Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

AS Ancam Bombardir Oman? Retorika Keras Trump Guncang Geopolitik Selat Hormuz

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

AS Ancam Bombardir Oman? Retorika Keras Trump Guncang Geopolitik Selat Hormuz
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Oman jika negara tersebut dianggap menghalangi kesepakatan AS-Iran terkait Selat Hormuz.
  • Oman dan Iran saat ini tengah melakukan negosiasi bilateral independen untuk menyusun deklarasi bersama mengenai pengaturan pelayaran di selat strategis tersebut.
  • Selat Hormuz merupakan jalur energi vital global yang secara geografis dikuasai oleh Iran dan Oman, menjadikannya titik tawar geopolitik yang sangat krusial.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman militer langsung terhadap Oman. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan segan-segan mengambil tindakan keras jika Oman "menghalangi" kepentingan AS dalam mengamankan kesepakatan terkait Selat Hormuz dengan Iran. Langkah ini diambil di tengah kebuntuan negosiasi damai setelah konflik bersenjata yang berlangsung selama hampir enam bulan terakhir antara AS-Israel dan Iran.

Trump juga mendesak Iran untuk segera menyerah dan "mengibarkan bendera putih." Meskipun situasi di lapangan menunjukkan kebuntuan, Trump mengeklaim adanya saluran komunikasi rahasia di balik layar antara pemerintahannya dan para pejabat tinggi Garda Revolusi Iran (IRGC). Ia menggambarkan para negosiator Iran sebagai "pemain poker hebat yang sedang sekarat," merujuk pada tekanan ekonomi dan militer yang dihadapi Teheran.

Kemarahan Washington tampaknya dipicu oleh inisiatif diplomatik independen antara Muscat dan Teheran. Saat ini, pejabat Oman dan Iran tengah merumuskan deklarasi bersama untuk mengatur lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tanpa melibatkan AS. Langkah ini bertentangan dengan klaim sepihak Trump yang menyatakan bahwa selat strategis tersebut berada di bawah kendali AS, bahkan ia sempat melontarkan gagasan kontroversial untuk mengklaim jalur perairan internasional tersebut sebagai bagian dari wilayah kedaulatan Amerika Serikat.

Teheran merespons keras klaim tersebut dengan menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kedaulatan dan pengawasan Iran. Secara geografis, pantai utara selat ini dikuasai oleh Iran, sementara sisi selatan dikuasai oleh Oman, menjadikannya jalur air paling krusial bagi pasokan energi global yang selama ini digunakan Teheran sebagai instrumen tawar-menawar geopolitik yang sangat efektif.

Analisis Pakar

Secara tradisional, Oman dikenal sebagai "Swiss di Timur Tengah" karena kebijakan luar negerinya yang netral dan berperan sebagai mediator ulung antara Iran dan negara-negara Barat. Ancaman Trump terhadap Oman menunjukkan pergeseran radikal dalam pendekatan diplomasi AS, yang kini beralih dari tekanan multilateral menjadi unilateralisme koersif yang agresif. Dengan mengancam Oman, AS berisiko mengasingkan sekutu regional yang paling andal dalam menjembatani komunikasi dengan Teheran, yang pada gilirannya dapat menutup pintu diplomasi sama sekali.

Dari perspektif hukum laut internasional (UNCLOS), klaim Trump bahwa AS dapat menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayahnya adalah absurd dan tidak memiliki dasar hukum. Selat Hormuz adalah selat internasional yang tunduk pada rezim "transit passage". Namun, kontrol de facto Iran atas jalur ini memberikan Teheran daya tawar asimetris yang luar biasa. Blokade atau gangguan sekecil apa pun di selat yang dilalui hampir seperlima konsumsi minyak dunia ini akan memicu guncangan ekonomi global yang masif, sesuatu yang ingin dihindari oleh pasar energi internasional.

Retorika keras Trump yang meminta Iran "mengibarkan bendera putih" tampaknya lebih ditujukan untuk konsumsi domestik AS guna menunjukkan postur kepemimpinan yang kuat. Namun, dalam realitas hubungan internasional, strategi "maximum pressure" tanpa adanya konsesi yang realistis jarang menghasilkan penyerahan diri tanpa syarat dari negara berdaulat seperti Iran. Sebaliknya, tekanan militer yang berlebihan justru sering kali memperkuat faksi garis keras di dalam negeri Iran dan mempercepat eskalasi konflik ke arah perang terbuka yang tidak terkendali.

Pada akhirnya, stabilitas di Selat Hormuz tidak akan tercapai melalui ancaman pengeboman terhadap negara mediator seperti Oman, melainkan melalui arsitektur keamanan regional yang inklusif. AS perlu menyadari bahwa memaksakan kehendak sepihak di jalur perairan yang secara geografis dikepung oleh Iran dan Oman hanya akan memperpanjang kebuntuan geopolitik dan membahayakan keamanan energi global dalam jangka panjang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Selat Hormuz sangat penting dalam geopolitik global?
A: Selat Hormuz adalah jalur pelayaran energi paling krusial di dunia, di mana hampir 20% pasokan minyak bumi global melintas setiap harinya. Kontrol atas selat ini memberikan pengaruh ekonomi dan politik yang sangat besar bagi negara-negara di sekitarnya, khususnya Iran dan Oman.

Q: Apa peran Oman dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran?
A: Oman secara historis bertindak sebagai mediator netral yang memfasilitasi dialog rahasia dan diplomasi belakang layar antara AS dan Iran. Upaya Oman saat ini untuk bernegosiasi langsung dengan Iran bertujuan untuk menjaga stabilitas navigasi di Selat Hormuz tanpa intervensi militer asing.

Q: Apakah AS secara hukum dapat mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayahnya?
A: Tidak. Berdasarkan hukum laut internasional (UNCLOS), Selat Hormuz dikategorikan sebagai selat internasional yang digunakan untuk pelayaran internasional. Wilayah perairan tersebut berada di bawah yurisdiksi teritorial Iran dan Oman, sehingga klaim sepihak AS tidak memiliki dasar hukum internasional yang sah.

Meow! Tanya Nesi!
😸