Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Wilayah Barat Abepura, Papua; BMKG Tidak Mengeluarkan Peringatan Tsunami
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.
Kemarin, pukul 08.55 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kejadian gempa bumi bermagnitudo 4,7 pada koordinat sekitar 186 kilometer barat daya Abepura, Papua. Gempa tersebut terjadi pada kedalaman sekitar 10 kilometer di bawah permukaan laut, sesuai dengan data awal yang diterima dari stasiun seismograf regional.
BMKG menyatakan bahwa getaran dirasakan ringan hingga sedang oleh penduduk di sekitar Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom, namun hingga saat ini tidak ada laporan kerusakan struktural atau korban jiwa. Pengawasan terus dilakukan melalui jaringan pemantauan darat dan laut untuk mendeteksi perubahan pasca-gempa.
Secara tektonik, wilayah Papua berada di zona pertemuan tiga lempeng utama: lempeng Pasifik, lempeng Australia, dan lempeng Caroline. Lempeng ini berinteraksi melalui sistem sesar kompleks seperti Sorong Fault di sebelah utara, North New Guinea Fault yang melintang sepanjang pulau, serta sistem fold dan thrust di Papua Fold Belt yang menghasilkan aktivitas tektonik yang intensif.
Sejarah kegempaan di sekitar Abepura menunjukkan bahwa gempa dengan magnitudo di atas 5,0 tidaklah langka. Contohnya, gempa M6,0 yang terjadi pada Februari 2020 sekitar 150 km timur Jayapura dan gempa M7,5 yang mengguncang Manokwari pada September 2016 memberikan gambaran mengenai potensi energi yang tersimpan di sesar setempat. Namun, kebanyakan kejadian berukuran sedang hingga besar cenderung terkonsentrasi pada lempeng Australia yang subduksi di bawah lempeng Pasifik di bagian southern Papua.
Mengenai potensi tsunami, BMKG tidak mengeluarkan peringatan tsunami karena magnitudo gempa di bawah ambang kritis sekitar 6,5 dan sumber gempa berada pada kedalaman relatif dangkal namun jauh cukup dari pantai sehingga energi yang ditransmisasikan ke laut tidak cukup untuk menghasilkan gelombang tsunami berarti. Selain itu, konfigurasi dasar laut di wilayah tersebut cenderung berupa dataran datar yang tidak memfokuskan energi gelombang.
Pasca-gempa, pola gempa susulan biasanya mengikuti hukum Omori dengan frekvensi yang menurun secara logaritmik. BMKG memperkirakan bahwa dalam 24 hingga 48 jam ke depan mungkin terjadi beberapa gempa susulan dengan magnitudo di bawah 4,0, yang biasanya hanya terasa oleh pengamat yang berada sangat dekat dengan epicentrum.
Analisis Pakar Geofisika
Wilayah sekitar 186 km barat daya Abepura terletak di bagian utara sistem sorong fault, sebuah sesar geser lateral yang menampung pergerakan relatif antara blok blok lempeng Pasifik dan Australia. Sesar ini memiliki karakteristik gerak predominantly strike-slip dengan komponen sedikit normal akibat ketegangan vertikal dari aktivitas fold di Papua Fold Belt. Data paleoseismik menunjukkan bahwa sesar Sorong telah menghasilkan kejadian gempa berulang dalam rentang magnitudo 5,0–6,5 setiap beberapa puluh tahun, dengan rekaman terbaru berupa swarm gempa M5,2 pada Maret 2023 yang berada sekitar 80 km lebih timur dari lokasi gempa kali ini.
Kedalaman fokus sekitar 10 km menunjukkan bahwa patahannya berada dalam kerak laut yang relatif muda, di mana temperatur dan tekanan belum mencapai kondisi duktil yang mendukung ruptura besar. Oleh karena itu, meski magnitudo 4,7 cukup untuk menghasilkan getaran yang terasa, energi yang dilepaskan tidak cukup untuk memicu perubahan significatif pada dasar laut yang bisa memicu tsunami. Selain itu, gelombang tsunami umumnya memerlukan pemindahan vertikal substantial dari dasar laut, yang pada sesar strike-slip seperti Sorong hanya menghasilkan gerak horizontal dominan.
Dari perspektif sejarah kegempaan, wilayah ini termasuk dalam zona yang cukup aktif tetapi dengan tingkat kejadian gempa besar (M>7,0) yang relatif jarang karena sebagian besar energi tektonik disipasi melalui gerakan sesar strike-slip dan sistem fold-thrust yang lebih tersebar. Analisis gelombang seismic dari kejadian sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian besar energi terlepaskan dalam bentuk gelombang S dan gelombang surface yang tidak menghasilkan perubahan vertikal signifikan pada kolom air.
Berdasarkan model aftershock yang menggunakan hukum Omori-Utsu, parameter p sekitar 1,1 dan nilai c sekitar 0,05 hari untuk sesar jenis ini, maka diperkirakan bahwa dalam tujuh hari ke depan akan terjadi sekitar 10–15 gempa susulan dengan magnitudo antara 2,0 dan 3,5, dan kemungkinan kecil (kurang 5%) untuk terjadinya gempa susulan dengan magnitudo di atas 4,5. Pemantauan terus-menerus dilakukan melalui jaringan broadband seismograf yang tersebar di Pulau Yapen, Pulau Biak, dan stasiun BMKG di Jayapura untuk memberikan peringatan dini jika terjadi perubahan pola aktivitas.