⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.3 di 197 km W of Abepura, Indonesia pada 24/7/2026, 18.11.34. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.

DPR Geram: URI Lahir Tiba-tiba, Kemendiktisaintek Bakal Dipanggil Demi Klarifikasi Total

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

DPR Geram: URI Lahir Tiba-tiba, Kemendiktisaintek Bakal Dipanggil Demi Klarifikasi Total
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Komisi X DPR RI berencana memanggil Kemendiktisaintek pasca reses Agustus untuk mengusut pendirian Universitas Republik Indonesia (URI) yang dinilai tiba-tiba.
  • Ketua Komisi X, Hetifah Sjaifudian, menuntut penjelasan rinci terkait landasan hukum, sumber pendanaan, dan tata kelola URI agar tidak terjadi duplikasi fungsi.
  • Pemerintah melalui Mensesneg menyatakan URI didesain sebagai kawah candradimuka calon pemimpin bangsa, meniru model lembaga pendidikan kepemimpinan di negara lain.

JAKARTA — Gedung wakil rakyat kini bergemuruh menyusul keputusan eksekutif yang dinilai terburu-buru. Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI selaku mitra kerja bidang pendidikan, memastikan akan memanggil Kemendiktisaintek pasca masa reses pertengahan Agustus mendatang. Panggilan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan sebuah audiensi kritis untuk mengorek kejelasan pendirian Universitas Republik Indonesia (URI) yang baru saja diumumkan melalui pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernurnya.

Ketua Komisi X, Hetifah Sjaifudian, dengan nada tegas menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa main lempar bola dalam kebijakan strategis semacam ini. Publik, menurutnya, berhak mendapatkan penjelasan menyeluruh mengenai konsep, dasar hukum, hingga arah pengembangan kampus baru ini. Apalagi, santer berembus rencana pembentukan hingga 10 universitas di bawah bendera URI.

"Kami akan meminta Kemendiktisaintek memberikan penjelasan secara menyeluruh mengenai konsep, landasan hukum, tata kelola, sumber pendanaan, serta arah pengembangan URI," ucap Hetifah saat dihubungi, Jumat (24/7). Ia menambahkan, hingga kini pihaknya belum menerima sosialisasi formal apapun dari pemerintah terkait urgensi pendirian lembaga ini.

Kekhawatiran utama Komisi X bukan sekadar pada prosedur, melainkan pada potensi fragmentasi tata kelola pendidikan tinggi nasional. Hetifah mewanti-wanti agar URI tidak menjadi institusi yang tumpang tindih atau menduplikasi fungsi kampus yang sudah ada. Ekosistem pendidikan tinggi Indonesia saat ini sedang fokus pada konsolidasi dan peningkatan kualitas, bukan pada penambahan entitas baru yang justru membebani birokrasi.

Di sisi lain, Istana Kepresidenan tampaknya sudah melangkah lebih jauh. Presiden Prabowo Subianto telah melantik Donny Ermawan—yang merangkap sebagai Wakil Menteri Pertahanan—dan Yos Sunitoyoso, akademisi senior ITB, sebagai pimpinan URI. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa URI disiapkan sebagai kawah candradimuka khusus untuk mencetak calon pemimpin instansi pemerintah, mengadopsi model dari sejumlah negara yang memiliki lembaga pendidikan kepemimpinan khusus.

Namun, penjelasan singkat dari Istana tersebut belum cukup menjawab rasa penasaran dan kecurigaan legislatif. Apakah URI nantinya akan bermitra dengan Komisi X? Belum ada kepastian. Segalanya kembali kepada desain besar yang sedang disusun oleh pemerintah, yang hingga kini masih menjadi teka-teki bagi publik.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah malang melintang menyisir ruang-ruang kekuasaan di Indonesia, saya melihat fenomena pendirian Universitas Republik Indonesia (URI) ini sebagai cermin klasik dari problematika komunikasi birokrasi kita. Ada aroma urgensi yang dipaksakan tanpa diimbangi dengan transparansi yang memadai. Ketika sebuah lembaga sebesar universitas yang ditujukan untuk mencetak pemimpin bangsa dilahirkan melalui proses yang terkesan "tiba-tiba" bagi mitra kerja legislatif, itu adalah pertanda buruk bagi akuntabilitas.

Pertanyaan mendasar yang harus dilontarkan adalah: Apakah kita benar-benar membutuhkan lembaga baru ini? Indonesia sudah memiliki Lemhannas, IPDN, serta berbagai perguruan tinggi kedinasan dan universitas negeri yang telah berkontribusi melahirkan pemimpin. Mendirikan URI dengan konsep meniru negara lain tanpa penjelasan rinci mengenai *value added* apa yang ditawarkan berpotensi hanya menjadi proyek redundansi. Ini adalah pemborosan energi dan anggaran jika fungsinya nantinya tumpang tindih dengan institusi yang sudah ada. Kita harus waspada terhadap ego sektoral yang ingin menciptakan monumen baru alih-alih memperbaiki yang sudah ada.

Selanjutnya, soal pendanaan dan tata kelola. Dalam situasi ekonomi yang sedang berupaya bangkit, mengalokasikan dana untuk mendirikan universitas baru beserta infrastrukturnya adalah keputusan fiskal yang besar. Di mana sumber dananya? Apakah dari APBN? Jika iya, apakah ini prioritas dibandingkan dengan memperbaiki kualitas gedung sekolah dasar atau meningkatkan kesejahteraan dosen dan guru di daerah terpencil? Komisi X benar untuk bersikap kritis. Jangan sampai URI ini lahir bukan sebagai solusi krisis kepemimpinan, melainkan sebagai sumber krisis baru dalam tata kelola pendidikan tinggi kita yang sudah sarat dengan kompleksitas.

Terakhir, menunjuk pejabat aktif seperti Wakil Menteri Pertahanan untuk memimpin universitas juga menimbulkan pertanyaan tentang konflik kepentingan dan fokus kerja. Seharusnya, akademisi murni atau praktisi pendidikan yang diberi mandat penuh tanpa beban jabatan politik lainnya. Ini menunjukkan bahwa URI mungkin didesain lebih sebagai instrumen politik ketatanegaraan daripada lembaga akademis murni. Kita tunggu dengan seksama klarifikasi Kemendiktisaintek nanti, namun radar kritis publik harus tetap menyala agar jargon "mencetak pemimpin bangsa" tidak sekadar manis di bibir, namun pahit dalam implementasi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa itu Universitas Republik Indonesia (URI)?
A: URI adalah lembaga pendidikan tinggi baru yang didirikan oleh pemerintah Indonesia dengan tujuan khusus untuk melahirkan dan mencetak calon-calon pemimpin bangsa yang akan mengisi jabatan strategis di instansi pemerintahan.

Q: Siapa saja pimpinan Universitas Republik Indonesia (URI)?
A: Presiden Prabowo Subianto telah melantik Donny Ermawan (Wakil Menteri Pertahanan) sebagai Gubernur URI, dan Yos Sunitoyoso (akademisi dari ITB) sebagai Wakil Gubernur URI.

Q: Mengapa DPR mempertanyakan pendirian URI?
A: DPR, khususnya Komisi X, mempertanyakan karena belum menerima penjelasan resmi mengenai landasan hukum, sumber pendanaan, dan konsep tata kelola URI. DPR khawatir pendirian URI akan menduplikasi fungsi lembaga pendidikan yang sudah ada dan menimbulkan fragmentasi dalam tata kelola pendidikan tinggi nasional.

Meow! Tanya Nesi!
😸