Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Mendagri Tito Karnavian Pimpin Upacara HUT RI di Manggarai Timur: Simbol Nasionalisme atau Panggung Politik Pasca‑Gempa?

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Mendagri Tito Karnavian Pimpin Upacara HUT RI di Manggarai Timur: Simbol Nasionalisme atau Panggung Politik Pasca‑Gempa?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian memimpin upacara HUT RI ke‑81 di Manggarai Timur setelah gempa dahsyat mengguncang NTT.
  • Kunjungan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat penanganan bencana dan menegaskan kehadiran pemerintah pusat.
  • Acara dipenuhi simbolisme budaya, namun menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas kebijakan penanggulangan bencana dan penggunaan upacara nasional sebagai alat politik.

Dalam sebuah upacara yang dihadiri ratusan aparatur sipil negara, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengenakan pakaian adat songke dan selendang leros khas Manggarai Timur. Penampilan ini, meski tampak menghormati tradisi lokal, secara cepat menjadi bahan perdebatan: apakah ini sekadar simbolik atau upaya pemerintah menutupi kegagalan penanganan gempa NTT yang masih menyisakan korban dan infrastruktur hancur?

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menekankan pentingnya “meninjau lokasi bencana” dan “mempercepat penanganan”. Namun, setahun setelah gempa berkekuatan 7,2 SR, banyak wilayah masih bergantung pada bantuan kemanusiaan. Kunjungan mendadak pada hari kemerdekaan menimbulkan dugaan bahwa pemerintah menggunakan momentum patriotik untuk menutup mata publik terhadap lambatnya distribusi bantuan, rehabilitasi rumah, dan pemulihan ekonomi.

Selain menyoroti pakaian adat, Tito menekankan nilai‑nilai konstitusi, mengaitkan perjuangan kemerdekaan dengan “filosofi melindungi bangsa dari bencana”. Pernyataan ini terdengar retoris, mengingat realitas di lapangan: tim Basarnas, Bupati Agas Andreas, dan aparat daerah masih berjuang mengatasi logistik yang terhambat oleh medan yang sulit. Kritik muncul bahwa pemerintah pusat belum menyediakan dana yang memadai, sehingga menunggu “hijau” dari upacara menjadi sekadar formalitas.

Pengibaran bendera yang dipuji oleh Menteri menonjolkan postur tinggi para pengibar sebagai “indikator keberhasilan SDM”. Namun, indikator apa yang lebih relevan? Tingkat pemulihan rumah yang rusak, akses air bersih, atau jumlah korban yang masih menunggu penanganan medis? Fokus pada simbol visual dapat menutupi kegagalan struktural yang lebih mendalam.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat pola yang sama dalam beberapa kunjungan menteri ke daerah bencana: agenda politik dibungkus dalam retorika kebangsaan. Kunjungan ke Manggarai Timur pada 17 Agustus, hari paling sakral bagi nasionalisme Indonesia, bukan kebetulan. Ini memberi pemerintah ruang untuk “menunjukkan” kehadiran tanpa harus menjawab pertanyaan keras tentang alokasi anggaran pasca‑gempa.

Selanjutnya, penggunaan pakaian adat oleh pejabat tinggi sering dipuji sebagai penghormatan budaya, namun dapat berbalik menjadi “cultural performativity”. Apabila simbolisme tidak diikuti dengan kebijakan konkret—seperti pembangunan kembali rumah, perbaikan jalan, atau program kesehatan—maka hal tersebut hanya menjadi panggung visual yang cepat dilupakan.

Ketiga, pernyataan Tito tentang “setiap awan ada lapisan perak” terkesan mengabaikan rasa sakit yang masih dirasakan warga. Sementara pemerintah menekankan nilai konstitusi, mereka harus menyiapkan mekanisme transparansi pengawasan dana bencana. Tanpa itu, retorika konstitusional menjadi sekadar slogan yang tidak menambah nilai bagi korban.

Akhirnya, kehadiran tokoh-tokoh seperti Kepala Basarnas Mohammad Syafii dan jajaran Forkopimda menandakan koordinasi lintas lembaga, namun koordinasi itu harus terukur. Laporan independen dari LSM menunjukkan bahwa distribusi bantuan masih terfragmentasi. Pemerintah perlu mengubah upacara simbolik menjadi titik tolak audit publik, bukan sekadar foto bersama.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Menteri Dalam Negeri hadir di upacara HUT RI di Manggarai Timur setelah gempa?
  • A: Kunjungan merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meninjau lokasi bencana, mempercepat penanganan, dan menegaskan kehadiran pemerintah pusat.
  • Q: Apa status penanganan gempa NTT hingga kini?
  • A: Upaya bantuan masih berlangsung, namun banyak wilayah masih mengalami kekurangan infrastruktur, air bersih, dan rumah layak huni.
  • Q: Seberapa sering menteri memakai pakaian adat dalam acara resmi?
  • A: Praktik ini cukup umum sebagai simbol penghormatan budaya, namun sering dikritik sebagai aksi simbolik bila tidak diikuti kebijakan substantif.
Meow! Tanya Nesi!
😸