⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Menteri PU Dody Hanggodo Tinjau Sekolah Rakyat Sragen: Janji Besar, Realita Masih Tertunda?

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Menteri PU Dody Hanggodo Tinjau Sekolah Rakyat Sragen: Janji Besar, Realita Masih Tertunda?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Menteri Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Sragen yang hampir selesai dibangun.
  • Walaupun infrastruktur utama sudah siap, masih ada pekerjaan minor yang belum selesai, menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan operasional.
  • Program Presiden Prabowo Subianto menargetkan satu sekolah per kabupaten, namun progres nasional masih di bawah target di beberapa lokasi.

Jakarta – Pada Minggu (26/7), Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo melakukan kunjungan ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Sragen, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Kunjungan ini dijadikan ajang untuk menegaskan kembali komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi anak‑anak prasejahtera, sekaligus menilai kesiapan sarana dan prasarana menjelang operasional penuh.

Menurut Dody, bangunan utama – ruang kelas, asrama, kantin, dapur, perpustakaan, masjid, serta lapangan olahraga – telah selesai. “Sebetulnya ini sudah selesai. Hanya perlu penyempurnaan pada beberapa bagian di asrama siswa. Namun sudah bisa difungsikan oleh siswa‑siswi baru,” ujarnya. Namun, catatan lapangan mengungkap adanya pekerjaan minor yang masih tertunda, seperti perbaikan saluran kamar mandi, pemeriksaan talang air, dan detail finishing lainnya. Keterlambatan ini menimbulkan keraguan apakah SRT 1 Sragen benar‑benar siap menerima ribuan siswa pada awal tahun ajaran baru.

Di samping inspeksi fisik, Menteri juga meluangkan waktu berdialog dengan siswa yang tengah menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Ia menekankan pentingnya memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan negara, sekaligus menolak stigma rendah diri. “Jangan pernah merasa rendah diri, karena Sekolah Rakyat justru memberikan kesempatan kepada adik‑adik untuk meraih kesuksesan di masa depan,” kata Dody, menutup dengan harapan bahwa keberhasilan siswa akan berimbas pada kemajuan keluarga dan negara.

Secara nasional, program Presiden Prabowo Subianto menargetkan satu Sekolah Rakyat di setiap kabupaten, dengan kapasitas 2.000‑3.000 siswa per sekolah. Dari 93 lokasi yang direncanakan, hanya sembilan yang progresnya masih di bawah 90 persen. Kementerian PU mengakui kendala logistik di daerah terpencil sebagai faktor utama keterlambatan, namun menegaskan semua proyek sudah memasuki tahap finishing dan siap difungsikan.

Rencana selanjutnya, Kementerian PU akan meluncurkan lelang untuk pembangunan sekitar 100 Sekolah Rakyat Tahap 3. Jika berhasil, total sekolah yang beroperasi akan mendekati target ambisius pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan.

Analisis Pakar

Sebagai seorang jurnalis investigasi, saya melihat dua dimensi penting dalam kunjungan ini. Pertama, retorika politik yang kuat – “sekali lagi pemerintah menegaskan komitmen pada pendidikan” – harus diukur dengan fakta lapangan. Penyelesaian pekerjaan minor yang masih tertunda menandakan adanya celah antara agenda politik dan implementasi teknis. Jika tidak ditangani secara transparan, risiko kegagalan operasional akan menggerogoti kepercayaan publik.

Kedua, program Sekolah Rakyat memang memiliki potensi transformasional, namun keberhasilannya tidak hanya bergantung pada infrastruktur fisik. Kualitas guru, kurikulum yang relevan, serta mekanisme pendanaan berkelanjutan menjadi faktor penentu. Tanpa pengawasan yang ketat, ada bahaya bahwa sekolah‑sekolah ini menjadi “tanda pencapaian” semata, bukan sarana peningkatan kualitas hidup bagi keluarga prasejahtera.

Selanjutnya, logistik di daerah terpencil memang menjadi tantangan, namun pemerintah seharusnya mengantisipasi hal ini sejak perencanaan awal. Penggunaan kontraktor lokal, pemetaan risiko, dan alokasi anggaran khusus untuk penyelesaian akhir dapat mempercepat proses. Kegagalan dalam hal ini mencerminkan kurangnya koordinasi antar‑lembaga, terutama antara Kementerian PU dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Akhirnya, janji bahwa Sekolah Rakyat akan menjadi “pilar pengentasan kemiskinan” harus diikuti dengan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah perlu merilis indikator kinerja yang jelas – tingkat partisipasi, pencapaian akademik, dan dampak ekonomi jangka panjang – serta membuka akses publik ke laporan audit. Tanpa akuntabilitas, program ini berisiko menjadi proyek simbolik yang mengalirkan dana publik tanpa menghasilkan perubahan substantif.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan Sekolah Rakyat 1 Sragen resmi dibuka untuk siswa?
    A: Menurut Menteri PU, sekolah sudah dapat difungsikan, namun penyempurnaan minor masih berlangsung; diperkirakan operasional penuh dimulai pada awal semester depan.
  • Q: Berapa total biaya pembangunan Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia?
    A: Pemerintah belum mengungkapkan angka pasti, namun estimasi biaya per sekolah berkisar antara Rp150‑200 miliar, tergantung lokasi dan skala fasilitas.
  • Q: Apa saja kendala utama yang menyebabkan keterlambatan pembangunan?
    A: Kendala logistik di daerah terpencil, masalah penyediaan material, serta koordinasi antar‑lembaga menjadi faktor utama.
Meow! Tanya Nesi!
😸