Mal Tetap Ramai, Konsumen Pilih Barang Murah: Dampak Bisnis yang Harus Diketahui

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Mal Tetap Ramai, Konsumen Pilih Barang Murah: Dampak Bisnis yang Harus Diketahui
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Jumlah pengunjung pusat perbelanjaan tetap stabil meski daya beli menurun.
  • Konsumen kelas menengah‑bawah beralih ke produk berharga satuan rendah atau kemasan kecil.
  • Pengelola mal menghadapi tekanan biaya operasional yang naik, sementara kenaikan sewa toko terbatas.

Jakarta – Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), mengungkapkan bahwa tingkat kunjungan ke mal masih berada pada level yang relatif stabil. "Orang Indonesia suka berkumpul, dan mal tetap menjadi tempat utama untuk itu," ujarnya dalam konferensi pers di Auditorium Kementerian Perdagangan, Kamis (30/7/2026).

Namun, stabilitas kunjungan tidak berbanding lurus dengan nilai transaksi. Daya beli, khususnya di segmen menengah‑bawah, terus tertekan oleh inflasi dan kenaikan harga barang. Akibatnya, pola belanja berubah: konsumen kini lebih selektif, memilih produk dengan unit price rendah atau kemasan yang lebih kecil agar tetap sesuai anggaran.

Data APPBI menunjukkan bahwa meski konsumsi rumah tangga secara nominal masih tumbuh, jumlah barang yang dibeli per rumah tangga menurun. Ini menandakan bahwa konsumen mengalokasikan dana yang sama untuk membeli lebih sedikit barang, biasanya yang paling esensial.

Untuk menanggapi tren ini, peritel mulai mengadopsi strategi kemasan mini. "Mengurangi ukuran kemasan adalah cara praktis agar produk tetap terjangkau," kata Alphonzus. Strategi ini tidak hanya membantu konsumen, tetapi juga menjaga margin penjualan di tengah tekanan harga.

Di sisi lain, pusat perbelanjaan menghadapi dilema biaya operasional yang terus meningkat—termasuk energi, gas, dan pemeliharaan fasilitas—sementara kemampuan menaikkan sewa toko terbatas karena kondisi penjualan ritel yang masih lemah. "Kami tidak dapat menaikkan sewa secara signifikan karena retailer berada di low season dan penjualan belum optimal," tambahnya.

Meski begitu, tingkat okupansi nasional masih berada di kisaran 85‑90%, dengan mal‑mal yang menargetkan segmen menengah‑atas mencatat okupansi tertinggi. Alphonzus optimis bahwa industri akan tetap tumbuh hingga akhir tahun, meski pertumbuhan diperkirakan tidak signifikan.

Analisis Pakar

Fenomena ini menegaskan bahwa mal kini lebih berperan sebagai hub sosial daripada sekadar pusat transaksi. Kestabilan kunjungan menunjukkan nilai budaya yang kuat, namun tekanan pada daya beli mengharuskan pemilik mal dan retailer untuk berinovasi dalam model penawaran produk.

Strategi kemasan kecil yang diadopsi oleh retailer merupakan respons adaptif yang dapat meningkatkan frekuensi pembelian meski nilai transaksi per unit menurun. Dari perspektif manajemen rantai pasok, hal ini menuntut efisiensi produksi dan logistik yang lebih tinggi, karena volume unit meningkat sementara margin per unit menurun.

Di sisi biaya operasional, kenaikan energi dan utilitas menambah beban tetap yang harus ditutupi oleh pendapatan sewa. Tanpa kemampuan menaikkan sewa secara signifikan, pemilik mal perlu mengeksplorasi investasi sumber pendapatan alternatif, seperti layanan digital, iklan dalam‑mall, atau kemitraan dengan platform e‑commerce untuk meningkatkan ARPU (Average Revenue Per User).

Secara makro, tren ini mencerminkan tekanan inflasi yang masih dirasakan oleh konsumen kelas menengah‑bawah. Kebijakan moneter yang menahan laju inflasi akan sangat penting untuk mengembalikan daya beli. Sementara itu, pelaku retail harus terus menyesuaikan portofolio produk—memperbanyak SKU berharga rendah dan mengoptimalkan promosi—agar tetap relevan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa kunjungan ke mal tetap stabil meski daya beli menurun?
    A: Mal berfungsi sebagai tempat berkumpul sosial, sehingga kunjungan dipengaruhi oleh kebiasaan budaya, bukan hanya faktor ekonomi.
  • Q: Apa strategi utama retailer untuk mengatasi tekanan daya beli?
    A: Menghadirkan produk dengan harga satuan rendah atau kemasan kecil, serta promosi yang menekankan nilai per rupiah.
  • Q: Bagaimana pusat perbelanjaan dapat mengatasi kenaikan biaya operasional?
    A: Diversifikasi pendapatan melalui layanan digital, iklan, dan kolaborasi e‑commerce, serta meningkatkan efisiensi energi.
Meow! Tanya Nesi!
😾