Indonesia Buktikan Kebal Deindustrialisasi: Tiga Sektor Produksi Catat Pertumbuhan Dua Digit

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Indonesia Buktikan Kebal Deindustrialisasi: Tiga Sektor Produksi Catat Pertumbuhan Dua Digit
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Data terbaru menunjukkan industri pengolahan Indonesia masih tumbuh, menolak anggapan deindustrialisasi.
  • Tiga subsektor—industri pengolahan lainnya, furnitur, dan alas kaki—mencatat pertumbuhan dua digit pada kuartal terakhir.
  • Faktor pendorong meliputi kebijakan insentif fiskal, peningkatan permintaan domestik, dan pergeseran rantai pasok pasca‑pandemi.

Jakarta, CNBC Indonesia – Isu deindustrialisasi kembali mengemuka setelah beberapa analis internasional menyoroti penurunan kontribusi manufaktur terhadap PDB. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2026, tiga subsektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan yang tidak hanya stabil, melainkan melesat hingga mencapai angka dua digit.

Subsektor industri pengolahan lainnya—yang mencakup produk kimia ringan, plastik, dan barang konsumen non‑makanan—berkembang 12,4% YoY, didorong oleh kenaikan permintaan bahan baku lokal serta kebijakan tarif impor yang lebih ketat. Sektor furnitur mencatat pertumbuhan 10,9% berkat peningkatan investasi di kawasan industri Jawa Barat dan Sumatra Selatan, serta dukungan program Made in Indonesia yang mempermudah akses pembiayaan bagi UMKM. Sektor alas kaki tidak kalah impresif dengan pertumbuhan 11,3%, berkat ekspansi pasar ekspor ke ASEAN dan upaya diversifikasi produk yang menargetkan segmen premium.

Faktor utama yang memicu lonjakan ini meliputi:

  • Insentif fiskal: Pemerintah memperpanjang pembebasan pajak bagi investasi di sektor manufaktur hingga 2028, serta memberikan kredit lunak melalui LPSK.
  • Peningkatan permintaan domestik: Kenaikan daya beli masyarakat pasca‑COVID‑19 meningkatkan konsumsi barang tahan lama, termasuk furnitur dan sepatu.
  • Pergeseran rantai pasok: Krisis logistik global memaksa perusahaan untuk mengalihkan produksi ke dalam negeri, menciptakan peluang bagi pemasok lokal.

Dengan tren ini, klaim deindustrialisasi tampak terlalu simplistik. Sementara kontribusi manufaktur terhadap PDB memang menurun secara marginal, pertumbuhan subsektor strategis menunjukkan bahwa struktur industri Indonesia sedang bertransformasi, bukan menyusut.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya menilai bahwa data pertumbuhan dua digit pada tiga subsektor kunci ini merupakan sinyal penting bagi kebijakan industri nasional. Pertama, pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa kebijakan insentif fiskal yang diterapkan pemerintah mulai berbuah, terutama dalam mengurangi beban biaya modal bagi pelaku industri. Kedua, pergeseran rantai pasok global yang dipicu oleh gejolak geopolitik dan pandemi memberi peluang bagi produsen lokal untuk mengisi celah yang sebelumnya diisi oleh impor. Ini bukan hanya soal kuantitas produksi, melainkan kualitas nilai tambah yang kini lebih terfokus pada desain, inovasi, dan standar internasional.

Namun, tantangan tetap ada. Ketersediaan tenaga kerja terampil, terutama di bidang teknik dan manajemen rantai pasok, masih menjadi bottleneck. Pemerintah perlu memperkuat program vokasi dan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri untuk memastikan bahwa pertumbuhan tidak hanya bersifat sementara. Selain itu, infrastruktur logistik—dari pelabuhan hingga jaringan jalan—harus terus ditingkatkan agar keunggulan kompetitif Indonesia tidak terkikis oleh biaya transportasi yang masih relatif tinggi.

Selanjutnya, diversifikasi pasar ekspor menjadi krusial. Sektor alas kaki, misalnya, telah menunjukkan potensi besar di pasar ASEAN, namun ketergantungan pada satu wilayah dapat meningkatkan risiko. Strategi pemerintah untuk membuka akses ke pasar Eropa dan Amerika Utara melalui perjanjian perdagangan bebas harus dipercepat, sekaligus memastikan standar produk memenuhi regulasi internasional.

Kesimpulannya, Indonesia tidak berada dalam fase deindustrialisasi, melainkan dalam fase transformasi struktural. Jika kebijakan pendukung terus konsisten—baik dalam hal fiskal, pendidikan, maupun infrastruktur—pertumbuhan dua digit ini dapat menjadi katalisator bagi peningkatan kontribusi manufaktur terhadap PDB dalam jangka menengah hingga panjang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah Indonesia benar‑benar mengalami deindustrialisasi?
    A: Data terbaru menunjukkan pertumbuhan signifikan di beberapa subsektor manufaktur, sehingga klaim deindustrialisasi belum terbukti.
  • Q: Sektor mana yang paling berkontribusi pada pertumbuhan industri pengolahan?
    A: Furnitur, alas kaki, dan industri pengolahan lainnya (kimia ringan, plastik) mencatat pertumbuhan dua digit.
  • Q: Apa kebijakan pemerintah yang mendukung pertumbuhan ini?
    A: Insentif pajak, kredit lunak melalui LPSK, dan program ā€œMade in Indonesiaā€ yang mempermudah pembiayaan bagi UMKM.
Meow! Tanya Nesi!
😸