Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Nagekeo Terisolasi: Listrik Padam, Komunikasi Terputus, Warga Terlantar

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Nagekeo Terisolasi: Listrik Padam, Komunikasi Terputus, Warga Terlantar
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kabupaten Nagekeo masih terputus dari jaringan listrik dan telekomunikasi pasca gempa bumi.
  • Koordinasi antara Irjen Pol Rudi Darmoko dan Kapolres Nagekeo terhambat, mengakibatkan bantuan terlambat.
  • Ratusan warga di Desa Tenda Kinde mengandalkan bantuan mandiri sementara aparat menyiapkan 10 unit wifi portable untuk memulihkan konektivitas.

Setelah gempa bumi mengguncang kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 17 Agustus 2024, wilayah tersebut masih berada dalam kondisi terisolasi. Tanpa listrik yang stabil dan jaringan komunikasi yang terputus, proses pemantauan serta penyaluran bantuan menjadi sangat terhambat. Kapolda NTT, Irjen Pol Rudi Darmoko, mengakui bahwa koordinasi dengan Kapolres Nagekeo, AKBP Rachmat Muchamad Salihi, “tidak berjalan optimal” karena infrastruktur dasar belum pulih.

Selain kerusakan fisik, gempa susulan masih menggema di wilayah tersebut, memperparah kesulitan akses jalan. Petugas darurat terus berupaya membuka jalur menuju desa‑desa yang terisolasi, terutama Desa Tenda Kinde di Kecamatan Wolowae. Di sana, ratusan warga mengungsi secara mandiri di kantor desa, tanpa bantuan resmi. Mereka terpaksa menabung bersama untuk membeli kebutuhan pokok dan mengandalkan sisa persediaan makanan.

Menanggapi krisis komunikasi, Mabes Polri telah mengirimkan sepuluh unit wifi portable yang akan dipasang di titik‑titik strategis. Perangkat ini diharapkan menjadi tulang punggung baru bagi alur informasi antara warga, petugas lapangan, dan lembaga bantuan. Rudi menegaskan pentingnya laporan terus‑menerus: “Informasi seperti ini yang kami harapkan terus disampaikan kepada kami sehingga bisa kami tindak lanjuti segera di lapangan.”

Analisis Pakar

Situasi Nagekeo menyoroti kegagalan struktural dalam penanganan bencana di daerah terpencil. Ketergantungan pada infrastruktur listrik dan telekomunikasi yang belum terdiversifikasi membuat respons darurat menjadi sangat rentan. Pemerintah daerah tampaknya belum memiliki rencana kontinjensi yang memadai, mengandalkan solusi ad‑hoc seperti pengiriman wifi portable yang, meski membantu, tidak menyelesaikan akar masalah—yaitu ketidakmampuan jaringan listrik untuk pulih secara cepat.

Lebih jauh, koordinasi lintas lembaga masih terhambat oleh birokrasi. Pernyataan Rudi tentang “laporan terputus‑putus” mengindikasikan kurangnya protokol data yang dapat beroperasi di luar jaringan konvensional. Implementasi sistem komunikasi satelit atau radio amatir yang terstandarisasi seharusnya menjadi prioritas, bukan sekadar tambahan setelah krisis terjadi.

Di sisi sosial, warga yang terpaksa mengandalkan gotong‑royong untuk memenuhi kebutuhan dasar menunjukkan ketahanan komunitas, namun juga menandakan kegagalan pemerintah dalam memenuhi kewajiban dasar perlindungan warga. Tanpa bantuan logistik yang terkoordinasi, risiko kelaparan dan penyakit menular meningkat, terutama mengingat kondisi sanitasi di tempat penampungan yang belum terjamin.

Ke depan, selain mempercepat perbaikan jaringan listrik, otoritas harus mengembangkan early warning system yang terintegrasi dengan platform digital yang dapat diakses meski jaringan internet terputus. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kecepatan respons, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi keamanan dan pemerintah daerah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa listrik dan komunikasi di Nagekeo belum pulih setelah gempa?
    A: Kerusakan infrastruktur fisik yang luas, serta kurangnya rencana darurat yang memadai, memperlambat perbaikan.
  • Q: Apa yang dilakukan kepolisian untuk memperbaiki komunikasi?
    A: Mabes Polri mengirimkan 10 unit wifi portable yang akan dipasang di titik‑titik strategis untuk memulihkan konektivitas.
  • Q: Bagaimana kondisi warga di Desa Tenda Kinde?
    A: Ratusan warga mengungsi mandiri di kantor desa, mengandalkan gotong‑royong untuk membeli kebutuhan pokok dan menyisakan persediaan makanan yang terbatas.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸