Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Mengenang Zhu Rongji: 'Sang Bos' Reformis Ekonomi China dan Pemburu Koruptor yang Tutup Usia

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Mengenang Zhu Rongji: 'Sang Bos' Reformis Ekonomi China dan Pemburu Koruptor yang Tutup Usia
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Mantan Perdana Menteri China ke-5, Zhu Rongji, meninggal dunia pada usia 97 tahun di Beijing.
  • Ia dikenal sebagai arsitek reformasi ekonomi radikal yang membawa China masuk ke WTO dan menjuluki dirinya siap menyediakan "100 peti mati" untuk memberantas korupsi.
  • Meskipun kerap dibanding-bandingkan dengan tokoh reformis Uni Soviet, Zhu tetap setia pada ideologi Partai Komunis China demi stabilitas nasional.

Mantan Perdana Menteri China, Zhu Rongji, yang dikenal luas sebagai salah satu arsitek utama modernisasi ekonomi Tiongkok, dilaporkan meninggal dunia di Beijing pada usia 97 tahun. Menjabat sebagai perdana menteri dari tahun 1998 hingga 2003, Zhu meninggalkan warisan mendalam yang membentuk wajah perekonomian global abad ke-21.

Zhu dipanggil ke Beijing pada tahun 1991 di bawah kepemimpinan Presiden Jiang Zemin, sebuah periode krusial pasca-peristiwa Tiananmen 1989 dan runtuhnya Uni Soviet. Sebagai Wakil Perdana Menteri dan Gubernur Bank Rakyat Tiongkok (1993-1995), ia memikul tanggung jawab berat untuk menyelamatkan ekonomi negara yang saat itu terancam kembali ke isolasi era Mao Zedong.

Dengan pendekatan yang pragmatis namun keras, Zhu meluncurkan reformasi struktural yang berani, termasuk restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak efisien dan modernisasi infrastruktur secara masif. Langkah-langkah kontroversial ini berhasil mentransformasi China menjadi "pabrik dunia". Puncak prestasinya adalah keberhasilan mengamankan keanggotaan China di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 2001 setelah negosiasi alot selama lebih dari satu dekade, termasuk kesepakatan bersejarah dengan Amerika Serikat.

Selain reformasi ekonomi, Zhu sangat populer karena sikap tanpa kompromi terhadap korupsi. Julukan "Sang Bos" melekat padanya setelah ia melontarkan pernyataan legendaris pada tahun 1998: "Saya telah menyiapkan 100 peti mati—99 untuk pejabat korup dan satu untuk diri saya sendiri." Ketegasannya dalam menegakkan pemberantasan korupsi menjadikannya salah satu pemimpin yang paling dihormati, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Analisis Pakar

Dari perspektif hubungan internasional, wafatnya Zhu Rongji menandai berakhirnya era para teknokrat pragmatis yang meletakkan fondasi bagi kebangkitan China sebagai kekuatan hegemonik baru. Zhu bukan sekadar administrator; ia adalah seorang visioner realis yang memahami bahwa kelangsungan hidup Partai Komunis China (PKC) sangat bergantung pada legitimasi kinerja ekonomi. Keputusannya untuk mengintegrasikan China ke dalam sistem kapitalisme global melalui WTO adalah pertaruhan geopolitik terbesar abad ini. Langkah ini tidak hanya menyelamatkan China dari stagnasi pasca-Perang Dingin, tetapi juga memaksa Barat mendefinisikan ulang rantai pasok global yang kini berpusat di Beijing.

Kampanye anti-korupsi Zhu yang agresif—yang digambarkan dengan metafora "100 peti mati"—menunjukkan pemahaman mendalam tentang ancaman eksistensial yang dihadapi rezim otoriter. Korupsi sistemik di tingkat lokal berpotensi memicu revolusi sosial yang dapat meruntuhkan legitimasi partai. Dengan bertindak sebagai "jagal" bagi pejabat korup, Zhu berhasil membangun citra moralitas publik yang kuat bagi PKC. Namun, pendekatan ini juga menunjukkan keterbatasan reformasi di China: alih-alih membangun institusi hukum yang independen dan transparan, pemberantasan korupsi tetap bergantung pada kemauan politik individu (top-down), sebuah pola yang kini diteruskan dan diperluas oleh Presiden Xi Jinping dengan kampanye "harimau dan lalat"-nya.

Julukan "Gorbachev-nya China" yang disematkan oleh pengamat Barat kepada Zhu sebenarnya salah kaprah dan mengabaikan realitas politik domestik Tiongkok. Berbeda dengan Mikhail Gorbachev yang melakukan reformasi politik (glasnost) yang berujung pada runtuhnya Uni Soviet, Zhu Rongji justru melakukan reformasi ekonomi (perestroika versi China) untuk memperkuat kontrol partai tunggal. Bagi Zhu, liberalisasi ekonomi adalah alat, sedangkan stabilitas politik dan supremasi PKC adalah tujuan akhir. Ia membuktikan bahwa otoritarianisme dapat berjalan beriringan dengan efisiensi pasar, sebuah model pembangunan yang kini dikenal sebagai "Konsensus Beijing" dan menjadi tantangan langsung bagi demokrasi liberal Barat.

Kini, saat China menghadapi perlambatan ekonomi, ketegangan geopolitik dengan AS, dan tantangan utang domestik, warisan Zhu Rongji menjadi semakin relevan. Gaya kepemimpinannya yang blak-blakan, pragmatis, dan berani mengambil risiko sangat kontras dengan birokrasi China saat ini yang cenderung lebih ideologis dan tersentralisasi di bawah Xi Jinping. Kepergian Zhu adalah pengingat bahwa lompatan besar China menuju status negara adidaya tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui keputusan-keputusan sulit dan menyakitkan yang diambil oleh para pemimpin yang berani menantang status quo demi masa depan negaranya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Siapa Zhu Rongji dan apa perannya yang paling terkenal di China?
A: Zhu Rongji adalah Perdana Menteri China ke-5 (1998-2003) yang terkenal sebagai arsitek reformasi ekonomi modern China, pemburu koruptor yang tegas, serta tokoh kunci di balik masuknya China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Q: Mengapa Zhu Rongji dijuluki sebagai 'jagal para koruptor'?
A: Julukan ini merujuk pada komitmennya yang tanpa kompromi terhadap pemberantasan korupsi, yang paling terkenal digambarkan lewat pernyataannya bahwa ia menyiapkan "100 peti mati; 99 untuk pejabat korup dan satu untuk dirinya sendiri."

Q: Apa perbedaan mendasar antara reformasi Zhu Rongji dengan Mikhail Gorbachev?
A: Berbeda dengan Gorbachev yang membuka ruang reformasi politik yang berujung pada runtuhnya Uni Soviet, Zhu Rongji fokus pada reformasi ekonomi pasar bebas yang ketat dengan tujuan utama memperkuat stabilitas dan kekuasaan Partai Komunis China.

Meow! Tanya Nesi!
😸