Supertanker China Menembus Blockade Houthi, Mengantar 4 Juta Barel Minyak Saudi ke Cina
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ringkasan Singkat
- Dua supertanker China yang masing‑masing membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Arab Saudi berhasil melewati Selat Bab Al Mandab tanpa terkena blokade milisi Houthi.
- Kapal VLCC Xin Long Yang (bendera Singapura) dan VLCC Cosnew Lake (bendera China) melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Qinzhou dan Huizhou setelah berhenti sementara di tengah Laut Merah.
- Penurunan lalu lintas pelayaran di Selat Bab Al Mandab dari 38 ke 27 kapal menunjukkan tekanan yang ditimbulkan oleh ancaman Houthi terhadap komersial yang terkait dengan Arab Saudi.
Menurut data pelayaran LSEG, supertanker supertanker China Xin Long Yang, yang sebelumnya memutar balik dan berhenti di tengah Laut Merah pada Selasa (21/7), melanjutkan kursusnya ke selatan pada Rabu malam. Kapal sisternya, VLCC Cosnew Lake, mengikuti jejaknya sehingga keduanya berhasil keluar dari wilayah berisiko pada Kamis (23/7) malam.
Kedua tanker tersebut mengindikasikan melalui sistem AIS bahwa awak kapal berkebangsaan Cina memuat minyak mentah yang diambil dari Pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, awal pekan ini. Sementara itu, milisi milisi Houthi di Yaman telah menegaskan blokade terhadap kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi, memperingatkan perusahaan pelayaran yang melanggar larangan dapat menjadi sasaran serangan di mana saja.
Sejak pengumuman Houthi tentang larangan pelayaran maritim terhadap Arab Saudi, lalu lintas melalui Selat Bab Al Mandab menurun drastis. Data LSEG menunjukkan hanya 27 kapal (termasuk lima tanker minyak dan satu kapal LPG) menyeberangi selat pekan ini, dibandingkan 38 kapal pada hari sebelumnya. Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global dan reroute perdagangan yang mungkin mengalihkan aliran minyak ke jalur alternatif yang lebih panjang dan mahal.
Analisis menunjukkan bahwa langkah Houthi tidak hanya menegaskan posisi mereka dalam konflik Yaman, tetapi juga membuka front baru dalam rivalitas Iran‑Amerika Serikat, dengan potensi untuk mengganggu pasokan minyak ke Asia Timur, terutama Cina dan India, yang sangat bergantung pada pasokan Saudi.
Analisis Pakar
Kehadiran supertanker China yang berhasil menembus zona konflik di Selat Bab Al Mandab menegaskan bahwa rantai pasokan minyak global masih memiliki tingkat ketahanan yang cukup tinggi, meski tekanan geopolitik semakin meningkat. Fakta bahwa kapal‑kapal ini masih dapat beroperasi menunjukkan bahwa pihak pemasok dan penerima telah menyiapkan rencana kontingensi, seperti penggunaan AIS untuk transparansi dan penyesuaian rute secara dinamis, untuk mengurangi risiko interupsi.
Namun, penurunan lalu lintas dari 38 ke 27 kapal dalam satu hari adalah indikasi awal bahwa strategi intimidasi milisi Houthi mulai memberikan efek nyata. Jika blokade ini diperpanjang atau diperketat, kita bisa melihat perubahan signifikan dalam pola perdagangan minyak: peralihan ke jalur sekitar Tanjung Good Hope atau penggunaan infrastruktur pipa melalui wilayah yang lebih stabil (misalnya Israel–Turki atau Saudi–Emiratus Arab Uniti melalui pipa darat) akan meningkatkan biaya logistik dan menambah kompleksitas asuransi.
Dari perspektif strategi Houthi, tindakan ini bukan hanya tentang tekanan ekonomi terhadap Arab Saudi, tetapi juga bentuk proyeksi kuasa yang ingin menegaskan bahwa mereka dapat memengaruhi aliran energi global, sehingga memperkuat posisi mereka dalam negosiasi dengan pihak internasional dan mendapatkan dukungan dari simpatisan Iran. Ini membuka front baru dalam konflik proxy di mana energi menjadi senjata diplomatik.
Bagi pemangku kepentingan global—terutama negara-negara impor minyak seperti Cina, India, dan Jepang—situasi ini menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi dan investasi dalam cadangan strategis. Selain itu, perusahaan pelayaran perlu mengevaluasi ulang asuransi risiko krig dan mengadopsi sistem pelacakan canggih serta protokur keamanan yang lebih ketat untuk menjaga kelangsungan operasi di wilayah yang tidak stabil.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa milisi Houthi menargetkan kapal minyak Saudi?
A: Mereka melihat kapal tersebut sebagai bagian dari dukungan ekonomi kepada koalisi yang dipimpin Arab Saudi dalam konflik Yaman, sehingga menyerangnya merupakan tekanan ekonomi dan politik. - Q: Apakah alternatif jalur pelayaran aman untuk tanker yang ingin menghindari Selat Bab Al Mandab?
A: Kapal dapat mengelilingi ujung selatan Afrika melalui Tanjung Good Hope atau menggunakan pipa minyak melalui Israel dan Turki, namun kedua alternatif tersebut menambah biaya dan waktu pengiriman secara signifikan. - Q: Bagaimana dampak penurunan lalu lintas di Selat Bab Al Mandab terhadap harga minyak global?
A: Penurunan pasokan yang disebabkan oleh hambatan lalu lintas dapat menambah tekanan naik pada harga minyak Brent dan WTI, terutama jika gangguan berkepanjangan dan memicu spekulasi pasar mengenai ketidakstabilan pasokan di Timur Tengah.


