Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Menakar Taji Kemendagri di Usia 81 Tahun: Antara Retorika Sinergi dan Ujian Nyata Bencana NTT

PolitikSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Menakar Taji Kemendagri di Usia 81 Tahun: Antara Retorika Sinergi dan Ujian Nyata Bencana NTT
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk menekankan pentingnya penguatan ketahanan bencana dan sinergi pusat-daerah pada peringatan HUT ke-81 Kemendagri.
  • Sorotan tajam diarahkan pada penanganan pasca-gempa M 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai indikator nyata kesiapan mitigasi pemerintah daerah.
  • Di balik perayaan seremonial, Kemendagri dituntut melakukan reformasi birokrasi yang konkret, bukan sekadar mengulang narasi normatif tahunan.

JAKARTA — Momentum hari jadi ke-81 Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri) seharusnya menjadi ajang kontemplasi mendalam, bukan sekadar seremoni tahunan yang dihiasi berbagai perlombaan. Di tengah duka yang menyelimuti Nusa Tenggara Timur akibat gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 pada pertengahan Agustus lalu, Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk, menyerukan pentingnya penguatan ketahanan bencana dan sinergi konkret antara pemerintah pusat dan daerah.

Mewakili Mendagri Muhammad Tito Karnavian dalam upacara peringatan di Jakarta, Rabu (19/8), Ribka menegaskan bahwa usia 81 tahun adalah cerminan kematangan institusi yang harus berdampak langsung pada masyarakat. Ia merumuskan empat instruksi strategis bagi seluruh jajaran birokrasi dalam negeri: menjadikan sejarah sebagai modal pembelajaran mitigasi krisis, memperkokoh soliditas pemerintah daerah, mengawal program prioritas nasional, serta mereformasi tata kelola pemerintahan agar lebih lincah dan berdampak nyata.

Tragedi di NTT menjadi alarm keras. Gempa dahsyat yang disusul ribuan gempa susulan tersebut telah melumpuhkan infrastruktur dan menelan korban jiwa. Bagi Kemendagri, peristiwa ini adalah ujian nyata sejauh mana pembinaan dan pengawasan terhadap kapasitas mitigasi bencana di tingkat daerah telah berjalan efektif, bukan sekadar di atas kertas.

Kendati diwarnai dengan berbagai kegiatan sosial seperti santunan anak yatim dan donor darah, serta aneka perlombaan internal mulai dari olahraga hingga stand-up comedy, esensi dari peringatan ini tetap bertumpu pada kesiapan birokrasi menghadapi dinamika zaman. Upacara ini turut dihadiri oleh jajaran elit kementerian, termasuk Wamendagri Akhmad Wiyagus dan Sekjen Tomsi Tohir.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah mengawal dinamika pemerintahan selama puluhan tahun, saya melihat ada jurang pemisah yang lebar antara retorika "sinergi" yang kerap didengungkan di podium Jakarta dengan realitas pahit di lapangan. Gempa NTT berkekuatan M 7,7 adalah tamparan keras yang membongkar rapuhnya sistem mitigasi bencana di tingkat daerah. Kemendagri, sebagai pembina utama Pemerintah Daerah (Pemda), tidak bisa lagi hanya bermain di ranah administratif dan regulatif. Mereka harus memastikan bahwa anggaran daerah (APBD) benar-benar dialokasikan secara signifikan untuk mitigasi bencana, bukan habis untuk belanja pegawai atau proyek kosmetik.

Usia 81 tahun adalah waktu yang sangat panjang bagi sebuah kementerian yang lahir bersamaan dengan republik ini. Namun, sejarah panjang ini juga membawa beban berupa inersia birokrasi yang akut. Pergantian kepemimpinan hingga puluhan kali seharusnya melahirkan sistem yang mapan dan tahan krisis. Faktanya, kesenjangan kapasitas antara Pemda di Jawa dan luar Jawa, khususnya di wilayah timur Indonesia, masih sangat menganga. Sinergitas tidak akan pernah terwujud selama koordinasi pusat-daerah masih bersifat transaksional dan top-down tanpa adanya transfer kapasitas yang riil.

Lebih jauh lagi, peran Kemendagri sebagai poros politik dalam negeri sering kali mengaburkan fungsi pelayanan publiknya. Di tahun-tahun politik, energi kementerian ini kerap tersedot untuk urusan penunjukan Penjabat (Pj) Kepala Daerah dan kondusivitas pemilu. Akibatnya, isu-isu krusial yang menyangkut hajat hidup orang banyak—seperti ketahanan bencana, kemiskinan ekstrem, dan reformasi birokrasi lokal—sering kali terpinggirkan. Jika Kemendagri ingin membuktikan bahwa "negara hadir," maka netralitas dan fokus pada tata kelola pemerintahan yang bersih harus diletakkan di atas kepentingan politik praktis.

Akhirnya, kita harus mengkritisi kontrasnya perayaan ini. Di saat ribuan warga NTT masih bertahan di tenda-tenda pengungsian dengan keterbatasan logistik, elite Kemendagri di Jakarta masih sempat merayakan hari jadi dengan festival bazar dan turnamen olahraga. Tentu, kegiatan sosial tetap dilakukan, namun sensitivitas krisis (sense of crisis) harus tetap menjadi panglima. Pengabdian terbaik bagi bangsa tidak diukur dari seberapa meriah perlombaan yang digelar, melainkan seberapa cepat dan tangguh birokrasi ini mampu menyelamatkan dan memulihkan kehidupan rakyatnya yang sedang tertimpa musibah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa fokus utama yang ditekankan dalam peringatan HUT ke-81 Kemendagri?
A: Fokus utamanya adalah memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, meningkatkan ketahanan bencana (berkaca dari gempa NTT), serta mendorong reformasi birokrasi agar kehadiran negara benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Q: Bagaimana relevansi gempa NTT dengan peringatan HUT Kemendagri kali ini?
A: Gempa bumi M 7,7 di NTT pada 15 Agustus 2026 dijadikan momentum refleksi kritis oleh Kemendagri untuk mengevaluasi dan memperkuat kapasitas mitigasi serta ketangguhan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana alam.

Q: Apa saja empat pesan strategis yang disampaikan Wamendagri Ribka Haluk?
A: Pertama, menjadikan tantangan sebagai pembelajaran; kedua, memperkuat persatuan dan soliditas Pemda; ketiga, menjadi penggerak program prioritas nasional; dan keempat, membangun tata kelola pemerintahan yang aktif, efektif, dan berdampak nyata.

Meow! Tanya Nesi!
😸