Venezuela Gali Emas Rp71 Triliun di Bank of England untuk Rekonstruksi Pasca Gempa dan Inflasi Luar Biasa
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Ringkasan Singkat Venezuela menargetkan pencairan 31 ton emas senilai sekitar Rp71,5 triliun yang tersimpan di Bank of England untuk membiayai rekonstruksi pasca gempa.
- Inflasi bulanan Venezuela melonjak ke 19,9% pada Juli 2026, menambah tekanan pada ekonomi yang sudah terpuruk.
- Pemerintah Venezuela masih berjuang mengamankan aset internasionalnya setelah Nicolas Maduro tidak diakui secara sah oleh Inggris.
Ringkasan Singkat
- Venezuela menargetkan pencairan 31 ton emas senilai sekitar Rp71,5 triliun yang tersimpan di Bank of England untuk membiayai rekonstruksi pasca gempa.
- Inflasi bulanan Venezuela melonjak ke 19,9% pada Juli 2026, menambah tekanan pada ekonomi yang sudah terpuruk.
- Pemerintah Venezuela masih berjuang mengamankan aset internasionalnya setelah Nicolas Maduro tidak diakui secara sah oleh Inggris.
Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Venezuela kini menaruh harapan pada cadangan emas yang disimpan di Bank of England. Kepala Majelis Nasional, Jorge Rodriguez, mengumumkan pada Jumat (14/8/2026) bahwa negara tersebut akan memprioritaskan pembangunan kembali rumah warga, fasilitas kesehatan, jaringan listrik, serta pembersihan puing‑puing setelah dua gempa bumi dahsyat pada akhir Juni.
Cadangan emas itu diperkirakan mencapai 31 ton, atau setara US$4 miliar (sekitar Rp71,5 triliun dengan kurs Rp17.880/USD). Selama bertahun‑tahun, Bank of England menolak mencairkan sebagian emas tersebut karena tidak mengakui pemerintahan Nicolas Maduro sebagai sah. Sengketa hukum di pengadilan Inggris masih berlangsung, meski Delcy Rodriguez, pejabat tinggi Venezuela, telah meminta bantuan Raja Charles.
Situasi makroekonomi Venezuela semakin rapuh. Bank Sentral melaporkan inflasi bulanan mencapai 19,9% pada Juli 2026, naik tajam dari 13,8% bulan sebelumnya. Inflasi tahunan melesat ke 575,9%, dipicu oleh lonjakan harga pasca‑gempa yang mengganggu rantai pasokan. Otoritas moneter optimis inflasi akan mulai menurun pada Agustus, namun tekanan fiskal tetap berat.
Rodriguez menegaskan bahwa pemulihan aset internasional di Bank of England menjadi prioritas utama. "Kami akan memusatkan upaya untuk mengamankan kembali emas kami, sehingga dapat langsung dialokasikan untuk rekonstruksi dan pemulihan ekonomi," ujarnya.
Analisis Pakar
Secara makro, pencairan emas Venezuela dapat menjadi katalisator likuiditas yang sangat dibutuhkan, namun tidak serta‑merta menyelesaikan masalah struktural. Emas adalah aset likuid, namun konversinya menjadi dana operasional memerlukan persetujuan politik yang rumit. Jika pemerintah berhasil mengekstrak nilai penuh, setidaknya Rp70 triliun dapat menutupi sebagian besar biaya rekonstruksi, yang diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah.
Namun, risiko geopolitik tetap tinggi. Inggris masih menolak mengakui legitimasi pemerintahan Maduro, sehingga proses pencairan dapat terhambat oleh litigasi lanjutan. Investor asing akan menilai kembali eksposur mereka terhadap Venezuela, terutama di sektor energi yang sudah tertekan oleh sanksi AS.
Dari perspektif kebijakan moneter, inflasi yang melampaui 500% menandakan kegagalan koordinasi fiskal‑moneter. Tanpa reformasi struktural—seperti stabilisasi mata uang, reformasi pajak, dan perbaikan iklim investasi—dana emas hanya akan menjadi “plaster” sementara. Pemerintah harus mengarahkan alokasi ke proyek infrastruktur produktif yang dapat memulihkan basis pajak dan menciptakan lapangan kerja.
Terakhir, pasar global akan mengamati bagaimana Venezuela menavigasi konflik hukum ini. Jika berhasil, negara tersebut dapat mengembalikan sebagian kepercayaan investor, membuka pintu bagi pembiayaan eksternal tambahan, misalnya obligasi infrastruktur atau kredit multilateral. Sebaliknya, kegagalan akan memperparah isolasi ekonomi dan memperpanjang krisis kemanusiaan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa nilai total emas Venezuela yang disimpan di Bank of England?
A: Sekitar 31 ton, setara US$4 miliar atau kira‑kira Rp71,5 triliun. - Q: Mengapa Bank of England menolak mencairkan emas tersebut?
A: Karena Inggris belum mengakui pemerintahan Nicolas Maduro sebagai sah, sehingga asetnya dianggap berada dalam sengketa hukum. - Q: Bagaimana inflasi Venezuela memengaruhi rencana rekonstruksi?
A: Inflasi yang melampaui 500% meningkatkan biaya bahan baku dan tenaga kerja, sehingga dana yang tersedia dari emas harus cukup besar untuk menutupi kenaikan harga.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

LPS Ungkap 25 Juta Penduduk Dewasa Indonesia Belum Miliki Rekening Bank

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar
