Plt Bupati Pati Salah Baca Sila Kedua Pancasila di Upacara HUT RI, Minta Maaf dan Dikecam Netizen
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Plt Bupati Pati, Plt Bupati Pati, keliru melafalkan sila kedua Pancasila saat upacara Hari Kemerdekaan ke‑81.
- Kesalahan itu terekam video, memicu viral di media sosial dan menimbulkan protes dari peserta upacara.
- Chandra mengajukan permohonan maaf, menyebutkan kelelahan dan kondisi fisik sebagai alasan, namun kritik publik tetap menganggapnya tidak dapat diterima.
Ketika Alun-alun Kabupaten Pati dipenuhi sorak sorai menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke‑81, Risma Ardhi Chandra, yang menjabat sebagai Plt Bupati Pati, melakukan sebuah kealpaan yang tak termaafkan: ia melafalkan sila kedua Pancasila secara keliru. Alih‑alih mengucapkan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, ia menyebutkan “keadilan yang adil dan beradab”.
Video yang kemudian menyebar luas di platform media sosial menampilkan momen canggung ketika peserta upacara tak dapat menyamakan suara dengan teks yang dibacakan. Kesalahan itu tidak hanya mengganggu ritme upacara, tetapi juga menyinggung nilai‑nilai dasar negara yang seharusnya dijunjung tinggi pada hari bersejarah tersebut.
Dalam konferensi pers singkat, Chandra mengklaim bahwa rangkaian acara yang “padat sampai larut malam” membuatnya “kurang enak badan” dan “keringat dingin” pada pagi hari upacara. Ia menambahkan, “Saya tidak sengaja, kondisi fisik memang tidak memungkinkan.” Pernyataan ini, meski bersifat pribadi, tidak menghilangkan tanggung jawab seorang pejabat publik untuk menjaga ketelitian dalam menyampaikan simbol‑simbol kenegaraan.
Sejumlah pihak menilai permintaan maaf yang disampaikan lewat media tidak cukup. Mereka menuntut adanya evaluasi prosedural bagi pejabat yang memegang peran penting dalam upacara kenegaraan, termasuk pelatihan retorika dan kesehatan sebelum bertugas. Kritik ini menyoroti lemahnya kontrol internal di tingkat pemerintahan daerah, yang seharusnya mencegah insiden serupa.
Analisis Pakar
Menurut saya, Budi Santoso, jurnalis senior investigasi, insiden ini mengungkap kegagalan struktural dalam manajemen acara kenegaraan di tingkat daerah. Ketika seorang Plt Bupati Pati menjadi inspektur upacara, ia tidak hanya mewakili pemerintah kabupaten, melainkan juga menegaskan komitmen bangsa terhadap nilai‑nilai Pancasila. Kesalahan pengucapan sila kedua bukan sekadar “lupa kata”, melainkan pelanggaran simbolik yang menodai integritas upacara.
Faktor kelelahan fisik yang diklaim oleh Chandra memang dapat memengaruhi konsentrasi, namun hal ini seharusnya diantisipasi melalui penjadwalan yang realistis dan pemeriksaan kesehatan sebelum bertugas. Pemerintah daerah wajib menyiapkan cadangan atau tim pendukung yang dapat mengambil alih bila pejabat utama tidak dalam kondisi prima. Tanpa itu, risiko kesalahan publik meningkat, seperti yang kini terlihat.
Lebih jauh, respons cepat media sosial menandakan tingginya sensitivitas masyarakat terhadap simbol negara. Di era digital, setiap slip of the tongue dapat menjadi viral dalam hitungan menit, menambah beban moral bagi pejabat publik. Oleh karena itu, pelatihan retorika, penguasaan teks kenegaraan, dan simulasi upacara harus menjadi standar wajib bagi semua pejabat yang terlibat.
Terakhir, permintaan maaf yang bersifat pribadi tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan publik. Pemerintah Kabupaten Pati perlu mengeluarkan pernyataan resmi yang menyertakan langkah konkret: audit prosedur upacara, peninjauan kembali jadwal kegiatan, serta program kesehatan bagi pejabat. Tanpa tindakan nyata, insiden ini akan tetap menjadi contoh buruk bagi tata kelola kenegaraan di tingkat daerah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa yang sebenarnya dibacakan oleh Plt Bupati Pati saat salah mengucapkan sila kedua Pancasila?
A: Ia menyebutkan “keadilan yang adil dan beradab” alih‑alih “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. - Q: Mengapa kesalahan ini menjadi viral di media sosial?
A: Karena upacara HUT RI melibatkan simbol nasional, dan video yang menunjukkan ketidaksesuaian teks memicu reaksi emosional serta penyebaran cepat di platform digital. - Q: Apa langkah yang diambil pemerintah Kabupaten Pati setelah insiden ini?
A: Hingga kini, pemerintah hanya mengeluarkan permohonan maaf; belum ada pengumuman resmi mengenai evaluasi prosedur atau tindakan korektif lainnya.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Bank Neo Commerce Raih Laba Bersih Rp430,98 Miliar, Kualitas Aset Terus Memperbaik

Mengapa Kita Sering Merasa Ditinggalkan: Memahami Fenomena Psikologis 'Liking Gap'

Wamen LH Desak Pemkot Pekalongan Tutup TPA Degayu Usai Kebakaran Berulang
