⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pertamina Pimpin Revolusi Bahan Bakar Hijau di Langit ASEAN: SAF Jadi Kunci Dekarbonisasi Penerbangan

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Pertamina Pimpin Revolusi Bahan Bakar Hijau di Langit ASEAN: SAF Jadi Kunci Dekarbonisasi Penerbangan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pertamina Patra Niaga menegaskan posisi sebagai pionir ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia lewat partisipasinya di ASEAN SAF Workshop 2026.
  • Produk SAF bersertifikasi CORSIA yang diproduksi di Green Refinery RU IV Cilacap kini sudah mengalir ke Bandara Soekarno‑Hatta dan Ngurah Rai, menurunkan emisi hingga 84%.
  • Model ekonomi sirkular berbasis program UCOllect mengumpulkan lebih dari 116 000 liter minyak jelantah, melibatkan 5.200 rumah tangga, dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Jakarta – Pertamina Patra Niaga kembali menegaskan kepemimpinan strategisnya dalam menggerakkan ekosistem SAF di Indonesia, terutama mengingat ancaman harga minyak dunia yang mencapai US$100/barel. Pada ASEAN Sustainable Aviation Fuel Workshop 2026 yang digelar oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan bersama European Union Aviation Safety Agency (EASA) di Bali, perusahaan menampilkan rangkaian nilai lengkap mulai dari hulu hingga hilir.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan, Sokhib Al Rokhman, memuji komitmen Pertamina dalam membangun ekosistem SAF yang terintegrasi. Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor—pemerintah, industri, dan masyarakat—merupakan katalis utama percepatan transisi menuju penerbangan rendah emisi, sekaligus meningkatkan daya saing aviasi nasional di pasar regional.

Yosep Iswadi, Vice President Aviation Fuel Business PT Pertamina Patra Niaga, menegaskan bahwa SAF bersertifikasi CORSIA yang diproduksi di Green Refinery RU IV Cilacap kini telah disalurkan ke Bandara Soekarno‑Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai. "Ini bukan sekadar produk, melainkan bukti kesiapan kami menyediakan bahan bakar aviasi berstandar internasional untuk mendukung dekarbonisasi penerbangan dan meneguhkan posisi Indonesia sebagai pusat pengembangan SAF di ASEAN," ujar Iswadi dalam siaran pers Jumat, 24 Juli 2026.

Melalui booth interaktif, Pertamina memamerkan seluruh rantai nilai SAF: mulai dari pengumpulan minyak jelantah lewat program UCOllect, proses co‑processing di Green Refinery, hingga distribusi ke maskapai penerbangan. Hingga kini, perusahaan telah mengoperasikan 47 titik UCOllect, mengumpulkan lebih dari 116 000 liter minyak jelantah, dan melibatkan lebih dari 5.200 rumah tangga, sejalan dengan upaya nasional seperti program kompor listrik gratis untuk mengurangi impor LPG. SAF yang dihasilkan mampu menurunkan emisi karbon hingga 84 % dibandingkan bahan bakar aviasi konvensional.

Kitty Andhora, Vice President Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, menambahkan bahwa inisiatif ini memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menegaskan komitmen perusahaan dalam ekonomi sirkular. "Pengembangan SAF menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan pemanfaatan limbah minyak jelantah, menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan," ujarnya.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat dua dimensi utama dalam langkah Pertamina ini: pertama, penguatan rantai nilai energi hijau yang berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Dengan memanfaatkan minyak jelantah domestik, Indonesia tidak hanya menurunkan jejak karbon, tetapi juga menciptakan peluang bisnis baru bagi petani, pengumpul limbah, dan industri pengolahan. Ini sejalan dengan agenda Net Zero Emission 2060 yang dicanangkan pemerintah, sekaligus menambah cadangan devisa melalui ekspor SAF di masa depan.

Kedua, posisi strategis Pertamina dalam ekosistem SAF memberi keunggulan kompetitif di kawasan ASEAN. Saat negara‑negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura mulai merumuskan kebijakan SAF, Indonesia sudah memiliki infrastruktur produksi bersertifikasi CORSIA. Hal ini membuka peluang kontrak jangka panjang dengan maskapai regional, serta menarik investasi asing yang mencari portofolio energi berkelanjutan.

Namun, tantangan tetap ada. Skala produksi SAF masih relatif kecil dibandingkan permintaan global, dan biaya produksi masih di atas bahan bakar konvensional. Pemerintah perlu memperkuat regulasi insentif—misalnya kredit pajak atau mekanisme harga karbon—untuk menurunkan hambatan ekonomi. Selain itu, transparansi dalam pelacakan rantai pasokan minyak jelantah menjadi krusial untuk menghindari green‑washing dan memastikan keberlanjutan lingkungan.

Secara keseluruhan, inisiatif Pertamina bukan sekadar langkah CSR, melainkan strategi bisnis yang mengintegrasikan keberlanjutan, keamanan energi, dan nilai ekonomi sirkular. Jika didukung kebijakan yang tepat, Indonesia dapat menjadi hub SAF regional, menggerakkan pertumbuhan industri aviasi rendah emisi dan memperkuat posisi geopolitik energi di Asia Tenggara.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan mengapa penting?
    A: SAF adalah bahan bakar penerbangan yang diproduksi dari sumber terbarukan atau limbah, mampu mengurangi emisi CO₂ hingga 80‑90% dibandingkan bahan bakar konvensional, sehingga menjadi kunci dekarbonisasi sektor penerbangan.
  • Q: Bagaimana Pertamina menghasilkan SAF dari minyak jelantah?
    A: Melalui program UCOllect, minyak jelantah dikumpulkan dari rumah tangga, kemudian diproses di Green Refinery RU IV Cilacap dengan teknologi co‑processing yang menghasilkan bahan bakar aviasi bersertifikasi CORSIA.
  • Q: Apa manfaat ekonomi bagi Indonesia dari pengembangan SAF?
    A: Pengembangan SAF menciptakan nilai tambah pada limbah domestik, mengurangi impor bahan bakar, membuka peluang ekspor SAF, serta menarik investasi pada infrastruktur energi hijau, yang semuanya memperkuat ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸