PBB Tekan Cabut Sanksi Suriah, Guterres Ancam Krisis Ekonomi Global
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ringkasan Singkat
- Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan pencabutan seluruh sanksi terhadap Suriah setelah kunjungan dua hari.
- Seruan disampaikan dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Senin 27 Juli 2026.
- Guterres menekan bahwa sanksi saat ini menghambat pemulihan ekonomi dan kemanusiaan di Suriah.
Jakarta, CNBC Indonesia – Sekjen PBB Antonio Guterres mendesak masyarakat internasional untuk segera mencabut seluruh sanksi yang dikenakan terhadap Suriah. Pernyataan itu disampaikan setelah ia menyelesaikan kunjungan resmi dua hari ke Damaskus, tempat ia bertemu dengan pejabat pemerintah dan perwakilan kemanusiaan.
Dalam tayangan Squawk Box CNBC Indonesia pada Senin, 27 Juli 2026, Guterres menjelaskan bahwa sanksi sektoral tidak hanya memperburuk kondisi kemanusiaan, tetapi juga menahan investasi asing dan menghambat rekonstruksi infrastruktur yang vital bagi pertumbuhan ekonomi Suriah pada tahun depan.
Analisis Pakar
Sebagai pakar ekonomi makro, saya menilai bahwa seruan Guterres mencerminkan ketidaksesuaian antara tujuan sanksi politik dan realitas ekonomi di lapangan. Sanksi yang diterapkan oleh Uni Eropa dan AS sejak 2011 telah berhasil membatasi pendapatan negara dari sektor minyak dan gas, namun biaya sosialnya sangat tinggi: tingkat pengangguran di Suriah melambung di atas 50%, sementara inflasi makanan mencapai angka tiga digit.
Dari perspektif makro, pencabutan sanksi dapat membuka kembali aliran devisa melalui ekspor minyak dan pertanian, yang pada gilirannya bisa menstabilkan nilai kurs Suriah dan mengurangi tekanan depresi pada cadangan devisa negara. Hal ini serupa dengan diskusi tentang kebijakan moneter Indonesia yang sedang diperdebatkan setelah pengunduran Perry Warjiyo. Namun, risiko moral hazard tetap ada: tanpa kondisi yang jelas mengenai reformasi pemerintahan dan hak asasi manusia, pencabutan sanksi hanya akan memperkuat struktur kekuasaan yang sudah authoritarian.
Saya juga menyarankan bahwa komunitas internasional harus menggabungkan pencabutan sanksi dengan mekanisme verifikasi yang ketat, seperti pengawasan PBB atas penggunaan dana untuk rekonstruksi dan pembayaran gaji kepada pekerja sipil. Tanpa jaminan tersebut, manfaat ekonomi bisa diserap oleh elit militer dan tidak merakyat.
Akhirnya, bagi investor dan pelaku usaha, langkah ini menambah kompleksitas analisis risiko país. Meskipun peluang pasar besar terbuka, volatilitas politik dan ketidakpastian regulasi tetap menjadi faktor utama yang harus diukur melalui skala risiko negara dan hedging mata uang yang lebih konservatif.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Mengapa PBB mengajukan pencabutan sanksi terhadap Suriah?
A: Sekjen PBB Antonio Guterres menilai bahwa saat ini sanksi menghambat upaya kemanusiaan dan pemulihan ekonomi, sehingga mencabutnya dianggap langkah urgent untuk mengurangi penderitaan sipil.
Q: Apa dampak ekonomi yang diharapkan jika sanksi dicabut?
A: Pembukaan kembali ekspor minyak dan pertanian dapat meningkatkan devisa, menstabilkan mata uang, dan menciptakan lapangan kerja, namun perlu diimbangi dengan reformasi governansi.
Q: Apakah ada kondisi yang ditetapkan sebelum pencabutan sanksi dapat dilakukan?
A: Guterres menegaskan bahwa pencabutan harus diiringi dengan verifikasi penggunaan dana untuk rekonstruksi, peningkatan hak asasi manusia, dan transparansi anggaran negara.


