Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Misteri Kematian Sutrimo: Foto Terakhir Menguak Kebohongan Keluarga dan Penyelidikan Ekshumasi

KriminalSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Misteri Kematian Sutrimo: Foto Terakhir Menguak Kebohongan Keluarga dan Penyelidikan Ekshumasi
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Sutrimo, mantan Kepala Rumah Tangga (Karumga) eks Jampidsus Febrie Adriansyah, mengirimkan foto-foto aktivitasnya hingga dini hari sebelum ditemukan tewas secara misterius di Jakarta Selatan.
  • Keluarga di Banyumas mengungkapkan riwayat pesan yang tampak normal, tanpa keluhan kesehatan, menimbulkan kecurigaan atas penyebab kematian.
  • Polisi kini memulai proses ekshumasi untuk mengusut kembali jenazah, sementara pihak keluarga menuntut transparansi atas dokumen medis dan barang pribadi yang belum kembali.

Jakarta – Polisi Metro Jaya mengumumkan akan melakukan ekshumasi terhadap jenazah Sutrimo, mantan Kepala Rumah Tangga (Karumga) eks Jampidsus Febrie Adriansyah. Ekshumasi, yang berarti penggalian kembali makam, dimaksudkan untuk mengungkap fakta-fakta yang masih samar mengenai kematian Sutrimo yang ditemukan tewas dengan kondisi mulut berbusa di depan klinik kecantikan Mordent, Jakarta Selatan, pada akhir Juli 2026.

Menurut kuasa hukum keluarga, Aan Rohaeni, Sutrimo masih aktif berkomunikasi dengan anggota keluarganya di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, hingga pukul 03.18 WIB pada 23 Juli 2026. Pada waktu itu, ia mengirimkan foto makanan berupa ayam goreng Lamongan yang disajikan di atas piring hijau, lengkap dengan lalapan. Tak lama setelah itu, sekitar pukul 04.00 WIB, Sutrimo mengirimkan foto dirinya duduk di seberang rumah utama milik Febrie Adriansyah.

Komunikasi berlanjut hingga pukul 06.00 WIB ketika adik Sutrimo membalas pesan dengan mengirimkan video keponakannya. Namun, tidak ada balasan dari Sutrimo. Pada pukul 08.00 WIB, telepon seluler keluarga berdering dari nomor Sutrimo, namun yang menjawab bukan almarhum melainkan seorang pria yang mengaku sebagai temannya. Pria tersebut mengabarkan bahwa Sutrimo telah meninggal dunia pada pukul 08.30 WIB.

Keluhan kesehatan yang pernah dilaporkan Sutrimo, yakni pembengkakan kaki, ternyata tidak muncul dalam riwayat percakapan WhatsApp antara 19‑23 Juli 2026. “Tidak ada keluhan sakit sama sekali dalam chat‑chat itu,” tegas Aan. Sebaliknya, pesan‑pesan tersebut dipenuhi foto‑foto kebahagiaan: makan bersama ajudan Pak Febrie, menerima hadiah minyak wangi, dan interaksi hangat dengan keponakan.

Keluarga awalnya menerima jenazah yang sudah dikafani dan bersih tanpa curiga. Namun, setelah menelusuri dokumen rumah sakit, kondisi fisik jenazah, serta barang pribadi yang belum dikembalikan, mereka melaporkan dugaan kematian tak wajar ke kepolisian setempat. Laporan tersebut kini diteruskan ke Polda Metro Jaya untuk ditindaklanjuti melalui ekshumasi.

Analisis Pakar

Kasus ini menyoroti kegagalan sistem forensik dalam menangani kematian yang tidak jelas. Ekshumasi, yang biasanya dipakai untuk mengungkap penyebab kematian yang dipertanyakan, menjadi satu‑satunya jalan keluar ketika bukti visual (seperti foto-foto terakhir) tidak dapat menjelaskan fenomena mulut berbusa. Foto-foto Sutrimo yang tampak normal justru menambah kerumitan: mereka menunjukkan seorang pria yang aktif, sehat, dan terhubung secara sosial, bertolak belakang dengan kondisi fisik yang ditemukan di tempat kejadian.

Selain itu, peran pihak medis dan penyidik harus dipertanyakan. Dokumen rumah sakit yang belum lengkap dan ketidaksesuaian antara laporan medis dengan kondisi jenazah menandakan potensi manipulasi atau kelalaian. Dalam konteks Indonesia, kasus serupa sering kali terhambat oleh kurangnya transparansi dan prosedur standar yang konsisten, terutama ketika melibatkan tokoh publik atau orang dengan jaringan politik.

Komunikasi digital Sutrimo menjadi bukti penting yang harus dipertimbangkan dalam penyelidikan. Pesan‑pesan yang tidak menunjukkan gejala penyakit atau rasa sakit dapat menjadi indikasi bahwa kematian terjadi secara tiba‑tiba, bukan karena kondisi medis yang sudah lama diderita. Namun, fakta bahwa seorang “teman” menghubungi keluarga pada jam 08.30 WIB dan menyampaikan kabar duka menimbulkan pertanyaan tentang siapa sebenarnya orang tersebut dan mengapa ia tidak langsung menghubungi pihak berwenang.

Terakhir, kasus ini mengingatkan kita pada pentingnya pengawasan independen terhadap proses identifikasi jenazah. Keluarga yang merasa haknya terabaikan harus diberikan akses penuh ke semua catatan medis, foto, dan barang pribadi almarhum. Tanpa itu, kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum akan terus tergerus, dan kasus serupa akan terus berulang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu ekshumasi dan mengapa dilakukan dalam kasus ini?
    A: Ekshumasi adalah proses penggalian kembali jenazah untuk memeriksa penyebab kematian secara forensik. Dilakukan karena kondisi kematian Sutrimo dianggap mencurigakan dan bukti awal belum cukup.
  • Q: Apakah ada bukti bahwa Sutrimo mengalami masalah kesehatan sebelum meninggal?
    A: Tidak ada catatan keluhan sakit dalam percakapan WhatsApp antara 19‑23 Juli 2026, meskipun sebelumnya ia sempat mengeluh tentang pembengkakan kaki.
  • Q: Siapa yang menghubungi keluarga pada pukul 08.30 WIB dan mengabarkan kematian Sutrimo?
    A: Seorang pria yang mengaku sebagai teman Sutrimo, namun identitasnya belum diverifikasi oleh pihak berwenang.

BERITA TERKAIT (Kriminal)

Meow! Tanya Nesi!
😸