Gempa M 4,9 Guncang 206 km Barat Abepura, Potensi Dampak dan Risiko Lanjutan

Bencana
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M 4,9 Guncang 206 km Barat Abepura, Potensi Dampak dan Risiko Lanjutan
BAGIKAN:

BMKG melaporkan pada Senin (27/07/2026) pukul 18:51 WIB terjadinya gempa bumi dengan magnitudo 4,9 pada kedalaman yang belum dipublikasikan, berpusat 206 kilometer barat Abepura, Papua. Gempa tersebut tercatat pada katalog internasional USGS dengan koordinat geografis yang menunjukkan fokusnya berada di zona lempeng tektonik aktif.

Menurut jaringan seismik nasional, gempa ini terasa di beberapa wilayah sekitar, termasuk kota Jayapura dan Kabupaten Keerom, namun tidak menimbulkan kerusakan struktural yang signifikan. Tim tanggap darurat BMKG menegaskan bahwa tidak ada laporan korban jiwa atau kerugian material yang signifikan hingga saat ini.

BMKG juga mengeluarkan peringatan dini bahwa potensi gempa susulan (aftershock) tetap ada mengingat wilayah tersebut berada di zona subduksi yang kompleks. Meskipun magnitudo 4,9 tidak cukup untuk memicu tsunami, pemantauan gelombang laut terus dilakukan secara real‑time untuk mengantisipasi kemungkinan anomali.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah barat Abepura terletak di sepanjang zona sesar utama yang dikenal sebagai Sesar Papua Barat, bagian dari sistem patahan yang menghubungkan lempeng Indo‑Australia dengan lempeng Eurasia. Sejarah seismik menunjukkan bahwa daerah ini telah mengalami gempa berkekuatan menengah hingga kuat, termasuk gempa M 6,2 pada tahun 2019 yang menimbulkan kerusakan terbatas. Struktur geologi di bawahnya terdiri dari lapisan sedimen laut dalam yang dipengaruhi oleh proses subduksi, sehingga pergerakan lempeng dapat menghasilkan gempa berulang dengan interval waktu yang tidak menentu. Potensi tsunami pada gempa dengan magnitudo di bawah 5,0 umumnya rendah karena energi yang dilepaskan tidak cukup untuk mengganggu kolom air laut secara signifikan; namun, jika terjadi pergeseran vertikal tiba‑tiba pada sesar bawah laut, risiko tsunami tetap harus dipantau. Untuk gempa susulan, model statistik menunjukkan kemungkinan aftershock dengan magnitudo 3,0–4,5 dalam rentang 7–14 hari ke depan, sehingga masyarakat di sekitar wilayah rawan gempa disarankan tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat.

Meow! Tanya Nesi!
😸