Persetujuan Trump Merosot ke Titik Terendah: Dampak Konflik Iran dan Krisis Energi Mengguncang Politik AS

Ringkasan Singkat
- Survei Reuters‑Ipsos mencatat persetujuan Donald Trump hanya 33%, terendah sejak ia pertama kali menjabat.
- Konflik berkelanjutan antara AS‑Iran dan Israel meningkatkan ketidaksetujuan publik, terutama karena kenaikan harga energi.
- Partai Republican Party menghadapi tekanan internal menjelang pemilihan 2026, sementara Demokrat diprediksi kuat kembali menguasai Kongres.
Survei gabungan yang dilakukan oleh Reuters dan Ipsos antara Jumat 3 Agustus dan Senin 6 Agustus melibatkan 1.166 responden di seluruh Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya 33 persen warga menyetujui kinerja Presiden Donald Trump, sementara 64 persen menolak. Angka persetujuan ini turun dua poin persentase dibandingkan survei sebelumnya dan menandai titik terendah selama masa jabatan kedua Trump, menyamai catatan terendah pada Desember 2017.
Penurunan ini terjadi dalam konteks ketegangan geopolitik yang meningkat. Beberapa hari sebelum Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan operasi militer melawan Iran, tingkat ketidaksetujuan publik terhadap presiden mencapai 58 persen. Konflik tersebut memperparah gangguan pada jalur perdagangan minyak melalui Selat Hormuz, memicu lonjakan harga bensin di dalam negeri.
Menurut data inflasi energi, harga energi naik 14,7 persen secara tahunan pada bulan Juli, dengan puncak inflasi tahunan mencapai 23,5 persen pada Mei. Presiden Trump membela kebijakan tersebut, menyatakan bahwa warga Amerika harus “membayar sedikit lebih mahal” untuk memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
Survei juga mengungkapkan persepsi publik tentang durasi konflik di Timur Tengah: delapan dari sepuluh responden memperkirakan perang akan berlanjut lama, termasuk 71 persen pemilih Republican Party, 80 persen independen, dan 87 persen pemilih Demokrat. Di sisi lain, partai sayap kanan menghadapi dilema antara mendukung kebijakan luar negeri yang agresif dan mengatasi dampak ekonomi domestik yang semakin terasa.
Analisis Pakar
Penurunan tajam dalam persetujuan Presiden Donald Trump mencerminkan kombinasi faktor struktural dan situasional. Secara struktural, kepemimpinan Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025 dengan basis pendukung yang kuat namun terpolarisasi. Namun, kebijakan luar negeri yang berisiko tinggi—terutama konfrontasi dengan Iran—telah menimbulkan biaya ekonomi yang dirasakan langsung oleh konsumen, terutama melalui kenaikan harga bensin. Dalam demokrasi yang sangat sensitif terhadap inflasi, hal ini secara alami menggerakkan opini publik ke arah skeptisisme.
Selanjutnya, dinamika internal Republican Party menambah kompleksitas. Kemenangan kandidat sayap kiri dalam pemilihan pendahuluan baru-baru ini memicu tudingan “sosialisasi” dalam partai, memaksa elit konservatif untuk menegaskan kembali agenda fiskal dan keamanan nasional. Namun, strategi ini berisiko memperdalam perpecahan antara sayap moderat dan radikal, yang pada gilirannya dapat mengurangi koherensi kebijakan dan menurunkan kepercayaan publik.
Dari perspektif ekonomi, lonjakan inflasi energi tidak hanya menekan daya beli rumah tangga, tetapi juga menambah tekanan pada sektor manufaktur yang bergantung pada energi murah. Jika konflik di Timur Tengah berlanjut, risiko gangguan suplai energi akan tetap tinggi, memperpanjang siklus inflasi dan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan moneter Federal Reserve yang harus menyeimbangkan antara menahan inflasi dan mendukung pertumbuhan akan menjadi semakin sulit.
Terakhir, prospek politik menjelang pemilihan 2026 menunjukkan bahwa Demokrat memiliki peluang signifikan untuk merebut kembali mayoritas di DPR (66%) dan meningkatkan peluang di Senat (45%). Kelemahan Trump dalam hal persetujuan publik, dipadukan dengan beban ekonomi yang meningkat, dapat menjadi katalis bagi pergeseran aliansi pemilih, terutama di wilayah swing states. Bagi Republican Party, tantangannya adalah mengkonsolidasikan basis tanpa mengorbankan pemilih moderat yang sensitif terhadap isu ekonomi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa persetujuan Donald Trump turun ke 33%?
- A: Penurunan dipengaruhi oleh konflik militer dengan Iran, kenaikan harga energi, dan persepsi publik bahwa kebijakan luar negeri menambah beban ekonomi rumah tangga.
- Q: Bagaimana konflik di Timur Tengah memengaruhi ekonomi Amerika?
- A: Gangguan pada jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz meningkatkan harga minyak global, yang pada gilirannya memicu inflasi energi domestik dan menurunkan daya beli konsumen.
- Q: Apa implikasi hasil survei ini bagi Republican Party menjelang pemilihan 2026?
- A: Partai harus menyeimbangkan dukungan terhadap kebijakan keamanan nasional yang agresif dengan kebutuhan untuk mengatasi kekhawatiran ekonomi pemilih moderat, agar tidak kehilangan kursi penting di Kongres.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Eisenkot Bongkar Ambisi Netanyahu Giring Pemilu Ulang, Qatar Bantah Tuduhan Campur Tangan

Hasil Pemilu Israel: Survei Ditolak, Partai Arab Dipertanyakan Asing

Suhu Politik Global Memanas: Iran Siaga, Sorotan Dampak Pemilu Israel-AS dan Isu Elektoral India
