Inggris Menghadapi Ancaman Resesi Akibat Penutupan Selat Hormuz: Apa Dampaknya bagi Bisnis?

- Ringkasan Singkat Penutupan Selat Hormuz dapat menurunkan pertumbuhan Inggris menjadi 0,5% pada 2026 dan memicu kontraksi -0,2% pada 2027.
- Jika selat dibuka kembali sebelum September 2024, inflasi diproyeksikan hanya 3,5%; bila tertutup hingga 2027, inflasi bisa melonjak hingga 6,4%.
- EY memperkirakan Bank of England akan menurunkan suku bunga dari 3,75% menjadi 3,25% pada 2027, namun risiko energi tetap menekan pertumbuhan.
Ringkasan Singkat
- Penutupan Selat Hormuz dapat menurunkan pertumbuhan Inggris menjadi 0,5% pada 2026 dan memicu kontraksi -0,2% pada 2027.
- Jika selat dibuka kembali sebelum September 2024, inflasi diproyeksikan hanya 3,5%; bila tertutup hingga 2027, inflasi bisa melonjak hingga 6,4%.
- EY memperkirakan Bank of England akan menurunkan suku bunga dari 3,75% menjadi 3,25% pada 2027, namun risiko energi tetap menekan pertumbuhan.
Menurut laporan terbaru EY, Inggris berada di ambang jurang resesi jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga pertengahan 2027. EY memproyeksikan pertumbuhan ekonomi hanya 0,5% pada 2026 dan kontraksi -0,2% pada 2027 bila jalur pelayaran strategis ini tidak dibuka kembali sebelum akhir September 2024. Sebaliknya, dengan asumsi selat terbuka kembali paling lambat September, pertumbuhan dapat mencapai 0,8% pada 2026 dan 1,2% pada 2027.
Penutupan selat, yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia, akan memicu lonjakan harga energi global, seperti alternatif bahan bakar CNG 3 kg yang siap menggantikan LPG. Dampaknya langsung terasa pada inflasi Inggris: proyeksi naik menjadi 6,4% pada akhir 2026 jika penutupan berlanjut, dibandingkan hanya 3,5% bila selat terbuka kembali dalam waktu dekat. Inflasi yang tinggi akan menambah beban biaya hidup, menurunkan daya beli konsumen, dan memperlemah investasi bisnis.
Bank of England telah mengantisipasi skenario ini dengan menahan suku bunga pada 3,75% sepanjang 2026 dan merencanakan dua pemotongan menjadi 3,25% pada April dan Juli 2027. Kebijakan moneter ini dimaksudkan untuk menstabilkan pertumbuhan, namun tidak dapat menetralkan tekanan struktural dari kenaikan harga energi.
Secara keseluruhan, ketergantungan Inggris pada impor energi menjadikan negara ini sangat rentan terhadap gangguan di Selat Hormuz. Sektor energi, transportasi, dan manufaktur akan menjadi yang paling terdampak, sementara perusahaan yang memiliki portofolio energi terdiversifikasi atau yang dapat mengalihkan beban biaya akan lebih tahan banting.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya menilai bahwa skenario paling buruk—penutupan Selat Hormuz hingga 2027—akan menimbulkan efek domino pada seluruh rantai nilai ekonomi Inggris. Kenaikan harga minyak tidak hanya meningkatkan inflasi, tetapi juga menggerakkan biaya produksi di industri berat, menurunkan margin keuntungan, dan memaksa perusahaan untuk menunda atau membatalkan proyek investasi. Hal ini pada gilirannya memperlemah permintaan domestik, memperdalam siklus kontraksi.
Bank of England berada dalam posisi yang sulit. Suku bunga yang tinggi sudah mengekang permintaan kredit, dan pemotongan lebih lanjut untuk menstimulus pertumbuhan berisiko memicu spiralisasi inflasi jika harga energi tetap tinggi. Kebijakan fiskal harus menjadi pelengkap: pemerintah perlu mempercepat transisi ke energi terbarukan, memberikan insentif bagi perusahaan yang mengurangi intensitas energi, serta menyiapkan subsidi energi yang terarah untuk sektor paling rentan.
Dari perspektif bisnis, perusahaan multinasional yang beroperasi di Inggris harus meninjau kembali strategi hedging mereka. Mengunci harga minyak melalui kontrak berjangka atau opsi dapat melindungi profitabilitas dalam jangka menengah. Selain itu, diversifikasi rantai pasokan ke wilayah yang tidak terlalu bergantung pada jalur Selat Hormuz—seperti gas cair (LNG) dari Amerika atau Afrika—akan menjadi keunggulan kompetitif.
Terakhir, investor harus memperhatikan sinyal pasar modal, seperti yang terlihat di Pasar Modal Indonesia Mulai Cerah. Saham sektor energi tradisional kemungkinan akan mengalami volatilitas tinggi, sementara perusahaan energi terbarukan dan teknologi efisiensi energi dapat menjadi “safe haven” dalam konteks inflasi yang meningkat. Memantau kebijakan moneter dan perkembangan geopolitik di Teluk Persia akan menjadi kunci untuk menilai risiko resesi secara real‑time.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa yang menyebabkan Selat Hormuz menjadi faktor risiko utama bagi ekonomi Inggris?
A: Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia; penutupannya menaikkan harga energi global, yang langsung memicu inflasi dan menurunkan pertumbuhan ekonomi Inggris. - Q: Bagaimana proyeksi inflasi Inggris berubah tergantung pada penutupan Selat Hormuz?
A: Jika selat tetap tertutup hingga 2027, inflasi diperkirakan mencapai 6,4% pada akhir 2026; bila dibuka kembali sebelum September 2024, inflasi hanya akan mencapai sekitar 3,5%. - Q: Apa langkah kebijakan moneter yang diambil Bank of England dalam skenario ini?
A: Bank of England diperkirakan akan mempertahankan suku bunga 3,75% sepanjang 2026 dan menurunkannya menjadi 3,25% melalui dua pemotongan pada April dan Juli 2027 untuk mendukung pertumbuhan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Sinergi Bappenas-BRAN: Rencana Redistribusi 23.000 Hektare Tanah Kuciutkan Kesenjangan Ekonomi Nasional

Menkeu Suahasil Ingatkan K/L Jaga Efisiensi di Tengah Sisanya APBN 2026 Rp990 Triliun

Menteri UMKM Maman Abdurrahman Inisiasi Pengendalian Harga Tepung untuk Lindungi Laba Pelaku Usaha Mikro
