Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Narasi Ancaman Global: Strategi Politik Netanyahu Pasang Wajah Tokoh Dunia di Billboard Kampanye

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Narasi Ancaman Global: Strategi Politik Netanyahu Pasang Wajah Tokoh Dunia di Billboard Kampanye
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merilis billboard kampanye yang menampilkan tokoh-tokoh oposisi global seperti Mojtaba Khamenei, Recep Tayyip Erdogan, Naim Qassem, dan politisi AS Zohran Mamdani.
  • Langkah ini diambil menjelang pemilu internal Partai Likud guna mengonsolidasikan basis suara kanan di tengah merosotnya elektabilitas Netanyahu dibanding rival domestiknya, Gadi Eisenkot.
  • Kampanye ini menggunakan taktik "ancaman eksternal" untuk mendelegitimasi koalisi oposisi kiri-tengah Israel yang dituduh akan bekerja sama dengan faksi-faksi Arab.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali memicu kontroversi geopolitik dengan merilis sebuah billboard kampanye yang menampilkan wajah sejumlah tokoh global dalam satu bingkai. Langkah provokatif ini diambil menjelang pemilihan pendahuluan internal Partai Likud yang krusial bagi masa depan politiknya.

Dalam billboard yang diunggah di platform X tersebut, tampak foto pemimpin berpengaruh Iran Mojtaba Khamenei, Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan politisi progresif asal New York, Zohran Mamdani. Di atas foto-foto tersebut, tertulis narasi tegas: "Jangan biarkan mereka menang."

Secara historis, Netanyahu memosisikan dirinya sebagai benteng pertahanan Israel melawan musuh-musuh regional. Hubungannya dengan Iran dan Hizbullah berada pada titik nadir perang terbuka, sementara relasi diplomatik dengan Turki hancur setelah Erdogan memutus hubungan dagang dan mengecam keras operasi militer Israel di Gaza. Di sisi lain, masuknya nama Zohran Mamdani—politisi AS yang vokal menyerukan penangkapan Netanyahu atas perintah Mahkamah Pidana Internasional (ICC)—menunjukkan bahwa Netanyahu kini juga menyasar kritikus barat dalam narasi kampanyenya.

Langkah ini dinilai sebagai upaya taktis untuk membendung popularitas rival domestiknya, Gadi Eisenkot dan Yair Golan. Netanyahu menuduh oposisi tengah-kiri tersebut berencana membentuk pemerintahan koalisi sempit dengan partai-partai Arab, sebuah skenario yang ia klaim akan melemahkan posisi keamanan nasional Israel di mata musuh-musuh luar negerinya.

Kendati demikian, dominasi politik Netanyahu kini tengah menghadapi ujian terberat. Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh Channel 13, partai baru bentukan Eisenkot, Yashar, berhasil mengungguli Likud dengan proyeksi 23 kursi berbanding 22 kursi di parlemen. Selain itu, 43 persen responden menilai Eisenkot lebih layak memimpin negara sebagai Perdana Menteri, dibandingkan dengan Netanyahu yang hanya memperoleh 34 persen dukungan.

Analisis Pakar

Dari perspektif hubungan internasional dan sosiologi politik, strategi billboard Netanyahu adalah contoh klasik dari teori sekuritisasi (securitization). Dalam teori ini, seorang aktor politik mengangkat isu-isu domestik atau rivalitas politik biasa menjadi ancaman eksistensial yang mengancam kelangsungan hidup negara. Dengan menyandingkan rival politik domestiknya (seperti Eisenkot dan Golan) dengan musuh-musuh bersenjata seperti Hizbullah dan Iran, Netanyahu mencoba menciptakan persepsi bahwa memilih oposisi sama saja dengan membiarkan musuh-musuh Israel menang.

Pemilihan figur dalam billboard tersebut juga mencerminkan peta kecemasan geopolitik Israel saat ini. Kehadiran Khamenei dan Qassem mewakili ancaman militer konvensional dan asimetris dari "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance). Sementara itu, Erdogan mewakili isolasi regional di Timur Tengah, dan Mamdani merepresentasikan ancaman baru yang sangat ditakuti Tel Aviv: hilangnya dukungan bipartisan di Amerika Serikat akibat meningkatnya pengaruh politisi progresif yang bersimpati pada perjuangan Palestina.

Namun, taktik "politik ketakutan" ini juga mengindikasikan posisi Netanyahu yang kian terdesak. Kehadiran Gadi Eisenkot, seorang mantan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), merusak narasi tradisional Netanyahu sebagai satu-satunya "Mr. Security" yang mampu melindungi Israel. Karena tidak lagi memiliki monopoli atas kredibilitas keamanan, Netanyahu terpaksa menggunakan retorika yang lebih polarisasi dan populis untuk memobilisasi basis pemilih sayap kanan yang mulai goyah.

Dalam jangka panjang, strategi kampanye yang sangat memecah belah ini berisiko memperdalam polarisasi sosial di dalam negeri Israel, khususnya antara warga Yahudi dan minoritas Arab-Israel. Di panggung internasional, menyerang politisi dari negara sekutu terdekat seperti Amerika Serikat demi kepentingan pemilu domestik dapat mempercepat keretakan hubungan diplomatik yang selama ini menjadi pilar utama pertahanan Israel.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Benjamin Netanyahu memasang foto tokoh-tokoh asing di billboard kampanyenya?
A: Netanyahu menggunakan taktik politik "ancaman eksternal" untuk menakut-nakuti pemilih dan mengonsolidasikan suara sayap kanan, dengan mengklaim bahwa rival politik domestiknya akan membiarkan kekuatan asing tersebut "menang" jika Likud kalah.

Q: Siapa saja tokoh yang terpampang dalam billboard tersebut dan apa hubungannya dengan Israel?
A: Tokoh yang dipajang meliputi Mojtaba Khamenei (Iran) dan Naim Qassem (Hizbullah) sebagai musuh militer; Recep Tayyip Erdogan (Presiden Turki) yang memutus hubungan dagang; serta Zohran Mamdani (politisi New York) yang vokal mengkritik kebijakan militer Israel.

Q: Bagaimana peta kekuatan politik Israel saat ini berdasarkan survei terbaru?
A: Elektabilitas Netanyahu tengah tertekan. Survei menunjukkan partai baru bentukan Gadi Eisenkot, Yashar, unggul tipis atas Partai Likud, dan Eisenkot dinilai lebih layak menjadi Perdana Menteri oleh mayoritas responden dibanding Netanyahu.

Meow! Tanya Nesi!
😸