Gempa M 4,8 Guncang 195 km Barat Abepura, Papua: Tidak Ada Kerusakan Signifikan

Bencana
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M 4,8 Guncang 195 km Barat Abepura, Papua: Tidak Ada Kerusakan Signifikan
BAGIKAN:

BMKG pada Selasa (29/07/2026) pukul 05:40 WIB mencatat gempa bumi dengan magnitudo 4,8 yang berpusat 195 kilometer barat Abepura, Provinsi Papua. Kedalaman gempa diperkirakan berada pada 10 kilometer di bawah permukaan bumi, menandakan sumber seismik yang relatif dangkal.

Menurut laporan awal Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tidak ada laporan kerusakan struktural maupun korban jiwa pada wilayah terdampak. Tim lapangan masih melakukan verifikasi di daerah pedalaman untuk memastikan tidak ada dampak tersembunyi.

Gempa ini terdeteksi oleh jaringan seismometer global, dan intensitas dirasakan pada skala Modified Mercalli (MMI) sekitar III di beberapa permukiman dekat perbatasan. Masyarakat di sekitar lokasi gempa melaporkan sensasi guncangan ringan, namun tidak ada kepanikan massal.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah Papua terletak di zona konvergensi lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik, yang menghasilkan jaringan sesar aktif seperti Sesar Sorong, Sesar Mamberamo, dan Sesar Papua Barat. Gempa M 4,8 ini kemungkinan berhubungan dengan pergerakan minor pada Sesar Sorong, yang telah mencatat serangkaian gempa berukuran 4‑5 selama dekade terakhir. Sejarah seismik menunjukkan bahwa wilayah ini pernah mengalami gempa kuat, termasuk gempa M 7,0 pada tahun 2009 yang menimbulkan kerusakan signifikan di daerah pesisir.

Meski magnitudo 4,8 tidak cukup untuk memicu tsunami, potensi gelombang laut tetap dipantau oleh BMKG karena kedalaman gempa yang relatif dangkal. Analisis awal menunjukkan bahwa pergeseran vertikal pada sesar tidak signifikan untuk menghasilkan dislokasi laut yang besar. Namun, para ahli tetap merekomendasikan kewaspadaan terhadap gempa susulan (aftershock) yang biasanya muncul dalam rentang waktu beberapa hari hingga minggu setelah kejadian utama, terutama di zona sesar yang sama.

Secara keseluruhan, gempa ini mempertegas pentingnya pemantauan kontinu pada jaringan sesar Papua. Penelitian lanjutan mengenai karakteristik mekanisme patahan dan potensi akumulasi stres akan membantu meningkatkan kemampuan prediksi dan mitigasi risiko seismik di masa depan.

Meow! Tanya Nesi!
😸