Bank Mandiri Ubah Jejak Karbon Nasabah Menjadi 2.697 Pohon Mangrove, Serap 64 Ton CO2e β Ini Dampaknya!
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Bank Mandiri melalui fitur Livin' Planet mengonversi jejak karbon nasabah ritel menjadi penanaman pohon, tercatat 2.697 batang hingga Juli 2026.
- Kontribusi mencerminkan serapan emisi 64,29 ton CO2e, dengan mangrove menyumbang 63% dan setara dengan emisi mobil sejauh lebih dari 244.000 kilometer.
- Portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri tumbuh 7,5% tahunan hingga Rp327,3 triliun, sambil menargetkan Net Zero operasional 2030 dan pembiayaan 2060.
Bank Mandiri memperlihatkan komitmen nyata terhadap iklim dengan mengintegrasikan fitur Livin' Planet dalam aplikasi Livin' by Mandiri, yang mengonversi jejak karbon nasabah ritel menjadi kontribusi penanaman pohon. Setiap bibit yang ditanam dipantau bersama mitra konservasi, dan laporan pertumbuhan dikirim kembali kepada nasabah, menciptakan mekanisme akuntabilitas yang transparan.
Menurut Monica Yoanita Octavia, Senior Vice President ESG Group Bank Mandiri, akuntabilitas adalah inti dari strategi keberlanjutan bank. Ia menegaskan bahwa setiap kontribusi penanaman nasabah tercatat dan serapan emisinya dihitung sesuai metodologi IPCC, sejalan dengan target pemerintah untuk pencapaian FOLU Net Sink 2030.
Hingga 22 Juli 2026, kontribusi nasabah melalui Livin' Planet telah terkumpul untuk penanaman sekitar 2.697 batang pohon, dengan nilai serapan emisi tercatat 64,29 ton CO2e. Mangrove menjadi komponen terbesar, mencapai sekitar 2.309 batang (serapan 40,26 ton CO2e) atau sekitar 63 persen dari total serapan program. Nilai serapan tersebut setara dengan emisi perjalanan mobil sejauh lebih dari 244.000 kilometer, atau konsumsi listrik rumah tangga sebesar 73.897 kWh.
Selain mangrove, nasabah juga menyumbang pohon produktif alpukat dan aren sebanyak sekitar 387 batang dengan serapan 24,02 ton CO2e, memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat. Ini menunjukkan bahwa program tidak hanya fokus pada mitigasi iklim, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi lokal.
Dari sisi pembiayaan, portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp327,3 triliun per Juni 2026, tumbuh 7,5% tahunan, dengan pembiayaan hijau sebesar Rp172,8 triliun. Sementara itu, bank terus menekankan operasional karbon netral melalui kendaraan listrik & hybrid, optimalisasi green building, dan pemasangan solar panel, mengarah pada target Net Zero Emission dalam operasi hingga 2030 dan dalam pembiayaan hingga 2060 atau lebih cepat.
Analisis Pakar
Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat inisiatif Bank Mandiri sebagai contoh bagaimana lembaga keuangan dapat memanfaatkan platform digital untuk menciptakan dampak iklim yang terukur dan skalabel. Dengan mengonversi jejak karbon nasabah menjadi pohon mangrove, bank tidak hanya mengurangi emisi secara indirek, tetapi juga membangun aset alam yang memberikan layanan ekosistem seperti proteksi abrasi pantai dan habitat ikan. Hal ini relevan mengingat Indonesia memiliki sekitar 3,2 juta hektar mangrove yang rentan terhadap degradasi; setiap hektar yang dipulihkan dapat menyerap hingga 1.000 ton CO2e selama hidupnya, sehingga kontribusi 2.309 pohon (sekitar 0,5 hektar) masih kecil namun menunjukkan potensi replicasi skala besar jika didukung oleh insentif regulasi dan pasar karbon.
Dari perspektif keuangan, pertumbuhan portofolio pembiayaan berkelanjutan sebesar 7,5% tahunan mencerminkan permintaan yang meningkat dari investor dan korporat untuk aset yang sesuai dengan prinsip ESG. Pembiayaan hijau sebesar Rp172,8 triliun menunjukkan bahwa bank telah berhasil mengalihkan sebagian besar modalnya ke sektor energi terbarukan, infrastruktur ramah lingkungan, dan pertanian berkelanjutan. Namun, tantangan utama adalah memastikan bahwa pembiayaan ini tidak hanya berupa "greenwashing" tetapi menghasilkan pengurangan emisi nyata yang dapat diverifikasi. Dalam hal ini, mekanisme verifikasi pihak ketiga dan pelaporan transparan seperti yang dilakukan melalui Livin' Planet menjadi kunci.
Kritik yang mungkin muncul adalah tentang efektivitas skala kecil dari program penanaman relatif terhadap emisi operasional bank itu sendiri. Meskipun Bank Mandiri telah mengurangi emisi operasional melalui kendaraan listrik dan bangunan hijau, total emisi operasional bank masih signifikan. Oleh karena itu, strategi yang lebih holistik akan menggabungkan reduksi emisi operasional dengan investasi dalam proyek karbon yang berskala besar, seperti pembangunan taman mangrove skala hektaran atau investasi dalam proyek pembangkit listrik tenaga surya yang menghasilkan kredit karbon yang dapat diperjualbelikan.
Dalam konteks makro, upaya Bank Mandiri selaras dengan komitmen Indonesia untuk mencapai Net Sink sektor FOLU pada 2030 dan kontribusi terhadap target pembangunan berkelanjutan SDG 13 (Tindakan Klima). Jika bank dan lembaga keuangan lain dapat memperbesar skala program serupa melalui kolaborasi dengan pemerintah, komunitas lokal, dan pasar karbon, potensi penyerapan karbon dapat mencapai ratusan juta ton CO2e per dekade, memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian Net Zero nasional pada 2060.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu Livin' Planet dan cara kerjanya?
A: Livin' Planet adalah fitur di aplikasi Livin' by Mandiri yang mengonversi jejak karbon nasabah ritel menjadi kontribusi penanaman pohon, dengan pemantauan dan pelaporan hasil ke nasabah. - Q: Seberapa besar dampak serapan karbon dari mangrove yang ditanam melalui program ini?
A: Sampai Juli 2026, mangrove yang ditanam menyerap sekitar 40,26 ton CO2e, setara dengan emisi mobil sejauh 244.000 km atau konsumsi listrik rumah tangga 73.897 kWh. - Q: Apakah Bank Mandiri memiliki target Net Zero Emission untuk operasional dan pembiayaan?
A: Ya, Bank Mandiri menargetkan Net Zero Emission dalam operasional hingga 2030 dan dalam pembiayaan hingga 2060 atau lebih cepat, sebagai bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang.


