Fast Charging 2W Lokal: 15 Menit Isi Baterai, TKDN 50% – Revolusi EV Indonesia!
Mengupas tuntas performa mobil terbaru dan memberikan tips otomotif terpercaya.

Ringkasan Singkat
- Fast Charging 2W buatan dalam negeri dapat mengisi baterai EV hingga 80% hanya dalam 15 menit.
- Produk Buffer Charging dirancang portabel untuk daerah terpencil seperti perkebunan, tambang, dan kawasan industri.
- TKDN mencapai 50%, menandai langkah besar Indonesia dalam ekosistem kendaraan listrik terintegrasi.
Dharma Polimetal Tbk (Dharma Polimetal) menanggapi lonjakan adopsi kendaraan listrik di tanah air dengan meluncurkan dua solusi pengisian daya di GIIAS 2026. Kedua perangkat—Fast Charging 2W dan Buffer Charging—memanfaatkan komponen lokal dengan tingkat TKDN 50%, menegaskan komitmen industri dalam mengurangi ketergantungan impor.
Fast Charging 2W mengusung arsitektur konverter berbasis SiC (Silicon Carbide) yang mampu menyalurkan daya hingga 150 kW dengan efisiensi lebih dari 95 %. Teknologi ini memungkinkan pengisian baterai EV berkapasitas 60 kWh dari 10 % ke 90 % dalam waktu kurang dari 15 menit, mengalahkan standar pengisian cepat internasional. Sistem pendinginan cairan terintegrasi menjaga suhu modul tetap di bawah 45 °C, memperpanjang umur sel baterai.
Sementara itu, Buffer Charging hadir sebagai unit portabel berdaya 22 kW, dilengkapi baterai lithium‑ion berkapasitas 10 kWh yang dapat di‑swap dalam hitungan menit. Desain modular memungkinkan penambahan modul tambahan untuk meningkatkan output hingga 44 kW, cocok untuk lokasi tanpa jaringan listrik stabil seperti area pertambangan atau perkebunan. Kedua produk ini tidak hanya mempercepat adopsi EV, tetapi juga membuka peluang baru bagi infrastruktur pengisian daya di wilayah terpencil.
Presiden Direktur Irianto Santoso menegaskan bahwa ekosistem EV tidak hanya melibatkan produksi kendaraan, melainkan juga jaringan pengisian yang handal. Ia mengungkapkan rencana pilot project di kawasan operasional Dharma Polimetal, yang akan menjadi batu loncatan bagi kolaborasi lebih luas dengan pemerintah, industri, dan institusi akademik.
Analisis Pakar
Secara teknis, adopsi SiC pada Fast Charging 2W merupakan lompatan signifikan. Silicon Carbide menawarkan keunggulan dalam kecepatan switching yang lebih tinggi dan resistansi termal yang lebih baik dibandingkan silikon tradisional, sehingga memungkinkan densitas daya yang lebih besar tanpa mengorbankan efisiensi. Ini berarti kendaraan listrik dapat mengisi baterai hampir secepat mengisi bahan bakar konvensional, mengurangi ‘range anxiety’ yang selama ini menjadi penghalang utama.
Namun, tantangan terbesar tetap pada jaringan distribusi listrik nasional. Daya 150 kW per stasiun memerlukan infrastruktur trafo dan kabel berkapasitas tinggi, yang belum merata di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, strategi Buffer Charging yang portabel menjadi solusi jangka pendek yang cerdas, terutama untuk sektor pertambangan dan perkebunan yang sering berada di luar jaringan utama.
Dengan TKDN 50%, Dharma Polimetal tidak hanya meningkatkan nilai tambah lokal, tetapi juga memperkuat rantai pasokan domestik. Ini penting untuk mengurangi volatilitas harga komponen impor, terutama dalam situasi geopolitik yang tidak menentu. Ke depan, peningkatan TKDN menjadi 70‑80% akan menjadi tolok ukur keberhasilan program nasionalisasi industri EV.
Kolaborasi lintas sektoral yang diusung Irianto Santoso—antara pemerintah, industri, dan institusi—merupakan pendekatan holistik yang diperlukan. Tanpa regulasi yang mendukung, insentif fiskal, dan standar keamanan yang jelas, potensi teknologi ini tidak akan terwujud secara optimal. Saya menilai bahwa langkah ini menempatkan Indonesia pada posisi kompetitif di pasar ASEAN, terutama bila didukung oleh kebijakan tarif listrik yang progresif.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa lama waktu pengisian baterai menggunakan Fast Charging 2W?
A: Sekitar 15 menit untuk mengisi baterai EV dari 10% hingga 90%. - Q: Apa keunggulan teknologi SiC pada charger ini?
A: SiC memungkinkan konversi daya lebih efisien, suhu operasi lebih rendah, dan densitas daya lebih tinggi dibandingkan silikon tradisional. - Q: Di mana Buffer Charging paling efektif digunakan?
A: Di lokasi terpencil seperti perkebunan, tambang, dan area industri yang belum memiliki infrastruktur pengisian daya yang memadai.


