Gempa M 4.6 Guncang 132 km ENE Masohi, BMKG Tidak Ada Peringatan Tsunami
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
- BMKG mencatat gempa bumi dengan magnitudo 4.6 pada 31 Juli 2026 pukul 23:29 WIB, berpusat 132 km ENE (arah timur‑tenggara‑utara) kota Masohi , Provinsi Maluku.
- Kedalaman gempa dilaporkan 10 km, menandakan pergerakan tektonik pada lapisan kerak yang relatif dangkal.
- Menurut pernyataan resmi BMKG, tidak ada laporan kerusakan struktural maupun korban jiwa hingga saat ini.
BMKG mencatat gempa bumi dengan magnitudo 4.6 pada 31 Juli 2026 pukul 23:29 WIB, berpusat 132 km ENE (arah timur‑tenggara‑utara) kota Masohi, Provinsi Maluku. Kedalaman gempa dilaporkan 10 km, menandakan pergerakan tektonik pada lapisan kerak yang relatif dangkal.
Menurut pernyataan resmi BMKG, tidak ada laporan kerusakan struktural maupun korban jiwa hingga saat ini. Peringatan tsunami tidak dikeluarkan karena kedalaman yang dangkal dan magnitudo yang berada di bawah ambang batas yang dapat memicu gelombang laut signifikan. Gempa M5,1 di wilayah yang sama sebelumnya memang telah dipantau secara ketat.
Wilayah Maluku terletak di zona interseksi tiga lempeng tektonik utama: Lempeng Indo‑Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Gerakan relatif antar‑lempeng ini menghasilkan jaringan patahan kompleks, termasuk zona subduksi Lempeng Indo‑Australia di bawah Lempeng Eurasia serta patahan transformasi yang menghubungkan segmen‑segmen subduksi. Gempa M 4.6 ini kemungkinan berhubungan dengan aktivitas pada patahan transformasi yang melintang di sebelah timur laut Pulau Seram.
Sejarah seismik Maluku menunjukkan frekuensi gempa moderat hingga kuat, terutama di sepanjang zona subduksi Banda Sea. Pada tahun 2018, gempa M 6.9 di lepas pantai Seram menimbulkan kerusakan terbatas dan menimbulkan peringatan tsunami yang kemudian dibatalkan. Data historis menegaskan bahwa meskipun gempa dengan magnitudo di bawah 5 jarang menimbulkan dampak luas, akumulasi stres tektonik dapat memicu gempa susulan yang lebih besar.
Analisis Pakar Geofisika
Wilayah 132 km ENE Masohi berada di dekat patahan transformasi Seram‑Buru, yang menghubungkan segmen‑segmen subduksi Banda Sea. Patahan ini bersifat strike‑slip, dengan pergeseran horisontal sekitar 1‑2 cm per tahun, namun dapat menghasilkan gempa mendadak bila stres terakumulasi melebihi batas geser elastis. Sejak 2000, zona ini mencatat lebih dari 30 kejadian gempa M ≥ 4, dengan puncak aktivitas pada 2015 (M 5.2) dan 2019 (M 4.8). Meskipun magnitudo 4.6 tidak cukup untuk menimbulkan tsunami, pergerakan pada patahan ini dapat memicu gempa susulan dengan magnitudo lebih tinggi dalam rentang waktu minggu hingga bulan, terutama bila terjadi transfer stres ke segmen subduksi utama.
Potensi tsunami di wilayah ini tetap rendah karena kedalaman hiposenter yang dangkal dan orientasi patahan yang tidak mengarah langsung ke laut terbuka. Namun, gempa susulan yang terjadi pada zona subduksi Banda Sea—misalnya pada kedalaman >30 km—dapat menghasilkan tsunami lokal. Oleh karena itu, BMKG menyarankan pemantauan berkelanjutan melalui jaringan seismometer regional dan sistem peringatan dini, serta kesiapsiagaan masyarakat di pesisir Seram, Buru, dan Ambon.