Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Obligasi Perang Kembali Menggairahkan Pasar: Apakah Ini Peluang atau Jerat?

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Obligasi Perang Kembali Menggairahkan Pasar: Apakah Ini Peluang atau Jerat?
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Pemerintah Inggris mengusulkan penerbitan obligasi perang untuk membiayai peningkatan anggaran pertahanan, menargetkan simpanan masyarakat sebesar 2 triliun pound sterling .
  • Sejarah menunjukkan bahwa obligasi perang pada era Perang Dunia I dan II akhirnya mengurangi nilai investasi secara drastis akibat inflasi dan kebijakan tukar obligasi menjadi perpetual bond.
  • Meskipun direncanakan sebagai instrumen aman, pengalaman pasar mengajarkan bahwa utang negara dengan label "perang" tetap berisiko bagi investor jangka panjang.

Ringkasan Singkat

  • Pemerintah Inggris mengusulkan penerbitan obligasi perang untuk membiayai peningkatan anggaran pertahanan, menargetkan simpanan masyarakat sebesar 2 triliun pound sterling.
  • Sejarah menunjukkan bahwa obligasi perang pada era Perang Dunia I dan II akhirnya mengurangi nilai investasi secara drastis akibat inflasi dan kebijakan tukar obligasi menjadi perpetual bond.
  • Meskipun direncanakan sebagai instrumen aman, pengalaman pasar mengajarkan bahwa utang negara dengan label "perang" tetap berisiko bagi investor jangka panjang.

Usulan terbaru yang dipicu oleh mantan Kepala Ekonom Andy Haldane menyarankan agar Pemerintah Inggris menerbitkan Obligasi Perang sebagai alat pembiayaan pertahanan, dengan harapan dapat menarik sebagian dari simpanan masyarakat yang mencapai sekitar 2 triliun pound sterling (sekitar Rp44.000 triliun).

Konsep ini bukan baru; selama Bank of England masih mengelola pasar uang, Pemerintah Inggris pertama kali menerbitkan pinjaman perang pada 1914 dengan kupon 3,5% dan jatuh tempo 1925‑1928. Meskipun target awal 350 juta pound sterling tercapai hanya 91 juta pound, defisit tersebut ditutup oleh bank sentral, sebuah fakta yang hanya terungkap puluhan tahun kemudian.

Pada era Perang Dunia I kedua, kampanye agresif bajo David Lloyd George berhasil menarik tiga juta investor dengan janji "tidak ada risiko". Namun, ketika Great Depression menghantam ekonomi mondial pada 1932, pemerintah mengkonversi obligasi berbunga 5% menjadi obligasi abadi (perpetual bond) dengan kupon 3,5%, langkah yang justru menggerus nilai investasi seiring inflasi yang berkelanjutan.

Penutupan utang akhir terjadi pada 2014, ketika sisa sebesar 1,9 miliar pound sterling (sekitar Rp34,2 triliun) dilunasi. Sebuah investasi awal sebesar 100 pound sterling pada 1917 hanya tersisa sekitar 2 pound sterling pada saat pelunasan, menegaskan bahwa inflasi dan perubahan kebijakan dapat menghancurkan nilai nominal dalam jangka panjang. Mantan Perdana Menteri Rishi Sunak memperingatkan bahwa memberi label "perang" pada utang tidak mengubah fakta bahwa tetap merupakan utang negara, dan menilai gagasan tersebut sebagai langkah yang berisiko bagi pasar.

Analisis Pakar

Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat bahwa usulan obligasi perang lebih merupakan alat psikopolitik daripada instrumen pembiayaan yang efisien. Meskipun menargetkan simpanan masyarakat yang besar, nilai tukar real dari instrumen ini sangat sensitif terhadap inflasi dan kebijakan moneter yang dapat berubah seketika, seperti yang terjadi pada era pasca‑Perang Dunia I ketika konversi ke perpetual bond mengurangi kupon dari 5% menjadi 3,5%.

Dalam konteks makro modern, inflasi di Inggris masih berada di atas target Bank of England sekitar 2%, sementara suku bunga dasar masih dalam proses normalisasi pasca‑pandemi. Jika pemerintah menerbitkan obligasi dengan kupon tetap, nilai present value akan terus erosi bila inflasi tetap tinggi, sehingga investor yang mencari pelindung nilai akan mengalihkan portofolio ke aset yang terindeks inflasi atau komoditas.

Sisi lain yang perlu diperhatikan adalah struktur permintaan. Simpanan rumah tangga Inggris yang mencapai 2 triliun pound sterling sebagian besar ditempatkan dalam aset likuid dan reksa dana pasar uang dengan risiko rendah. Menarik dana ini melalui obligasi perang memerlukan insentif pajak yang signifikan; namun, insentif tersebut justru mengurangi penerimaan pajak negara, menciptakan angkasa fiskal yang lebih luas dan potensi menambah utang secara tidak langsung.

Akhirnya, dari perspektif manajemen risiko, menambahkan label "perang" pada instrumen utang tidak mengubah profil risiko kredit; rating sovereign Inggris tetap stabil, tetapi volatilitas harga pasar dapat meningkat karena spekulasi geopolitika. Investor yang sofistikasi akan melihat obligasi ini sebagai spekulasi makro lebih daripada investasi konservatif, dan sebaiknya mereka mempertimbangkan alokasi ke instrumen yang dilindungi inflasi (linker) atau emas sebagai cadangan terhadap risiko geopolitika dan inflasi bersamaan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah obligasi perang masih relevan sebagai instrumen investasi di era modern?
    A: Meski dapat menarik dana dalam situasi krisis, nilai realnya rentan terhadap inflasi dan kebijakan tukar obligasi, sehingga tidak disarankan sebagai instrumen konservatif untuk portofolio jangka panjang.
  • Q: Bagaimana insentif pajak yang ditawarkan dapat memengaruhi keputusan membeli obligasi perang?
    A: Insentif pajak meningkatkan imbalan setelah pajak, tetapi juga mengurangi penerimaan negara, yang pada gilirannya dapat menambah beban utang fiskal dan menimbulkan efek pengalihan sumber daya dari sektor produktif.
  • Q: Apa alternatif yang lebih aman bagi investor yang ingin melindungi nilai dari risiko geopolitika dan inflasi?
    A: Instrumen seperti Treasury Inflation‑Protected Securities (TIPS), emas, atau obligasi sovereign yang terindeks inflasi memberikan perlindungan yang lebih langsung terhadap kenaikan harga harga dan fluktuasi kurs, tanpa menambah beban utang negara dengan label spesifik.
Meow! Tanya Nesi!
😸