Polri Guncang Pasar Bawang Putih: Dari Impor ke Swasembada di Lombok
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Satgas Pangan Polri mengembangkan lahan bawang putih hingga 534 hektare di Sembalun, Lombok Timur.
- Produktivitas mencapai 20â25 ton per hektare, menghasilkan lebih dari 1.470 ton pada panen raya Juli 2026.
- Inisiatif baru, varietas HAAS, diharapkan memperluas zona tanam dan mengurangi ketergantungan impor lebih dari 90%.
Jakarta, CNBC Indonesia â Selama bertahunâtahun, bawang putih Indonesia dianggap tidak kompetitif, memaksa negara mengimpor lebih dari 90% kebutuhan. Namun, Irjen Pol. Helfi Assegaf, Kasatgas Pangan Polri, menolak stigma tersebut dengan menumbuhkan bawang putih di Lombok Timur. Program yang dimulai pada 2025 dengan 15 hektare kini meluas menjadi 534 hektare, menampilkan varietas unggulan Sanga Sembalun dan Lumbu Putih yang menghasilkan rataârata 20â25 ton per hektar.
Pada 26 Juli 2026, Kapolda Lampung Irjen Pol. Helfi Assegaf mengunjungi Kelompok Tani Pusuk Pujata untuk meninjau progres panen raya seluas 105 hektare. Hingga kini, 76% lahan telah dipanen, menghasilkan 1.470 ton bawang putih yang langsung diproses di dua lantai jemur utama serta fasilitas mitra tani, menjaga mutu untuk pasar domestik.
Keberhasilan ini selaras dengan arahan swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto sejak Oktober 2024. Polri menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar isu pertanian, melainkan komponen strategis keamanan nasional di tengah gejolak geopolitik global.
Langkah selanjutnya adalah perkenalan varietas baru bernama HAAS, hasil uji genetik yang diklaim lebih adaptif pada berbagai ketinggian dan menghasilkan umbi lebih besar. Jika berhasil, HAAS dapat membuka peluang ekspansi ke provinsi lain, menurunkan impor, dan menambah nilai tambah bagi petani lokal.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, proyek ini menandai pergeseran paradigma kebijakan ekonomi yang selama ini bergantung pada subsidi impor. Dengan meningkatkan produktivitas hingga 25 ton per hektar, margin keuntungan petani dapat naik signifikan, mengurangi beban biaya logistik dan tarif impor. Ini juga berpotensi menstimulasi rantai nilai terkait, mulai dari penyedia benih, pupuk organik, hingga industri pengeringan dan pengemasan.
Dari perspektif bisnis, keberhasilan Polri dalam menggerakkan kolaborasi lintas sektor (polisi, pemerintah daerah, dan kelompok tani) menciptakan model kemitraan publikâprivat yang dapat direplikasi di komoditas lain. Investor agribisnis harus memperhatikan peluang jointâventure dengan institusi pemerintah untuk mengakses lahan, teknologi, dan jaringan distribusi yang sudah teruji.
Namun, tantangan tetap ada. Skalabilitas varietas HAAS harus diuji pada kondisi iklim yang beragam di Indonesia, termasuk risiko hama dan perubahan iklim. Pemerintah perlu memastikan dukungan regulasi yang mempermudah akses kredit bagi petani kecil serta mengembangkan infrastruktur penyimpanan yang meminimalkan kerugian pascaâpanen.
Jika semua faktor ini terkelola dengan baik, Indonesia dapat menurunkan impor bawang putih dari lebih 90% menjadi kurang dari 30% dalam lima tahun ke depan, menghasilkan surplus ekspor yang dapat menambah devisa negara. Ini bukan sekadar cerita pertanian, melainkan contoh konkret bagaimana kebijakan pangan dapat mengubah struktur perdagangan nasional.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa persen kebutuhan bawang putih Indonesia masih diimpor?
- A: Lebih dari 90% kebutuhan bawang putih Indonesia masih dipenuhi melalui impor.
- Q: Apa keunggulan varietas HAAS yang akan diperkenalkan?
- A: HAAS diklaim lebih adaptif pada berbagai ketinggian, menghasilkan umbi lebih besar, dan memiliki toleransi terhadap hama serta perubahan iklim.
- Q: Bagaimana Polri terlibat dalam program pertanian ini?
- A: Satgas Pangan Polri memimpin inisiatif pengembangan lahan, menyediakan dukungan teknis, dan memfasilitasi kemitraan antara pemerintah daerah serta kelompok tani.


