Ghalibaf Ramal Kenaikan Suku Bunga Fed Tepat Sasaran, Analis: Iran Bukan Penentu Utama

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ghalibaf Ramal Kenaikan Suku Bunga Fed Tepat Sasaran, Analis: Iran Bukan Penentu Utama
BAGIKAN:

Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator perundingan dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf, berhasil meramalkan kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis points (bps) pada Rabu (16/9) lalu, hanya beberapa jam setelah ia mengunggah perhitungan berbasis persamaan Taylor di akun X-nya.

Dalam unggahannya yang sarat olokan, Ghalibaf menuliskan rumus matematis yang digunakan bank sentral untuk menentukan tingkat bunga, disertai tantangan: "Mari kita lihat apakah kenaikan suku bunga bisa membuka SOH atau menghasilkan satu barel (minyak)." Ia mengaku menentukan premi risiko Selat Hormuz (SOH), titik keluar minyak dunia yang diblokade Iran selama berbulan-bulan, yang menekan pasokan global dan mendorong harga minyak melonjak.

Blokade Selat Hormuz itu memaksa hampir seluruh negara, AS included, merasakan kerugian pasokan hingga harga minyak dunia melesat. "Anda tidak menetapkan batas 25 bps pada sebuah titik hambatan... Itu adalah premi risiko SOH, dan Kami yang menetapkannya," tegas Ghalibaf, menunjuk Iran sebagai penggerak tekanan inflasi yang memaksa tangan The Fed.

Prediksi itu terealisasi. Beberapa jam kemudian, The Fed resmi menaikkan suku bunga acuan 25 bps — kenaikan pertama dalam tiga tahun. Analis pasar IG Group, Chris Beauchamp, menilai langkah Ghalibaf sebagai "aksi propaganda spektakuler" yang menunjukkan kemampuan Teheran memprovokasi lawan melalui ekonomi. Kevin Warsh, Ketua The Fed, mengakui perang Iran mendorong harga bensin naik dan meyakinkan pejabat The Fed mendukung suku bunga lebih tinggi: "Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari titik-titik rawan di seluruh dunia," kata Warsh.

Namun, para ahli menolak narasi Iran sepenuhnya menentukan kebijakan moneter AS. Susannah Streeter dari Wealth Club menegaskan gejolak geopolitik dan harga minyak mentah hanya "salah satu elemen", bukan faktor tunggal. Pengeluaran masif perusahaan AI, investasi modal kuat, permintaan domestik tangguh, serta tarif Trump turut menciptakan tekanan inflasi. "Teheran bisa dibilang memiliki pengaruh... tapi bukan pihak yang 'menentukan' suku bunga AS," potong Streeter. Persamaan Taylor itu sendiri hanyalah patokan, bukan aturan baku kaku, dikembangkan John Taylor awal 1990-an untuk menghubungkan suku bunga dana federal dengan inflasi dan kesenjangan output.

Analisis Redaksi

Ketepatan ramalan Ghalibaf bukan bukti Iran menguasai kebijakan The Fed, melainkan cerminan seberapa dalam ketergantungan ekonomi global pada aliran minyak Teluk. Iran memanfaatkan celah geopolitik: blokade Selat Hormuz menciptakan tekanan biaya energi yang tak bisa diabaikan bank sentral manapun. Namun, mengklaim "menetapkan" premi risiko 25 bps adalah hiperbole diplomatik — The Fed bergerak atas komposisi data inflasi, pasar tenaga kerja, dan ekspektasi pasar, bukan perintah Teheran.

Yang perlu diwaspadai adalah eskalasi narasi perang ekonomi ini. Jika Iran terus mengaitkan setiap keputusan The Fed dengan "kekuatan" mereka, ruang diplomasi menyempit. Langkah logis selanjutnya: AS akan memperketat sanksi sektor energi Iran sambil menenangkan pasar lepas cadangan strategis, sementara Iran mungkin mempertajam ancaman navigasi sebagai alat tawar. Pasar akan terus membaca setiap gerak Fed melalui kacamata risiko geopolitik Timur Tengah — bukan karena Iran menentukan, tapi karena dunia tak bisa lepas dari minyak mereka.

Meow! Tanya Nesi!
😸