China Kian Disukai Negara Berkembang, AS Tersisih: Apa Artinya bagi Bisnis Global?
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Survei Pew Research Center mengungkap China kini lebih positif dibandingkan AS di mayoritas negara.
- Inisiatif Belt and Road Initiative telah menyalurkan hampir US$1 triliun untuk infrastruktur di negara‑negara berkembang.
- Negara‑negara Global South memilih pragmatisme ekonomi, bukan anti‑AS, dalam kebijakan luar negeri mereka.
Jakarta, CNBC Indonesia – Peta persepsi global kini bergeser tajam. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, China memperoleh citra lebih positif dibandingkan Amerika Serikat di lebih banyak negara, menurut survei terbaru Pew Research Center. Perubahan ini menandakan bahwa kekuatan geopolitik kini diukur bukan hanya lewat militer atau diplomasi tradisional, melainkan lewat kemampuan menyalurkan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan langsung.
Para pembuat kebijakan di Global South kini lebih mengutamakan kepentingan nasional, peluang investasi, dan agenda pembangunan. Pendekatan Beijing yang menekankan infrastruktur, transfer teknologi, dan akses pasar bebas bea masuk menjadi magnet bagi negara‑negara yang masih berada dalam fase industrialisasi. Melalui Belt and Road Initiative, China telah menggerakkan hampir US$1 triliun (sekitar Rp17.800 triliun) untuk proyek‑proyek transportasi, energi, dan konektivitas di Afrika, Asia, dan Amerika Latin.
Keberhasilan proyek‑proyek seperti jaringan kereta api di Ethiopia atau pembangkit listrik di Pakistan memberikan bukti konkret bahwa investasi China dapat meningkatkan produktivitas dan kapasitas lokal dalam waktu singkat. Selain itu, China juga memperluas skema pertukaran mata uang dan mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan lintas batas, yang secara signifikan menurunkan biaya transaksi dan mengurangi eksposur terhadap fluktuasi dolar.
Diplomasi Beijing yang menekankan kedaulatan, saling menghormati, dan non‑intervensi menjadi nilai jual tambahan. Bagi banyak pemerintah, ini berarti ruang lebih leluasa untuk menentukan jalur politik dan pembangunan tanpa tekanan eksternal yang bersifat ideologis. Transformasi ekonomi China selama empat dekade—dari mengangkat ratusan juta orang keluar dari kemiskinan hingga menjadi pusat manufaktur global—menjadi model yang sangat menarik bagi negara‑negara yang masih berjuang menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan daya saing.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya melihat fenomena ini sebagai manifestasi dari pergeseran struktural dalam aliran modal global. China tidak lagi sekadar menjadi “pabrik dunia”; ia kini bertransformasi menjadi penyedia infrastruktur finansial yang menghubungkan rantai nilai regional. Bagi investor, ini membuka kelas aset baru—obligasi infrastruktur, saham perusahaan kontraktor China, serta instrumen keuangan yang terkait dengan proyek BRI. Namun, risiko politik tetap ada, terutama terkait transparansi kontrak, standar lingkungan, dan potensi over‑leverage pada negara‑peminjam.
Selanjutnya, penurunan citra AS di mata negara‑negara berkembang menandakan kegagalan kebijakan luar negeri Washington dalam menyesuaikan diri dengan realitas ekonomi pasca‑pandemi. Kebijakan proteksionis dan persaingan teknologi yang intensif justru menambah beban biaya bagi negara‑negara yang masih membutuhkan akses pasar terbuka. Di sisi lain, Amerika Serikat masih memegang keunggulan dalam inovasi teknologi tinggi dan layanan keuangan, namun harus mengubah narasi dari “penjaga keamanan” menjadi “mitra pembangunan” jika ingin kembali relevan.
Strategi China yang menggabungkan investasi infrastruktur dengan diplomasi ekonomi berpotensi menciptakan “ekosistem ketergantungan” yang menguntungkan Beijing dalam jangka menengah. Negara‑negara penerima manfaat harus menilai dengan cermat apakah proyek‑proyek tersebut meningkatkan kemandirian ekonomi atau justru menambah beban utang yang tidak berkelanjutan. Penguatan kapasitas lokal melalui transfer teknologi menjadi kunci; tanpa itu, manfaat jangka panjang akan terbatas.
Kesimpulannya, pergeseran persepsi ini bukan sekadar soal citra, melainkan tentang alokasi sumber daya global. Investor dan pembuat kebijakan harus menyesuaikan portofolio serta strategi diplomatik mereka untuk memanfaatkan peluang yang muncul, sambil tetap mengawasi risiko geopolitik yang dapat memicu volatilitas pasar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa China kini lebih disukai daripada AS di negara‑negara berkembang?
A: Karena China menawarkan investasi infrastruktur yang nyata, akses pasar bebas bea masuk, serta diplomasi yang menekankan kedaulatan dan non‑intervensi, sementara AS lebih fokus pada keamanan dan teknologi tinggi. - Q: Apa dampak Belt and Road Initiative terhadap perekonomian Indonesia?
A: BRI dapat membuka peluang kerjasama di sektor transportasi, energi, dan logistik, namun Indonesia harus menilai risiko utang dan memastikan proyek‑proyek tersebut selaras dengan prioritas pembangunan nasional. - Q: Bagaimana investor dapat memanfaatkan tren ini?
A: Investor dapat mempertimbangkan obligasi infrastruktur, saham perusahaan kontraktor China, serta dana yang menargetkan rantai nilai regional yang didukung oleh proyek BRI.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BPS Catat Surplus Neraca Dagang RI September 2025 Tembus US$3,36 Miliar, Melebihi Ekspektasi Ekonom

PLN Tetapkan Tarif Listrik Non-Subsidi Q4 2026 Tetap, Berikut Daftar 13 Golongan

Doha Jadi Pusat Perundingan Kritis: Iran dan Qatar Dorong Akhir Konflik AS-Israel
