Kushner Tekan Netanyahu: Tawaran Perdamaian Gaza Dihambat Israel, AS Bersikeras pada Demiliterisasi
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Jared Kushner menegaskan bahwa kesepakatan demiliterisasi Hamas adalah kunci bagi rekonstruksi Gaza.
- Benjamin Netanyahu menolak poin‑poin utama kesepakatan, meski tekanan terus datang dari Amerika Serikat.
- Konflik berlanjut dengan serangan harian Israel, menambah korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di wilayah Palestina.
Washington – Jared Kushner, menantu mantan Presiden Donald Trump dan utusan khusus untuk Timur Tengah, kembali menekan Benjamin Netanyahu terkait implementasi kesepakatan perdamaian di Gaza. Dalam wawancara dengan Fox News, Kushner menyatakan bahwa “bagi Israel, kesepakatan ini menguntungkan semua pihak” asalkan Hamas menyerahkan senjata dan terowongan dalam 60‑90 hari ke depan.
Pertemuan antara Kushner dan Netanyahu pada Senin lalu tidak menghasilkan terobosan signifikan. Perdana Menteri Israel tetap menolak poin‑poin utama, termasuk penarikan pasukan Israel dan penghentian serangan setelah Hamas melucuti senjata. “Jika mereka tidak menindaklanjuti komitmen mereka sekarang, semua orang akan melihat bahwa mereka tidak tulus dalam hal perdamaian,” kata Kushner.
Kushner menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak akan mengizinkan rekonstruksi Gaza sampai proses demiliterisasi selesai. “Kami punya rencana membangun kembali Gaza, tetapi kami tak akan mengizinkan Gaza kembali sampai demiliterisasi terjadi,” ujarnya.
Sementara itu, Hamas telah menyatakan kesediaannya melucuti senjata, namun menolak melakukannya selagi Israel belum menarik pasukannya dan terus melakukan serangan. Sejak gencatan senjata pada November 2023, Israel melancarkan serangan hampir setiap hari, menewaskan lebih dari 1.265 orang dan menambah total korban sejak Agustus 2023 menjadi lebih dari 73.000 jiwa.
Amerika Serikat terus menekankan bahwa Israel berhak membela diri jika ada ancaman yang akan segera terjadi, namun menolak penarikan pasukan sebelum Hamas sepenuhnya dilucuti senjata. “Kami juga tidak akan membatasi hak Israel untuk membela diri,” kata Kushner, menambahkan perlunya klarifikasi lebih lanjut mengenai apa arti “hak membela diri” dalam konteks ini.
Analisis Pakar
Penekanan Kushner terhadap demiliterisasi Hamas mencerminkan pendekatan tradisional kebijakan luar negeri Amerika yang menempatkan keamanan Israel sebagai prasyarat utama bagi setiap inisiatif perdamaian. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa strategi “senjata dulu, damai kemudian” berisiko memperpanjang siklus kekerasan. Tanpa adanya jaminan keamanan yang kredibel bagi warga sipil Palestina, langkah-langkah demiliterisasi dapat dipandang sebagai taktik tekanan politik yang mengabaikan kebutuhan kemanusiaan.
Penolakan Netanyahu terhadap poin‑poin kesepakatan menandai perubahan dinamika politik dalam negeri Israel, di mana tekanan dari koalisi kanan‑radikal menuntut kebijakan keamanan yang lebih keras. Hal ini memperumit upaya mediasi internasional, karena setiap konsesi dianggap sebagai kelemahan politik di dalam negeri Israel. Di sisi lain, kegagalan Hamas untuk menurunkan senjata tanpa jaminan penarikan pasukan Israel menimbulkan dilema moral: apakah sebuah pihak dapat dipaksa melucuti senjata di tengah ancaman militer yang terus berlangsung?
Secara geopolitik, konflik ini menempatkan Amerika Serikat pada posisi yang semakin sulit. Sementara Washington ingin mempertahankan aliansi strategis dengan Israel, tekanan domestik dan internasional menuntut kebijakan yang lebih seimbang dan berorientasi pada hak asasi manusia. Kegagalan menemukan titik temu dapat memperlemah kredibilitas Amerika di Timur Tengah, membuka ruang bagi aktor regional lain seperti Iran atau Turki untuk meningkatkan pengaruh mereka.
Ke depan, solusi yang berkelanjutan kemungkinan memerlukan pendekatan multilateral yang melibatkan PBB, Uni Eropa, dan negara‑negara Arab. Tanpa mekanisme verifikasi independen untuk demiliterisasi dan jaminan keamanan bagi warga sipil, setiap kesepakatan akan tetap rapuh. Pada akhirnya, keberhasilan atau kegagalan proses ini akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan para pemangku kepentingan untuk menyeimbangkan kepentingan keamanan dengan kebutuhan kemanusiaan yang mendesak.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa yang dimaksud dengan “demiliterisasi Hamas” dalam konteks kesepakatan Gaza?
A: Demiliterisasi berarti Hamas harus menyerahkan semua persenjataan, menghentikan pembangunan terowongan, dan menghentikan aktivitas militer apa pun sebagai prasyarat untuk rekonstruksi dan penghentian serangan Israel. - Q: Mengapa Benjamin Netanyahu menolak poin‑poin utama kesepakatan?
A: Netanyahu menolak karena ia menganggap penarikan pasukan Israel dan penghentian serangan sebelum Hamas sepenuhnya dilucuti senjata akan mengurangi kemampuan pertahanan Israel dan menimbulkan tekanan politik dari koalisi kanan‑radikal di dalam negeri. - Q: Apa peran Jared Kushner dalam proses perdamaian Gaza?
A: Kushner, sebagai utusan khusus untuk Timur Tengah, berfungsi sebagai mediator antara Washington dan Tel Aviv, menekan Israel untuk mematuhi kesepakatan damai dan menegaskan bahwa rekonstruksi Gaza tidak akan dimulai sampai Hamas demiliterisasi.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Eisenkot Bongkar Ambisi Netanyahu Giring Pemilu Ulang, Qatar Bantah Tuduhan Campur Tangan

Hasil Pemilu Israel: Survei Ditolak, Partai Arab Dipertanyakan Asing

Suhu Politik Global Memanas: Iran Siaga, Sorotan Dampak Pemilu Israel-AS dan Isu Elektoral India
