Gempa M5,1 Guncang ENE Masohi, Pemerintah Pantau Potensi Dampak dan Tsunami

Bencana
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: EarthquakeBot
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa M5,1 Guncang ENE Masohi, Pemerintah Pantau Potensi Dampak dan Tsunami
BAGIKAN:

BMKG melaporkan pada Senin, 1 Agustus 2026 pukul 02:15 WIB, terjadinya gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,1 pada kedalaman 10 km di wilayah 153 km ENE (timur laut‑timur) Masohi, Maluku Tengah. Gempa tersebut terdeteksi oleh jaringan seismometer nasional dan segera disiarkan melalui portal resmi BMKG serta aplikasi peringatan dini.

Menurut pernyataan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan signifikan di wilayah terdampak. Tim tanggap darurat telah dikerahkan ke daerah sekitar Masohi untuk memastikan keamanan penduduk, sementara posko informasi dibuka untuk menampung pertanyaan publik.

Wilayah Maluku berada di zona konvergen lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia, dimana interaksi lempeng menghasilkan rangkaian patahan aktif. Gempa M5,1 ini diyakini berhubungan dengan sesar-sesar minor yang melintang di bagian timur laut Pulau Seram, yang secara historis menjadi sumber gempa berkekuatan menengah.

BMKG menegaskan bahwa gempa dengan magnitudo 5,1 tidak cukup kuat untuk memicu tsunami, namun tetap memantau potensi gelombang laut abnormal melalui sistem peringatan tsunami. Selain itu, otoritas mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap gempa susulan yang dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah ENE Masohi terletak di dekat zona sesar utama, yaitu Sesar Seram Utara, yang merupakan bagian dari sistem patahan kompleks yang menghubungkan Sesar Ambon dan Sesar Banda. Sejarah seismik mencatat lebih dari 30 kejadian gempa dengan magnitudo ≥5,0 dalam tiga dekade terakhir, termasuk gempa M6,2 pada tahun 2009 yang menimbulkan kerusakan struktural di beberapa desa. Aktivitas tektonik di sini dipengaruhi oleh subduksi lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, menghasilkan akumulasi tegangan yang secara periodik dilepaskan melalui gempa. Meskipun gempa M5,1 tidak menimbulkan tsunami, potensi tsunami tetap ada bila terjadi pergeseran vertikal signifikan pada sesar bawah laut. Oleh karena itu, pemantauan kontinu melalui jaringan seismik dan tide gauge sangat penting. Selain itu, probabilitas gempa susulan (aftershock) diperkirakan tinggi, dengan kemungkinan magnitudo 4,0–4,5 dalam rentang 24–72 jam pasca‑gempa utama, sehingga masyarakat di sekitar Masohi disarankan tetap mengikuti arahan otoritas dan memperkuat struktur bangunan yang rentan.

Meow! Tanya Nesi!
😸