Generasi Z Disorot: KELANA Bawa 13 SMA ke Frontline Transisi Energi di Yogyakarta
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- 13 siswa SMA mengunjungi fasilitas Pertamina, Rutan, dan TPS3R di Yogyakarta untuk menyaksikan praktik transisi energi, ekonomi sirkular, dan konservasi.
- Program KELANA menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, menantang peserta mengkritisi kebijakan lingkungan sekaligus menyebarkan pengetahuan.
- Dialog kritis bersama WALHI menutup rangkaian kegiatan, menyoroti tantangan ekologi Yogyakarta dan peluang aksi generasi muda.
Yogyakarta, 9 Agustus 2024 â Sebanyak tiga belas pelajar SMA dipertemukan dengan realitas krisis ekologi melalui kunjungan lapangan yang digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dalam rangka KELANA Edisi 3 bertajuk âJava Overtripâ. Program ini menolak model pembelajaran konvensional; alih-alih seminar, peserta disodorkan pada âeksperimenâ nyata di mana industri, pemerintah, lembaga pemasyarakatan, dan LSM bersinergi.
Rombongan memulai tur di Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu. Di sana, mereka tidak hanya menyaksikan proses distribusi BBM, melainkan juga mengamati upaya konservasiâpenangkaran Rusa Jawa, peternakan ayam petelur, serta sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi. Manajer Komunikasi Regional, Taufik Kurniawan, menegaskan pentingnya menumbuhkan âjiwa endorserâ di kalangan muda untuk menulari praktik ramah lingkungan.
Selanjutnya, siswa diajak menelusuri fasilitas TPS3R internal perusahaan yang mengimplementasikan ekonomi sirkular: komposting, pencacahan plastik, pemanfaatan Besthing (bioâenergy untuk pencahayaan), budidaya maggot Black Soldier Fly, dan kolam bioflok yang menggabungkan budidaya ikan lele dengan pakan berbasis maggot. Praktikâpraktik ini menegaskan bahwa industri modern dapat mengubah limbah menjadi nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi jejak lingkungan.
Dari sana, rombongan meluncur ke Rutan Kelas IIB Bantul, tempat program ecoâfurniture mengubah limbah plastik menjadi furnitur bernilai jual. Kepala Rutan, Muhammad Syukron Ansori, menekankan bahwa inisiatif ini sekaligus menjadi sarana rehabilitasi sosial: warga binaan belajar keterampilan produksi sekaligus berkontribusi pada kebersihan lingkungan.
Langkah terakhir kunjungan adalah TPS3R Gosari, kolaborasi antara Fuel Terminal Rewulu dan Kalurahan Guwosari. Fasilitas ini menampilkan model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang membuka lapangan kerja hijau bagi warga setempat. Salah satu peserta, Amer Alif Algifahri (MAN 4 Jakarta), mencatat bahwa pengalaman ini mengajarkannya pentingnya sinergi lintas sektor dalam mengubah sampah menjadi aset produktif.
Hari pertama ditutup dengan dialog kritis bersama WALHI Eksekutif Daerah Yogyakarta. Diskusi menyoroti tantangan ekologi kota, mulai dari kawasan pesisir hingga tekanan urbanisasi, sekaligus menuntut generasi muda untuk mengembangkan argumen berbasis data dan solusi konstruktif.
Analisis Pakar
Program KELANA menandai langkah progresif dalam kebijakan pendidikan lingkungan Indonesia. Namun, keberhasilan inisiatif ini tidak boleh disalahartikan sebagai solusi akhir. Pertama, kunjungan ke fasilitas industri besar seperti Pertamina menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana transparansi operasional dapat dijamin. Tanpa audit independen, narasi âindustri bersihâ berisiko menjadi greenâwashing yang menutupi dampak lingkungan yang masih signifikan.
Kedua, kolaborasi dengan lembaga pemasyarakatan memang inovatif, tetapi harus diukur dengan standar hak asasi manusia. Program ecoâfurniture di Rutan Kelas IIB Bantul dapat menjadi contoh rehabilitasi produktif, namun tidak boleh mengalihkan perhatian dari kondisi dasar penjara yang masih memprihatinkan. Pemerintah perlu memastikan bahwa pelatihan semacam ini tidak menjadi alat eksploitasi tenaga kerja murah.
Ketiga, ekonomi sirkular sektor produksi yang dipamerkan di TPS3R masih berada dalam skala pilot. Untuk mengubah paradigma sampah menjadi sumber daya nasional, diperlukan regulasi yang memaksa perusahaan besar mengadopsi sistem serupa, bukan sekadar pilihan sukarela. Insentif fiskal, standar limbah yang ketat, dan mekanisme pelaporan publik harus menjadi bagian integral kebijakan.
Akhirnya, dialog dengan WALHI menegaskan pentingnya peran generasi Z sebagai pengawas kebijakan. Namun, tanpa dukungan institusionalâseperti akses data lingkungan terbuka dan ruang publik yang aman untuk advokasiâkritik mereka akan tetap terpinggirkan. Pemerintah harus mengukuhkan mekanisme partisipatif yang melibatkan pemuda dalam perencanaan dan evaluasi kebijakan lingkungan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa tujuan utama program KELANA?
- A: KELANA bertujuan memberikan pengalaman lapangan kepada generasi muda tentang transisi energi, ekonomi sirkular, dan konservasi, sekaligus menumbuhkan kemampuan kritis terhadap kebijakan lingkungan.
- Q: Bagaimana Pertamina Patra Niaga mengintegrasikan konservasi ke dalam operasionalnya?
- A: Pertamina mengelola area konservasi di sekitar Fuel Terminal Rewulu, termasuk penangkaran Rusa Jawa, peternakan ayam petelur, dan sistem pengolahan limbah yang menghasilkan kompos, energi, serta produk bernilai lainnya.
- Q: Apa manfaat ecoâfurniture bagi warga binaan di Rutan Kelas IIB Bantul?
- A: Program ecoâfurniture mengubah limbah plastik menjadi furnitur, memberikan pelatihan keterampilan, meningkatkan kemandirian ekonomi, dan sekaligus mengurangi volume sampah plastik.


