Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Mengemudi Mobil Listrik Lebih Mudah? Ini Bukti Praktis dan Peluang Bisnisnya!

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Mengemudi Mobil Listrik Lebih Mudah? Ini Bukti Praktis dan Peluang Bisnisnya!
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Pengendara SonySusmana ingatkan pentingnya berhenti sejenak di persimpangan karena mobil listrik hampir tak bersuara.
  • Kecepatan optimal: 40‑50 km/jam di dalam kota, 60‑80 km/jam di tol, dengan mode Eco atau Sport sesuai kebutuhan.
  • Pengisian baterai kini lebih murah dan tersebar luas lewat SPKLU , menurunkan total cost of ownership dibandingkan BBM.

Ringkasan Singkat

  • Pengendara SonySusmana ingatkan pentingnya berhenti sejenak di persimpangan karena mobil listrik hampir tak bersuara.
  • Kecepatan optimal: 40‑50 km/jam di dalam kota, 60‑80 km/jam di tol, dengan mode Eco atau Sport sesuai kebutuhan.
  • Pengisian baterai kini lebih murah dan tersebar luas lewat SPKLU, menurunkan total cost of ownership dibandingkan BBM.

Jakarta – Setelah bertahun‑tahun mengandalkan kendaraanbensin, konsumen Indonesia kini semakin beralih ke mobil listrik (electric vehicle/EV). Perubahan ini bukan sekadar soal ramah lingkungan; ia mengubah pola mengemudi, biaya operasional, dan bahkan model bisnis di sektor otomotif.

Menurut Sony Susmana, Direktur Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), keheningan mesin EV menuntut kebiasaan baru di persimpangan. "Karena mobil listrik tidak mengeluarkan suara, pengendara harus berhenti sejenak, memastikan tidak ada kendaraan lain sebelum melaju," ujarnya dalam wawancara dengan CNBCIndonesia pada 24 Juli 2026.

Selain aspek keselamatan, pengendara EV harus menyesuaikan kecepatan. Di dalam kota, disarankan tidak melebihi 40‑50 km/jam; di jalan tol, rentang 60‑80 km/jam dengan mode Sport bila diperlukan. Jaga jarak, gunakan lajur kiri pada dua lajur, atau tengah pada tiga lajur, dan hindari mendahului kecuali di lajur kanan.

Mode berkendara juga fleksibel: Eco memberikan akselerasi halus dan efisiensi energi, sementara Sport cocok untuk situasi menuntut performa. Pilihan mode harus disesuaikan dengan kebutuhan perjalanan dan kondisi lalu lintas.

Hal krusial lainnya adalah manajemen baterai. Pengisian penuh atau minimal 90 % sebelum menempuh jarak jauh menjadi standar praktis. Ketersediaan SPKLU di titik strategis kini memudahkan perjalanan lintas kota, menurunkan kekhawatiran range anxiety.

Dari sisi keamanan, mobil listrik tidak kalah dari kendaraan konvensional. Uji tabrak menunjukkan performa unggul dalam perlindungan frontal, samping, serta keselamatan penumpang anak. Sistem manajemen baterai (BMS) memantau suhu dan aliran listrik, mencegah risiko kebakaran.

Pengguna seperti Mutiara Nabila menilai kebebasan dari aturan ganjil‑genap sebagai nilai tambah, sementara Rezky Salma menyoroti penghematan biaya pengisian dan fasilitas parkir khusus EV di Jabodetabek. Kedua testimoni menegaskan bahwa total cost of ownership (TCO) mobil listrik kini kompetitif, terutama bila dibandingkan dengan harga BBM yang fluktuatif.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro dan pengamat industri otomotif, saya melihat transisi ke EV sebagai katalisator perubahan struktural dalam perekonomian Indonesia. Pertama, penurunan konsumsi BBM berpotensi mengurangi defisit impor energi, yang selama ini menjadi beban fiskal. harga BBM turun drastis juga mempercepat peralihan ke listrik.

Kedua, jaringan SPKLU membuka peluang bisnis baru bagi investor swasta dan BUMN. Model bisnis berbasis layanan pengisian cepat, integrasi dengan energi terbarukan, serta layanan nilai tambah (mis. layanan baterai swap, aplikasi manajemen energi) dapat menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan EV secara berkelanjutan. transisi energi Indonesia menjadi landasan strategis bagi perkembangan infrastruktur ini.

Ketiga, adopsi EV menuntut peningkatan standar keselamatan dan infrastruktur digital. Data telemetri kendaraan dapat dimanfaatkan untuk layanan asuransi berbasis penggunaan (usage‑based insurance), yang pada gilirannya menurunkan premi bagi pengendara yang menerapkan kebiasaan mengemudi aman. Ini merupakan contoh sinergi antara teknologi, regulasi, dan pasar yang dapat meningkatkan efisiensi ekonomi.

Akhirnya, harga listrik yang relatif stabil dibandingkan BBM memberikan keunggulan kompetitif jangka panjang. Namun, pemerintah harus memastikan tarif listrik tidak naik secara signifikan, serta menyediakan insentif pajak yang berkelanjutan untuk menjaga daya tarik EV. Tanpa kebijakan yang konsisten, risiko penurunan minat konsumen dapat menghambat pencapaian target 20% penetrasi EV pada 2030.

Selain itu, pembiayaan kendaraan menjadi faktor penting untuk memperluas adopsi EV.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa biaya rata-rata pengisian baterai mobil listrik di Indonesia?
    A: Sekitar Rp15.000‑Rp25.000 per 100 km, jauh lebih murah dibandingkan BBM yang dapat mencapai Rp70.000‑Rp100.000 untuk jarak yang sama.
  • Q: Apakah mobil listrik aman dalam kecelakaan?
    A: Ya, uji tabrak menunjukkan performa keselamatan yang setara atau lebih baik daripada mobil konvensional, berkat struktur rangka yang kuat dan sistem manajemen baterai.
  • Q: Bagaimana cara mengatasi kekhawatiran “range anxiety”?
    A: Manfaatkan jaringan SPKLU yang terus berkembang, rencanakan rute dengan aplikasi peta EV, dan pastikan baterai terisi minimal 90 % sebelum perjalanan jauh.
Meow! Tanya Nesi!
😸