Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Upacara HUT ke-81 RI: Paskibraka Dihujani Sorakan, Tapi Simbolisme Bendera Dipertanyakan

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Upacara HUT ke-81 RI: Paskibraka Dihujani Sorakan, Tapi Simbolisme Bendera Dipertanyakan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Paskibraka mengibarkan bendera Merah Putih di Istana Merdeka pada upacara HUT ke-81 RI.
  • Tim mendapat tepuk tangan meriah, namun sorotan media menyoroti kurangnya refleksi politik di balik ritual.
  • Berbagai tokoh, termasuk Prabowo Subianto, hadir sebagai inspektur, menambah dimensi kontroversial.

Jakarta, 17 Agustus 2026 – Upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka kembali menampilkan tradisi pengibaran bendera pusaka oleh Tim Paskibraka. Setelah menurunkan Merah Putih, barisan pasukan berbaris keluar sambil disambut tepuk tangan meriah dari hadirin, sekaligus diiringi pelepasan sekawanan merpati putih.

Acara yang dipimpin oleh Dandim O733/Kota Semarang Kolonel Inf Priyo Handoyo dan diawasi oleh Prabowo Subianto sebagai inspektur, menampilkan generasi muda dari seluruh penjuru nusantara. Celina Olivia Apriani Theo, siswi SMK Negeri 5 Pontianak, mewakili Provinsi Kalimantan Barat sebagai pembawa bendera utama. Sebagai cadangan, Eighteen Jeanette Hekboy dari Nusa Tenggara Timur siap menggantikan bila diperlukan.

Komandan Kelompok 8, Achmad Fachri Mubarok (SMKN 1 Kota Jambi), dan Komandan Kelompok 17, Ahmad Raditya (SMK Penerbangan AAB Adi Sucipto, DIY) masing‑masing memimpin barisan yang melibatkan puluhan siswa. Pengerek bendera, I Nyoman Harya Dhanurendra Darmamukti (SMAN 7 Banjarmasin), serta pembentang bendera, M. Aryo Wira Zandhyka Y (SMAN 7 Kota Bengkulu), menambah keragaman representasi daerah.

Namun di balik sorakan, kritik muncul mengenai relevansi upacara yang terkesan formalistik. Sejumlah pengamat menilai bahwa penekanan pada simbol semata tanpa dialog kebijakan mengaburkan tujuan peringatan kemerdekaan yang seharusnya menjadi momentum introspeksi nasional.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat upacara ini sebagai cermin dualitas Indonesia: di satu sisi, kebanggaan akan simbol negara yang terjaga rapi; di sisi lain, kegagalan institusi untuk menghubungkan simbol tersebut dengan realitas sosial‑ekonomi yang masih memprihatinkan. Penampilan megah Paskibraka memang menginspirasi, namun tidak boleh menjadi pengganti diskusi publik tentang korupsi, ketimpangan, dan penegakan hukum.

Keberadaan Prabowo Subianto sebagai inspektur menambah lapisan politik. Kehadirannya bukan sekadar formalitas militer, melainkan sinyal bahwa partai politik berusaha menancapkan diri dalam narasi patriotik. Ini menimbulkan pertanyaan: apakah upacara ini dimanfaatkan sebagai panggung kampanye terselubung? Jika ya, maka nilai edukatif bagi generasi muda tergerus oleh agenda partisan.

Selanjutnya, representasi geografis yang ditonjolkan oleh Paskibraka memang mengusung semangat persatuan, namun tidak menyingkap ketimpangan akses pendidikan. Sebagian besar anggota berasal dari sekolah menengah atas atau menengah kejuruan yang berada di daerah dengan fasilitas memadai. Sementara jutaan pelajar di daerah terpencil masih berjuang mendapatkan sarana dasar, mereka jarang terlihat di panggung nasional.

Terakhir, ritual pelepasan merpati putih—simbol perdamaian—harusnya memicu refleksi tentang konflik internal yang masih menggerogoti bangsa, seperti sengketa lahan, intoleransi, dan radikalisme. Tanpa dialog terbuka, simbol tersebut berisiko menjadi hiasan semata yang kehilangan makna substantif.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Siapa yang memimpin upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka?
    A: Upacara dipimpin oleh Dandim O733/Kota Semarang Kolonel Inf Priyo Handoyo, dengan Prabowo Subianto sebagai inspektur.
  • Q: Dari mana asal pembawa bendera utama pada upacara kali ini?
    A: Pembawa bendera utama, Celina Olivia Apriani Theo, berasal dari Provinsi Kalimantan Barat dan bersekolah di SMK Negeri 5 Pontianak.
  • Q: Apa saja kritik yang muncul terkait upacara HUT ke-81 RI?
    A: Kritik meliputi penggunaan upacara sebagai panggung politik, kurangnya keterkaitan simbol bendera dengan isu‑isu sosial‑ekonomi, serta ketimpangan representasi pendidikan di antara peserta.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸