MBG Kembali Nyalakan Pasar Ayam-Telur, Harga Naik Pasca-Libur Sekolah

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

MBG Kembali Nyalakan Pasar Ayam-Telur, Harga Naik Pasca-Libur Sekolah
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penicu kenaikan harga ayam dan telur setelah libur sekolah berakhir.
  • Harga komoditas mulai naik dalam seminggu terakhir sesuai laporan Pinsar, setelah penyaluran MBG kembali aktif setelah hampir satu bulan dihentikan.
  • Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) akan memastikan harga tidak turun di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan mengawal pembelian langsung dari peternak untuk memendek rantai distribusi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Makan Bergizi Gratis (MBG) berfungsi sebagai off‑taker besar untuk produksi pertanian, sehingga kembali menyalurkan program setelah libur kelas menyebabkan lonjakan permintaan ayam dan telur.

Berdasarkan data dari Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), harga ayam dan telur mulai mengalami kenaikan dalam seminggu terakhir, tepat ketika kegiatan MBG kembali berjalan setelah hampir satu bulan tidak aktif karena pembelajaran di sekolah masih tertunda.

Amran menekankan bahwa harga tidak boleh jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yaitu sekitar Rp25.000 per kilogram untuk ayam hidup dan Rp26.500 per kilogram untuk telur ayam ras. Untuk menjamin hal ini, Badan Gizi Nasional (BGN) akan mengawasi agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG membeli kebutuhan ayam dan telur langsung dari peternak, sehingga mengurangi ruang bagi pihak tertentu yang mengambil keuntungan dalam rantai distribusi.

Menurut data SP2KP Kementerian Perdagangan, hingga pekan ke‑empat Juli 2026 rata‑rata harga daging ayam ras nasional berada pada Rp37.872 per kg (turun 0,57 % dibanding Juni 2026) dan masih di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen sebesar Rp40.000 per kg. Sementara itu, rata‑rata harga telur ayam ras tercatat Rp29.242 per kg (turun 3,21 % MoM) dan juga masih di bawah HAP konsumen sebesar Rp30.000 per kg.

Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras menurun di sekitar 50 % kabupaten/kota, sementara IPH telur ayam ras menurun di 73,33 % wilayah, menegaskan bahwa tekanan harga tetap ada nonostante kenaikan sementara yang dipicu oleh MBG.

Analisis Pakar

Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat kebijakan MBG sebagai instrumen fiskal yang berfungsi simultaneously sebagai stimulan permintaan dan alat stabilisasi harga. Namun, ketika program ini diletakkan sebagai off‑taker tunggal tanpa adanya mekanisme penyeimbangan pasokan, risiko distorti harga menjadi nyata. Lonjakan permintaan yang timbul setelah libur sekolah menunjukkan bahwa sektor peternakan masih kurang elastis dalam menyesuaikan output secara instan, sehingga harga naik meskipun data agregat menunjukkan tren menurun.

Peran Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pengawal pembelian langsung dari peternak merupakan langkah yang tepat untuk memotok arbitrase dalam rantai distribusi. Dengan memotong lapisan perantara yang sering mengambil margin tinggi, pemerintah tidak hanya menjamin harga yang diterima peternak tetap di atas HPP, tetapi juga menekan tekanan inflasional yang mungkin timbul dari spekulasi. Namun, efektivitas langkah ini sangat tergantung pada kapasitas logistik SPPG dan transparansi data harga real‑time yang harus diintegrasikan dengan sistem monitoring pasar.

Dari perspektif makro, stabilitas harga komoditas protein seperti ayam dan telur penting karena berkontribusi langsung pada indeks harga konsumen (IHK) dan daya beli rumah tangga. Jika harga ini tidak terkendali, bisa memicu tekanan inflasi yang berberat pada suku bunga moneter. Kebijakan yang menggabungkan target volume pembelian MBG dengan mekanisme harga acuan dinamis—misalnya menggunakan kontrak forward atau pasar futures komoditas—akan memberikan sinal yang lebih jelas kepada produsen dan mengurangi volatilitas harga.

Kesimpulannya, program MBG memiliki potensi besar sebagai alat pembangunan sosial, tetapi perlu direkayasa ulang agar tidak menjadi sumber ketidakstabilan harga. Rekomendasi saya adalah membentuk tim lintas sektori yang meliputi Kementan, BGN, dan Badan Statistik untuk memantau flux permintaan‑pasokan secara mingguan, menerapkan sistem peringatan dini ketika deviasi harga melebihi ambang 5 % dari HPP, dan menyesuaikan volume pembelian secara dinamis berdasarkan data produksi peternak.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa harga ayam dan telur naik setelah libur sekolah berakhir?
  • A: Karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menyalurkan makanan ke sekolah, meningkatkan permintaan ayam dan telur sebagai bahan utama masakan bergizi.
  • Q: Apa yang dimaksud dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan mengapa penting?
  • A: HPP adalah harga dasar yang ditetapkan pemerintah untuk membeli komoditas dari peternak; menjaga harga di atas HPP mencegah kerugian peternak dan menjamin pasokan stabil.
  • Q: Bagaimana Badan Gizi Nasional (BGN) berupaya mencegah manipulasi harga oleh perantara?
  • A: BGN akan mengawal agar SPPG atau dapur MBG membeli ayam dan telur langsung dari peternak, memendek rantai distribusi dan mengurangi ruang bagi pihak tertentu untuk mengambil keuntungan tidak wajar.
Meow! Tanya Nesi!
😾