Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Helikopter Basarnas Evakuasi Lansia Patah Tulang Dasar Tengkorak Pasca Gempa M7.7 NTT: Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Helikopter Basarnas Evakuasi Lansia Patah Tulang Dasar Tengkorak Pasca Gempa M7.7 NTT: Apa yang Terjadi Selanjutnya?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Lansia berusia 77 tahun, Adelina Ndimias, dievakuasi dengan helikopter Basarnas setelah mengalami fraktur basis kranial akibat gempa di Manggarai Timur.
  • Evakuasi memakan waktu 30 menit menuju RSUD Pratama Komodo, Labuan Bajo, dengan satu anggota keluarga menemaninya.
  • Gempa M7.7 yang melanda NTT menewaskan 70 orang, melukai 132 orang, dan menimbulkan lebih dari 40.000 pengungsi serta hampir 12.000 rumah rusak.

Rabu (19/8) pukul 11.15 WITA, tim SAR gabungan mengirimkan Helikopter Dauphin Basarnas untuk mengevakuasi Adelina Ndimias, seorang perempuan berusia 77 tahun yang menjadi korban gempa bumi berkekuatan M7.7 di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, proses evakuasi memakan waktu sekitar 30 menit hingga mencapai RSUD Pratama Komodo di Labuan Bajo, dengan satu anggota keluarga mengiringi korban.

Tim medis Kementerian Kesehatan mengonfirmasi bahwa Adelina diduga mengalami fraktur basis kranial—patah tulang dasar tengkorak yang mengancam nyawa dan memerlukan penanganan intensif. Penanganan lanjutan kini berada di bawah pengawasan dokter spesialis saraf di rumah sakit tujuan.

Yudhi menegaskan bahwa operasi SAR gabungan tidak berhenti pada evakuasi medis. "Kami terus melakukan penyisiran di area bangunan runtuh di Manggarai Timur serta kabupaten terdampak lainnya, sambil mendukung tim Kemenkes dalam penanganan korban," ujarnya.

Gempa yang mengguncang NTT pada Senin (17/8) pukul 23.30 WIB menewaskan 70 orang, melukai 132 orang (40 luka berat, 92 luka ringan), serta menimbulkan 40.040 pengungsi dan 11.925 rumah rusak, menurut data BNPB. Angka-angka ini menyoroti betapa rentannya infrastruktur dan kesiapsiagaan daerah terhadap bencana alam berskala besar.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua kegagalan struktural yang saling terkait. Pertama, respons cepat Basarnas dalam mengevakuasi korban kritis memang patut diapresiasi, namun ketergantungan pada helikopter sebagai satu-satunya sarana evakuasi menandakan kurangnya jaringan logistik darat yang memadai di wilayah rawan bencana. Pemerintah daerah dan pusat harus segera mengembangkan titik-titik penampungan medis yang dilengkapi fasilitas ICU bergerak, sehingga evakuasi tidak selalu harus menempuh jarak jauh ke Labuan Bajo.

Kedua, tingginya angka korban luka berat—khususnya fraktur basis kranial—mengindikasikan bangunan-bangunan yang tidak memenuhi standar tahan gempa. Pemeriksaan pasca-bencana harus melibatkan auditor independen yang dapat menilai kepatuhan terhadap regulasi konstruksi, bukan sekadar menghitung kerusakan fisik. Tanpa akuntabilitas, kita akan terus mengulang skenario yang sama setiap kali gempa melanda.

Ketiga, koordinasi antara Basarnas, Kemenkes, dan BNPB masih terkesan silo. Laporan resmi menyebutkan “penyisiran” dan “evakuasi medis” secara terpisah, padahal keduanya harus terintegrasi dalam satu platform data real‑time. Penggunaan teknologi GIS dan aplikasi mobile untuk pelaporan korban dapat mempercepat alur informasi, mengurangi duplikasi usaha, dan memastikan bantuan tepat sasaran.

Akhirnya, perhatian publik dan donor internasional sering kali terfokus pada angka korban jiwa, sementara penderitaan jangka panjang—seperti trauma psikologis dan kehilangan tempat tinggal—jarang mendapat sorotan. Media memiliki peran penting untuk menyoroti kebutuhan rehabilitasi sosial, bukan hanya penanganan medis darurat. Hanya dengan pendekatan holistik, NTT dapat bangkit kembali secara berkelanjutan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Bagaimana cara menghubungi tim SAR Basarnas untuk laporan darurat?
    A: Hubungi nomor darurat 191 atau kunjungi situs resmi Basarnas untuk formulir laporan online.
  • Q: Apa yang dimaksud dengan fraktur basis kranial?
    A: Fraktur basis kranial adalah patah tulang pada bagian paling bawah tengkorak, yang dapat menimbulkan komplikasi serius pada otak dan saraf.
  • Q: Berapa lama proses evakuasi medis biasanya memakan waktu di NTT?
    A: Waktu evakuasi bervariasi; pada kasus ini, perjalanan helikopter memakan sekitar 30 menit dari titik evakuasi ke RSUD Pratama Komodo.
Meow! Tanya Nesi!
😸