Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Prabowo Target Tutup 13 GW Diesel, Ganti dengan 30 GW Surya: Hemat Rp73 Triliun!

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Prabowo Target Tutup 13 GW Diesel, Ganti dengan 30 GW Surya: Hemat Rp73 Triliun!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Penutupan 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel dan penggantian dengan PLTS.
  • Target pembangunan 30 GW pembangkit listrik tenaga surya dalam 2024‑2025.
  • Penghematan biaya listrik nasional diproyeksikan mencapai Rp73,9 triliun per tahun.

Dalam Prabowo Subianto mengumumkan bahwa pemerintah akan menutup seluruh pembangkit listrik tenaga diesel berkapasitas 13 GW dan menggantinya dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Pengumuman ini disampaikan pada sidang APBN 2027 di Rapat Peripurna, Jumat (14/8).

Presiden menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi percepatan transisi energi nasional, sekaligus upaya menurunkan biaya listrik di daerah terpencil. Menurutnya, ketergantungan pada diesel menimbulkan beban logistik tinggi karena infrastruktur pengiriman bahan bakar yang terbatas. "Kita mendapat anugerah sinar matahari hampir sepanjang tahun. Tidak masuk akal jika pulau‑pulau kita terus menunggu kapal pembawa BBM solar untuk memperoleh listrik," ujarnya.

Rencana pemerintah juga melibatkan desa‑desa sebagai mitra pembangunan PLTS. Setiap desa diharapkan dapat menyediakan lahan untuk instalasi PLTS berkapasitas 1 MW, yang akan meningkatkan kemandirian energi lokal. Dengan skala 100 GW PLTS, Menko Perekonomian memperkirakan penghematan biaya produksi listrik mencapai Rp73,9 triliun per tahun.

Analisis Pakar

Transisi dari diesel ke tenaga surya bukan sekadar kebijakan energi bersih; ia merupakan katalisator reformasi struktural dalam perekonomian Indonesia. Diesel, selain mahal, menambah beban defisit perdagangan karena impor bahan bakar. Menggantinya dengan PLTS yang memanfaatkan sumber daya alam melimpah akan menurunkan beban impor, memperbaiki neraca perdagangan, dan mengurangi volatilitas harga energi yang sering dipengaruhi geopolitik.

Namun, realisasi target 30 GW dalam waktu singkat menuntut penyediaan lahan, pendanaan, serta kapasitas teknis yang masih terbatas. Pemerintah harus mengoptimalkan skema pembiayaan hijau, seperti obligasi hijau (green bonds) dan kerjasama publik‑swasta (PPP), untuk menarik investasi swasta. Tanpa mekanisme insentif yang kuat, risiko keterlambatan proyek dan over‑budget tetap tinggi.

Dari perspektif bisnis, sektor EPC (Engineering, Procurement, Construction) dan manufaktur panel surya akan mengalami lonjakan permintaan. Perusahaan lokal yang mampu bersaing dalam kualitas dan harga akan memperoleh kontrak besar, sementara importir panel dari China mungkin akan tertekan oleh kebijakan proteksi. Investor harus menilai risiko regulasi, terutama terkait kepemilikan lahan dan tarif feed‑in yang masih dalam tahap penetapan.

Terakhir, keberhasilan program ini sangat bergantung pada integrasi jaringan listrik (grid integration). PLTS bersifat intermiten; tanpa investasi pada penyimpanan energi (baterai) dan smart grid, potensi kelebihan produksi dapat terbuang. Pemerintah perlu menyelaraskan kebijakan PLTS dengan pengembangan infrastruktur penyimpanan dan digitalisasi jaringan untuk memastikan stabilitas pasokan listrik di seluruh kepulauan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menutup semua pembangkit diesel?
  • A: Pemerintah menargetkan penutupan total 13 GW diesel dalam dua tahun ke depan, dengan fase pertama selesai pada akhir 2025.
  • Q: Bagaimana cara desa mendapatkan PLTS 1 MW?
  • A: Desa dapat mengajukan proposal ke Kementerian Energi, menyediakan lahan, dan menerima pendanaan serta teknologi melalui skema PPP atau hibah pemerintah.
  • Q: Apa dampak ekonomi dari penghematan Rp73,9 triliun?
  • A: Penghematan tersebut dapat dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, pengurangan defisit anggaran, atau subsidi energi bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸