Misteri Terorisme Yahudi: Dari Penjajahan Inggris Hingga Kontroversi Politik Modern

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Misteri Terorisme Yahudi: Dari Penjajahan Inggris Hingga Kontroversi Politik Modern
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Wes Streeting, Menteri Pertahanan Inggris baru, menegaskan kembali kritiknya terhadap tindakan Israel di Gaza.
  • Sejarah konflik Inggris‑Israel bermula dari aksi milisi Yahudi seperti Irgun dan Lehi yang menantang otoritas kolonial pada akhir 1940‑an.
  • Peristiwa pengeboman Hotel King David 1947 menjadi titik balik yang memperdalam ketegangan antara Inggris dan gerakan Zionis.

Hubungan antara Israel dan Inggris selalu dipenuhi dinamika yang kompleks, mulai dari masa mandat Palestina hingga perdebatan politik kontemporer. Menteri Pertahanan baru Inggris, Wes Streeting, kembali menegaskan posisinya bahwa tindakan militer Israel di Jalur Gaza harus dinilai dengan standar internasional yang sama seperti yang diterapkan pada Inggris dan sekutunya, sambil mengakui hak Israel untuk membela diri.

Dalam sebuah konferensi pers di Farnborough International Airshow, Streeting menegaskan, "Saya telah menyatakan dengan sangat jelas kekhawatiran saya tentang tindakan Israel di Gaza dan Tepi Barat. Komentar saya ada di sana, dipublikasikan, dan tercatat. Saya tidak akan berpura‑pura bahwa saya tidak membuat komentar‑komentar tersebut." Pernyataan ini mencerminkan ketegangan yang terus berlanjut antara kebijakan luar negeri Inggris dan konflik Israel‑Palestina.

Sejarah hubungan kedua negara berakar pada akhir era mandat Inggris di Palestina. Pada 1948, ketika negara Israel dideklarasikan, Inggris masih menguasai wilayah tersebut dan menghadapi serangkaian serangan dari milisi Yahudi yang pada awalnya berkoordinasi dengan otoritas kolonial. Kelompok seperti Haganah, yang awalnya berfungsi sebagai pasukan pendukung polisi Inggris, serta unit intelijen Sherut Hayediot (Shay), membantu Inggris dalam operasi melawan pemberontakan Arab‑Palestina.

Namun, ketika pemerintah Inggris menolak membuka pintu bagi penyintas Holocaust untuk masuk ke Palestina, pemimpin Zionis seperti Menachem Begin dan Yitzhak Shamir—yang kemudian menjadi perdana menteri Israel—memimpin kelompok militan yang lebih radikal, yakni Irgun dan Lehi. Kedua organisasi ini, yang oleh otoritas Inggris dijuluki "Geng Stern", melakukan aksi‑aksi kekerasan yang semakin brutal, termasuk pengeboman Hotel King David pada 22 Juli 1947 yang menewaskan lebih dari 90 orang, termasuk tentara Inggris. Sejarawan John Ferris menyebut peristiwa itu sebagai "tindakan yang menyelesaikan perceraian Inggris‑Zionis".

Pada tahun 1947, Inggris berupaya mengembalikan dialog antara komunitas Yahudi dan Arab, namun kegagalan untuk melibatkan kelompok‑kelompok militan secara resmi memperparah situasi. Akhirnya, Menteri Luar Negeri Inggris, Ernest Bevin, menyerahkan masalah tersebut kepada Perserikatan Bangsa‑Bangsa, menandai berakhirnya mandat Inggris di wilayah tersebut.

Setelah deklarasi kemerdekaan Israel pada Mei 1948, konflik berskala penuh pecah, menghasilkan perpindahan paksa sekitar 750.000 orang Arab Palestina. Konflik tersebut menandai awal hubungan yang terus bergejolak antara Inggris dan Israel, yang masih terasa hingga kebijakan luar negeri dan perdebatan publik saat ini.

Analisis Pakar

Sejarah panjang konflik Inggris‑Israel mengajarkan bahwa dinamika kolonial, identitas nasional, dan kepentingan strategis selalu berinteraksi dalam cara yang sangat kompleks. Pada masa mandat, Inggris berusaha menyeimbangkan antara komitmen Balfour yang menjanjikan "rumah nasional Yahudi" dan kebutuhan untuk menjaga stabilitas di wilayah yang mayoritas Arab. Ketidakmampuan untuk mengelola ekspektasi kedua belah pihak menghasilkan ruang bagi milisi radikal seperti Irgun dan Lehi untuk mengisi kekosongan kekuasaan, memicu spiral kekerasan yang pada akhirnya mempercepat penarikan Inggris.

Dalam konteks kontemporer, pernyataan Wes Streeting mencerminkan dilema kebijakan luar negeri modern: bagaimana menegakkan prinsip hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional tanpa mengorbankan aliansi strategis. Kritik terhadap operasi militer Israel di Gaza menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi standar yang diterapkan Inggris terhadap sekutunya, terutama ketika kepentingan keamanan regional dan hubungan ekonomi melibatkan Israel secara signifikan.

Selain itu, narasi historis tentang "terorisme Yahudi" yang menimpa Inggris pada akhir 1940‑an sering kali dipolitisasi dalam wacana modern, mengaburkan fakta bahwa aksi‑aksi tersebut terjadi dalam konteks perjuangan kemerdekaan dan eksistensial. Memahami perbedaan antara gerakan pembebasan nasional dan terorisme konvensional penting untuk menghindari simplifikasi yang dapat memperburuk ketegangan diplomatik.

Ke depan, hubungan Inggris‑Israel kemungkinan akan terus diuji oleh isu‑isu seperti hak kembali pengungsi Palestina, status Yerusalem, dan kebijakan keamanan di Timur Tengah. Keterbukaan publik terhadap kebijakan luar negeri, serta kemampuan untuk menilai tindakan semua pihak secara setara, akan menjadi faktor kunci dalam membentuk persepsi internasional dan menjaga kredibilitas Inggris di panggung global.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Wes Streeting mengkritik tindakan Israel di Gaza?
A: Sebagai Menteri Pertahanan, Streeting menilai bahwa operasi militer Israel harus dipertanggungjawabkan sesuai standar hukum humaniter internasional, sambil mengakui hak Israel untuk membela diri.
Q: Apa peran milisi Irgun dan Lehi dalam konflik 1947‑1948?
A: Irgun dan Lehi merupakan kelompok militan Yahudi yang melancarkan serangan terhadap otoritas Inggris dan komunitas Arab, termasuk pengeboman Hotel King David, yang mempercepat berakhirnya mandat Inggris.
Q: Bagaimana Inggris menanggapi konflik Israel‑Palestina setelah 1948?
A: Inggris menyerahkan urusan tersebut kepada PBB, mengakhiri mandatnya, namun tetap mempertahankan hubungan diplomatik dan keamanan dengan Israel dalam konteks geopolitik regional.
Meow! Tanya Nesi!
😸