Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gagal Gulingkan Rezim Iran: Borok Internal Mossad Terbongkar, Trump Mulai Depak Netanyahu?

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gagal Gulingkan Rezim Iran: Borok Internal Mossad Terbongkar, Trump Mulai Depak Netanyahu?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Mossad memecat dua pejabat senior, termasuk kepala divisi Iran, setelah kegagalan operasi rahasia yang bertujuan menggulingkan rezim Teheran.
  • Kegagalan ini memperlebar keretakan hubungan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump, yang merasa disesatkan oleh estimasi intelijen Israel.
  • Meskipun pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan sebelumnya, transisi kekuasaan ke putranya, Mojtba Khamenei, berjalan mulus, mematahkan prediksi keruntuhan rezim.

Yerusalem – Dinamika internal badan intelijen luar negeri Israel, Mossad, kini berada di titik nadir setelah kegagalan operasi strategis di Iran memicu perombakan besar-besaran. Dua pejabat senior—kepala direktorat intelijen yang baru menjabat beberapa bulan dan kepala divisi Iran—dilaporkan telah dipecat dari jabatannya. Langkah disipliner ini diambil setelah rencana rahasia untuk memicu pemberontakan rakyat guna menggulingkan pemerintahan teokratis Iran gagal total bahkan sebelum memasuki fase operasional.

Menurut laporan eksklusif dari media Israel, Channel 12, ketegangan internal telah lama membara antara Kepala Mossad, Roman Gofman, dan kedua pejabat tersebut. Kegagalan misi ini menjadi katalisator utama pemecatan mereka, di tengah reorganisasi besar-besaran yang berfokus pada redefinisi prioritas keamanan Israel terhadap Teheran. Misi ambisius tersebut awalnya dirancang dengan skenario matang, termasuk koordinasi intensif dengan Amerika Serikat mengenai transisi kekuasaan pasca-rezim.

Namun, realitas di lapangan berkata lain. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya sempat mengakui secara skeptis bahwa meruntuhkan kekuasaan di Teheran adalah target yang sangat sulit dicapai. Retorika ini terbukti akurat ketika eskalasi militer pada 28 Februari lalu—yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei—tidak menghasilkan efek domino berupa runtuhnya pemerintahan Iran seperti yang diprediksikan intelijen Israel.

Sebaliknya, Teheran menunjukkan resiliensi politik yang mengejutkan. Transisi kekuasaan berjalan cepat dengan penunjukan Mojtba Khamenei, putra mendiang Ayatollah, sebagai pemimpin baru. Iran segera mengonsolidasikan kekuatannya dan melancarkan serangan balasan terhadap aset-aset militer AS di Timur Tengah, membuktikan bahwa struktur kekuasaan mereka tetap solid.

Kegagalan kalkulasi ini memicu kemarahan di Washington. Presiden AS Donald Trump dilaporkan sangat kecewa dengan Netanyahu, menganggap prediksi intelijen Israel 'nol besar.' Akibatnya, Trump mulai meminggirkan Netanyahu dari proses pengambilan keputusan strategis regional. Puncaknya terjadi pada 18 Juni, ketika AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) perdamaian—sebuah langkah diplomasi yang ditentang keras oleh Israel, meskipun implementasinya kini masih terhambat oleh ketegangan di koridor maritim Selat Hormuz.

Analisis Pakar

Dari perspektif hubungan internasional, pemecatan dua pejabat senior Mossad ini bukan sekadar masalah kegagalan taktis, melainkan cerminan dari krisis konseptual yang lebih dalam di tubuh intelijen Israel. Selama bertahun-tahun, doktrin keamanan Israel sangat bergantung pada asumsi bahwa rezim teokratis Iran berada di ambang kehancuran dan hanya membutuhkan dorongan eksternal yang tepat untuk runtuh. Kegagalan operasi terbaru ini membuktikan adanya confirmation bias yang parah di tingkat pengambil keputusan, di mana analisis intelijen dipaksa tunduk pada keinginan politik (wishful thinking) para pemimpinnya.

Transisi kekuasaan yang mulus kepada Mojtba Khamenei pasca-kematian ayahnya menunjukkan bahwa institusi politik dan militer Iran—khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)—memiliki mekanisme pertahanan domestik yang sangat tangguh. Kegagalan Mossad dalam memicu pemberontakan rakyat mengonfirmasi bahwa ketidakpuasan domestik di Iran tidak serta-merta dapat dikonversi menjadi gerakan pro-Barat atau pro-Israel. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi komunitas intelijen global bahwa perubahan rezim yang dipaksakan dari luar sering kali mengabaikan sosiologi politik lokal yang kompleks.

Secara geopolitik, keretakan hubungan antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu menandai pergeseran signifikan dalam aliansi AS-Israel. Trump, yang dikenal pragmatis dan transaksional, tampaknya menyadari bahwa mengikuti agenda eskalasi Israel di Timur Tengah justru merugikan kepentingan nasional AS. Keputusan Washington untuk menandatangani MoU dengan Teheran, meskipun ditentang keras oleh Tel Aviv, menunjukkan bahwa AS mulai memprioritaskan stabilitas regional dan containment ketimbang opsi perang terbuka yang tidak berujung.

Ke depan, Israel kemungkinan besar akan mengalami isolasi taktis jika terus memaksakan pendekatan militeristik sepihak. Tanpa dukungan penuh dari Washington, kemampuan Israel untuk melakukan operasi penetrasi mendalam di Iran akan sangat terbatas. Pemecatan di tubuh Mossad ini harus dilihat sebagai upaya darurat untuk menyelamatkan kredibilitas institusi tersebut di mata sekutu internasionalnya, sekaligus sinyal bahwa Israel perlu merumuskan ulang strategi jangka panjangnya terhadap poros Teheran.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Mossad memecat dua pejabat seniornya?
A: Pemecatan dilakukan setelah kegagalan operasi rahasia yang bertujuan memicu perlawanan rakyat untuk menggulingkan rezim Iran, yang bahkan gagal mencapai tahap operasional.

Q: Bagaimana respons AS terhadap kegagalan intelijen Israel ini?
A: Presiden Donald Trump dilaporkan kecewa dengan prediksi Netanyahu yang meleset dan mulai mengecualikan Israel dari keputusan strategis, bahkan melangkah maju dengan menandatangani MoU perdamaian dengan Iran.

Q: Siapa yang memimpin Iran setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei?
A: Kepemimpinan Iran diteruskan oleh putra mendiang Khamenei, yaitu Mojtba Khamenei, yang berhasil menjaga stabilitas pemerintahan teokratis tersebut tetap utuh.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸