Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Industri Sepatu Indonesia Melaju Pesat, Tapi Tarif AS dan Geopolitik Jadi Bumerang

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Industri Sepatu Indonesia Melaju Pesat, Tapi Tarif AS dan Geopolitik Jadi Bumerang
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Produk kulit, barang kulit, dan alas kaki Indonesia tumbuh 11,30% pada Q2‑2026, tercatat tertinggi dalam 15 kuartal terakhir.
  • Pertumbuhan dipicu rebound ekspor, namun masih tertekan oleh tarif Amerika Serikat, kenaikan bahan baku, dan ketidakpastian geopolitik.
  • Kesempatan pasar baru lewat IEU‑CEPA menjanjikan tarif 0% ke Uni Eropa, sementara persaingan dengan India dan Kamboja semakin ketat.

Jakarta, CNBC Indonesia – Industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencatat pertumbuhan impresif 11,30% pada kuartal II‑2026. Angka ini menandai rekor tertinggi dalam 15 kuartal terakhir dan mengindikasikan adanya rebound permintaan ekspor setelah masa penurunan.

Namun, di balik angka positif tersebut, sektor masih bergulat dengan rangkaian tantangan: geopolitik yang mengganggu rantai pasok, lonjakan harga bahan baku hingga 30‑40%, serta kebijakan perdagangan yang berubah‑ubah di negara tujuan ekspor. Lebih kritis lagi, tarif impor Amerika Serikat (AS) yang berada di kisaran 10% menambah beban kompetitif bagi eksportir Indonesia, khususnya bila dibandingkan dengan produsen seperti India dan Kamboja.

Menurut Yoseph Billie Dosiwoda, Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), data Badan Pusat Statistik (BPS) memang menunjukkan fase ekspansi, namun “kita tidak boleh lengah”. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan saat ini lebih mencerminkan rebound ekspor dan penyesuaian siklus global, bukan pemulihan menyeluruh di seluruh pelaku industri.

Di sisi lain, peluang ekspor ke Eropa terbuka lebar lewat Indonesia‑European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU‑CEPA). Jika tarif 0% dapat diimplementasikan pada awal 2027, pasar Uni Eropa berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru bagi produk alas kaki Indonesia.

Meski demikian, tekanan dari pasar domestik tetap signifikan. Produk impor yang masuk dengan harga kompetitif menggerus pangsa pasar lokal, menambah beban bagi produsen dalam negeri yang harus menyeimbangkan antara kualitas, harga, dan inovasi.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat bahwa pertumbuhan 11,30% bukan sekadar angka statistik, melainkan sinyal bahwa industri sepatu Indonesia berada di persimpangan penting antara peluang dan risiko. Rebound ekspor menunjukkan bahwa permintaan global kembali mengakui nilai tambah produk Indonesia, terutama dalam segmen mid‑to‑high end yang mengandalkan desain dan kualitas kulit di pasar internasional. Namun, ketergantungan pada pasar AS menimbulkan kerentanan struktural. Tarif 10% yang dikenakan AS tidak hanya mengurangi margin eksportir, tetapi juga memberi ruang bagi kompetitor seperti India yang menikmati tarif lebih rendah atau bahkan bebas bea di beberapa kategori.

Geopolitik menjadi faktor penggerak yang sering diabaikan. Konflik di wilayah Asia‑Pasifik dan kebijakan proteksionis di negara‑negara utama dapat memicu fluktuasi harga bahan baku, terutama kulit mentah yang sebagian besar masih diimpor. Kenaikan biaya produksi hingga 40% dapat memaksa produsen menyesuaikan harga jual, yang pada gilirannya menurunkan daya saing di pasar internasional.

IEU‑CEPA menawarkan jendela strategis. Akses tarif 0% ke Uni Eropa dapat mengalihkan fokus ekspor dari AS ke pasar yang lebih stabil dan berpotensi lebih menguntungkan. Namun, realisasi kesepakatan ini memerlukan standar kualitas yang ketat, sertifikasi lingkungan, dan kepatuhan terhadap regulasi UE. Produsen yang belum mengadopsi praktik produksi berkelanjutan berisiko tertinggal.

Untuk mengoptimalkan momentum ini, pemerintah harus mempercepat penyelesaian restitusi PPN, menyederhanakan prosedur ekspor, dan menyediakan insentif bagi inovasi desain serta digitalisasi rantai pasok. Tanpa kebijakan yang mendukung, pertumbuhan yang terlihat kini dapat berbalik menjadi stagnasi ketika tekanan eksternal kembali memuncak.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa tarif AS menjadi beban bagi eksportir sepatu Indonesia?
    A: Tarif 10% yang dikenakan AS mengurangi margin keuntungan dan membuat produk Indonesia kurang kompetitif dibandingkan produsen seperti India yang menikmati tarif lebih rendah.
  • Q: Apa manfaat utama IEU‑CEPA bagi industri alas kaki Indonesia?
    A: IEU‑CEPA dapat memberikan akses tarif 0% ke pasar Uni Eropa, membuka peluang ekspor yang lebih luas dan mengurangi ketergantungan pada pasar AS.
  • Q: Bagaimana geopolitik memengaruhi biaya bahan baku industri sepatu?
    A: Ketidakpastian geopolitik mengganggu rantai pasok dan dapat menyebabkan lonjakan harga bahan baku hingga 30‑40%, yang pada gilirannya menekan profitabilitas produsen.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸