Ironi Setengah Abad Kalidadap Bantul: Ketika Mulut dan Selang Mengalahkan Peran Negara
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ringkasan Singkat
- Ratusan warga di Dusun Kalidadap I dan II, Bantul, terpaksa mengandalkan metode manual menyedot selang air sepanjang ratusan meter dari mata air Sendang Wonosari akibat ketiadaan akses PDAM.
- Infrastruktur sumur bor yang pernah dibangun kini mangkrak akibat kerusakan pompa dan habisnya dana pengelolaan, memaksa warga kembali ke cara tradisional sejak tahun 1977.
- Pemerintah daerah baru berada pada tahap survei dan koordinasi, sementara warga terus berjuang mandiri di tengah ancaman kekeringan musiman.
BANTUL ā Di balik rimbunnya pepohonan lereng perbukitan kapur Selopamioro, Imogiri, kabupaten bantul, tersimpan sebuah potret getir tentang ketimpangan pembangunan. Setiap hari, puluhan warga Dusun Kalidadap I dan II harus berkumpul di Sendang Wonosari. Bukan untuk sekadar bercengkerama, melainkan untuk menyambung napas kehidupan mereka melalui ritual yang telah berlangsung selama hampir setengah abad: menyedot air bersih menggunakan mulut melalui selang-selang plastik.
Tanpa bantuan mesin pompa, warga memanfaatkan hukum fisika sederhanaāgaya gravitasi. Mereka harus mendaki bukit, mencari ujung selang masing-masing di antara tumpukan puluhan selang yang saling bersilangan, lalu menyedotnya dengan kuat hingga air mengalir melewati bukit kapur menuju rumah mereka. Jaraknya tidak main-main. Teguh (27), salah satu warga Kalidadap I, harus membentangkan selang sepanjang 600 meter demi mengalirkan air ke rumahnya yang berada di titik terjauh.
"Kalau tidak dilepas dulu sambungannya, udara di dalam selang akan menyumbat dan air tidak akan mengalir. Jadi harus telaten," ungkap Teguh. Rutinitas melelahkan ini dilakukan warga tiga kali sehari, yakni pukul 06.00, 08.00, and 14.00 WIB, sebelum debit air dialihkan untuk irigasi pertanian di lereng bawah.
Kondisi ini kian memprihatinkan bagi warga lanjut usia seperti Sagi (72). Sejak tahun 1977, Sagi telah melakoni ritual menyedot selang ini. Di usianya yang senja, ia masih harus berjalan kaki naik-turun bukit terjal hanya untuk memastikan air mengalir ke bak penampungan rumahnya. Meski Sagi mencoba berdamai dengan keadaan dan menganggap aktivitas fisik ini sebagai cara menjaga kebugaran, realitas ini tetap menjadi tamparan keras bagi pemenuhan hak dasar warga negara.
Kepala Dusun Kalidadap II, Suroso (31), mengungkapkan bahwa wilayahnya dihuni sekitar 330 Kepala Keluarga (KK). Sebagian warga memang memiliki sumur dangkal, namun sebagian besar lainnya mutlak bergantung pada Sendang Wonosari. Ironisnya, wilayah ini sebenarnya pernah memiliki fasilitas sumur bor. Namun, akibat beban penggunaan yang terlalu tinggi tanpa dibarengi sistem pemeliharaan yang matang, pompa air tersebut rusak. Dana kas warga habis untuk biaya perbaikan yang berulang, hingga akhirnya fasilitas tersebut mangkrak total.
Saat musim kemarau ekstrem tiba, warga Kalidadap berada di titik nadir krisis air bersih. Mereka terpaksa merogoh kocek pribadi untuk membeli air tangki swadaya atau menunggu bantuan darurat (dropping air) yang sifatnya hanya sementara.
Merespons kondisi ini, Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Mujahid Amrudin, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan survei ke lokasi. Ia mengklaim tengah berkoordinasi dengan pemerintah daerah DIY untuk mengupayakan solusi jangka panjang, baik melalui pembangunan sumur bor baru maupun program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis yang telah puluhan tahun mengawal isu-isu sosial dan kebijakan publik, saya melihat kasus di Kalidadap, Bantul ini bukan sekadar cerita tentang kearifan lokal atau ketangguhan warga pedesaan. Ini adalah bentuk romantisasi kemiskinan dan pembiaran sistemik yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Sangat tidak manusiawi ketika di era digitalisasi dan klaim kemajuan wilayah DIY, masih ada warga negara yang harus menyedot air dengan mulutnya sendiri dari jarak ratusan meter demi bertahan hidup.
Kegagalan proyek sumur bor di Kalidadap II adalah bukti nyata dari penyakit kronis proyek infrastruktur kita: build and forget (bangun lalu lupakan). Pemerintah gemar membangun fasilitas fisik demi memenuhi target serapan anggaran, namun abai dalam memberikan edukasi manajemen konflik, kapasitas teknis pemeliharaan, and mitigasi risiko kepada masyarakat lokal. Ketika pompa rusak, beban finansial dibebankan sepenuhnya pada warga miskin hingga akhirnya fasilitas tersebut menjadi monumen mangkrak.
Pernyataan pihak BPBD yang baru berada pada tahap "survei" and "koordinasi" menunjukkan lambannya birokrasi dalam merespons krisis fundamental. Air bersih bukanlah kebutuhan sekunder yang pemenuhannya bisa ditunda dengan rapat-rapat birokrasi yang bertele-tele. Ini adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi. Selama 47 tahun sejak Sagi pertama kali menyedot selang pada tahun 1977, ke mana saja kehadiran negara?
Pemerintah Kabupaten Bantul dan Pemda DIY harus segera menghentikan retorika koordinasi dan langsung mengalokasikan anggaran darurat untuk pembangunan jaringan pipa air bersih yang layak. Pamsimas atau sumur bor baru harus dibangun dengan jaminan pemeliharaan yang profesional, bukan lagi dibebankan secara amatir kepada warga. Jika negara terus abai, maka 80 selang di Kalidadap akan tetap menjadi simbol abadi kegagalan pemerintah dalam menyejahterakan rakyatnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Mengapa warga Kalidadap Bantul masih menggunakan selang manual untuk mendapatkan air?
A: Warga terpaksa menggunakan selang manual karena wilayah geografis mereka belum terjangkau jaringan PDAM, dan infrastruktur sumur bor bantuan yang pernah ada telah rusak total tanpa adanya dana perawatan yang memadai.
Q: Bagaimana cara kerja sistem pengaliran air tradisional di Kalidadap?
A: Air dialirkan dari sumber mata air Sendang Wonosari menggunakan gaya gravitasi. Warga harus menyedot ujung selang secara manual dengan mulut untuk memancing air mengalir melewati selang yang panjangnya mencapai ratusan meter menuju rumah mereka.
Q: Apa langkah konkret yang sedang diupayakan pemerintah saat ini?
A: BPBD Bantul menyatakan telah melakukan survei lapangan dan sedang berkoordinasi dengan BPBD DIY untuk menjajaki peluang bantuan pembangunan sumur bor baru atau program Pamsimas guna mengatasi krisis air bersih tersebut.


