Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Trump Semprot Raksasa Minyak: Exxon dan Chevron Diminta Turunkan Harga BBM Usai 'Bancakan' Konflik Iran

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Trump Semprot Raksasa Minyak: Exxon dan Chevron Diminta Turunkan Harga BBM Usai 'Bancakan' Konflik Iran
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Laba bersih Chevron melonjak hampir 400% menjadi US$12 miilar, sementara ExxonMobil naik dua kali lipat lebih menjadi US$14,5 miilar pada kuartal II 2026.
  • Kenaikan harga minyak mentah dunia dipicu oleh gangguan pasokan di Selat Hormuz, yang mendorong harga bensin di AS melonjak hingga US$4,10 per galon.
  • Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump , melayangkan kritik tajam kepada dua raksasa minyak global, ExxonMobil dan Chevron.

Ringkasan Singkat

  • Presiden AS Donald Trump mendesak ExxonMobil dan Chevron menurunkan harga BBM eceran setelah kedua raksasa migas tersebut meraup laba fantastis dari lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Israel dengan Iran.
  • Laba bersih Chevron melonjak hampir 400% menjadi US$12 miilar, sementara ExxonMobil naik dua kali lipat lebih menjadi US$14,5 miilar pada kuartal II 2026.
  • Kenaikan harga minyak mentah dunia dipicu oleh gangguan pasokan di Selat Hormuz, yang mendorong harga bensin di AS melonjak hingga US$4,10 per galon.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melayangkan kritik tajam kepada dua raksasa minyak global, ExxonMobil dan Chevron. Trump mendesak kedua korporasi tersebut untuk segera menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat konsumen setelah mereka membukukan lonjakan laba yang luar biasa akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Menurut laporan CNBC, Trump menilai keuntungan yang diraup kedua perusahaan tersebut "terlalu berlebihan" dan memanfaatkan situasi kelangkaan pasokan global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik dengan Iran. "Mereka menghasilkan terlalu banyak uang karena adanya kelangkaan. Saya tidak menyukainya," ujar Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.

Secara spesifik, Trump menyoroti kinerja keuangan kuartal II 2026. Chevron melaporkan laba bersih fantastis sebesar US$12 miilar (sekitar Rp192 triliun), meroket hampir 400 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar US$2,5 siliar. Di sisi lain, ExxonMobil juga mencatatkan kenaikan laba lebih dari dua kali lipat menjadi US$14,5 miilar dari sebelumnya US$7,1 miilar pada kuartal II 2025.

"Chevron, terlalu banyak uang. ExxonMobil, terlalu banyak uang. Mereka harus mengembalikan sebagian keuntungan itu kepada publik dan menurunkan harga eceran untuk konsumen," tegas Trump.

Lonjakan kinerja keuangan ini tidak lepas dari meroketnya harga minyak mentah AS yang melesat sekitar 20 persen sejak serangan militer AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Sebagai balasan, Iran memblokade jalur logistik vital di Selat Hormuz, memicu salah satu disrupsi pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern.

Selama periode April hingga Juni, harga minyak mentah AS bertengger di kisaran rata-rata US$92 per barel, naik 27 persen dari kuartal sebelumnya. Dampaknya langsung dirasakan konsumen; data AAA menunjukkan harga rata-rata bensin di AS menyentuh US$4,10 per galon, melonjak hampir 40 persen dari posisi sebelum konflik.

Merespons pernyataan keras Trump, saham Chevron terpantau melemah hampir 2 persen, sementara saham ExxonMobil bergerak fluktuatif cenderung melemah. Sentimen negatif ini juga diperparah oleh koreksi harga minyak dunia sebesar 5 persen seiring munculnya harapan negosiasi diplomatik antara AS dan Iran untuk meredakan ketegangan.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat fenomena ini sebagai contoh klasik dari windfall profit atau keuntungan nomplok yang lahir dari ketidakstabilan geopolitik, bukan dari efisiensi operasional murni. Desakan Donald Trump agar ExxonMobil dan Chevron menurunkan harga BBM secara sukarela sebenarnya adalah langkah politis yang populis, namun secara ekonomi mikro, hal ini menabrak logika pasar bebas. Perusahaan migas multinasional bekerja berdasarkan mekanisme penawaran dan permintaan global, serta berkewajiban memaksimalkan nilai bagi pemegang saham (shareholder value). Meminta mereka memangkas harga secara sepihak tanpa adanya intervensi regulasi atau subsidi adalah hal yang utopis.

Namun, dari perspektif makroekonomi, kekhawatiran Trump sangat beralasan. Lonjakan harga energi bertindak layaknya "pajak siluman" bagi konsumen. Ketika harga bensin menyentuh US$4,10 per galon, daya beli masyarakat langsung tergerus. Efek domino dari inflasi sektor energi ini sangat berbahaya karena dapat memicu kenaikan biaya logistik dan harga barang pokok lainnya. Jika dibiarkan, hal ini berpotensi memicu stagflasi—kondisi di mana pertumbuhan ekonomi melambat namun inflasi tetap tinggi. Oleh karena itu, tekanan politik dari Gedung Putih ini sebenarnya adalah upaya preventif untuk menjaga stabilitas konsumsi domestik AS yang menjadi motor utama PDB mereka.

Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, drama antara Trump dan raksasa migas ini memberikan pelajaran penting mengenai ketahanan energi. Ketergantungan yang tinggi pada impor minyak mentah membuat APBN kita sangat rentan terhadap guncangan di Selat Hormuz. Ketika harga minyak dunia bertahan di atas US$90 per barel, beban subsidi energi domestik akan membengkak secara dramatis. Pemerintah Indonesia harus jeli melihat situasi ini; diversifikasi energi ke arah energi terbarukan dan penguatan cadangan penyangga minyak (strategic petroleum reserves) bukan lagi sekadar opsi jangka panjang, melainkan kebutuhan mendesak untuk melindungi stabilitas fiskal nasional dari volatilitas global.

Secara keseluruhan, koreksi harga saham Exxon dan Chevron pasca-pernyataan Trump menunjukkan betapa sensitifnya pasar modal terhadap risiko regulasi dan intervensi verbal dari kepala negara. Ke depan, arah pergerakan harga minyak dan inflasi global akan sangat bergantung pada apakah AS dan Iran berhasil mencapai kesepakatan diplomatik. Jika negosiasi buntu, bersiaplah menghadapi era 'high-for-longer' untuk harga energi, yang pada akhirnya akan memaksa bank sentral global, termasuk Federal Reserve dan Bank Indonesia, untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama lagi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa laba ExxonMobil dan Chevron melonjak sangat tajam?
A: Laba kedua raksasa migas ini melonjak drastis karena kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh konflik geopolitik antara AS-Israel dan Iran, yang menyebabkan gangguan pasokan minyak global, khususnya di Selat Hormuz.

Q: Apa dampak kenaikan harga minyak ini terhadap konsumen di Amerika Serikat?
A: Kenaikan harga minyak mentah mendorong harga bensin eceran di AS naik hampir 40% menjadi rata-rata US$4,10 per galon, yang secara langsung meningkatkan biaya hidup dan menekan daya beli masyarakat.

Q: Mengapa saham ExxonMobil dan Chevron mengalami penurunan?
A: Saham kedua perusahaan melemah akibat kombinasi tekanan verbal dari Presiden Trump yang meminta mereka menurunkan harga, serta penurunan harga minyak mentah dunia sekitar 5% karena adanya harapan dimulainya perundingan damai antara AS dan Iran.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸