan untuk menyelesaikan masalah akut Jakarta—seperti polusi udara ekstrem dan kekeringan—menunjukkan kemalasan struktural dalam berpikir. Hujan hanyalah solusi kosmetik sementara yang menyapu polutan sesaat, bukan solusi jangka panjang yang menghentikan emisi dari sumbernya, seperti PLTU batu bara dan transportasi kotor. Menggunakan dalih "hujan adalah ciptaan Tuhan" setelah kegagalan OMC adalah retorika defensif yang tidak layak keluar dari mulut seorang pejabat publik.

Terakhir, kekhawatiran Pramono akan terjadinya banjir akibat modifikasi cuaca ini justru menelanjangi rapuhnya infrastruktur Jakarta. Kota ini terjebak dalam paradoks ekologis yang menyedihkan: di satu sisi megap-megap kekurangan air bersih dan udara segar, namun di sisi lain langsung lumpuh terendam banjir jika hujan turun sedikit lebih deras. Pemerintah DKI Jakarta seharusnya fokus membenahi tata ruang dan drainase kota secara radikal, bukan malah sibuk bermain-main dengan awan di langit.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa tujuan utama Pemprov DKI Jakarta melakukan modifikasi cuaca pada Jumat (21/8)?
A: Tujuan utamanya adalah memicu hujan deras dari awan potensial yang terdeteksi, guna membantu membersihkan polusi udara dan mengatasi kekeringan di wilayah Jakarta.

Q: Mengapa kebijakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ini menuai kritik?
A: Kebijakan ini dikritik karena dinilai tidak efisien secara anggaran, tidak memiliki jaminan keberhasilan (sering gagal), dan hanya menjadi solusi sementara tanpa menyentuh akar masalah lingkungan di Jakarta.

Q: Apa risiko terbesar dari modifikasi cuaca yang dikhawatirkan oleh pemerintah sendiri?
A: Risiko terbesarnya adalah potensi terjadinya banjir di wilayah Jakarta jika curah hujan yang dihasilkan terlalu ekstrem, mengingat buruknya sistem drainase dan tata kelola air di ibu kota.

Meow! Tanya Nesi!
😸