Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Purbaya Dukung Penghentian MBG untuk Keluarga Mampu: Simpan Anggaran, Tingkatkan Efisiensi

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Purbaya Dukung Penghentian MBG untuk Keluarga Mampu: Simpan Anggaran, Tingkatkan Efisiensi
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Pembantu Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyambut baik rencana penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa dari keluarga mampu.
  • Penghentian tersebut diperkirakan dapat menghemat anggaran negara, namun teknis pelaksanaannya tetap menjadi tanggung jawab Badan Gizi Nasional (BGN).
  • Pemerintah menunggu usulan resmi dari BGN yang baru dipimpin Sudaryono sebelum memutuskan besaran efisiensi dan kebijakan selanjutnya.

Ringkasan Singkat

  • Pembantu Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyambut baik rencana penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa dari keluarga mampu.
  • Penghentian tersebut diperkirakan dapat menghemat anggaran negara, namun teknis pelaksanaannya tetap menjadi tanggung jawab Badan Gizi Nasional (BGN).
  • Pemerintah menunggu usulan resmi dari BGN yang baru dipimpin Sudaryono sebelum memutuskan besaran efisiensi dan kebijakan selanjutnya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan dukungannya terhadap wacana penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa yang berasal dari keluarga mampu. Menurutnya, langkah ini dapat "ngirit" anggaran negara, asalkan mekanisme pelaksanaannya jelas dan tidak menimbulkan beban administratif bagi sekolah.

"Saya melihat potensi penghematan yang signifikan, namun detail teknisnya harus dibahas bersama BGN. Jika sekolah menolak, maka program tidak berjalan; kalau tidak, BGN harus menyesuaikan kebijakan," ujar Purbaya di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (23/7).

Purbaya menegaskan Kementerian Keuangan tidak akan menentukan mekanisme penghentian MBG. Semua aspek teknis menjadi wewenang BGN, sementara Kemenkeu berperan mengawasi pelaksanaan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau "dapur MBG" dengan melibatkan pegawai keuangan di seluruh daerah.

"Kami akan memantau SPPG menggunakan jaringan keuangan nasional. Jika ada penyimpangan, kami akan mengusulkan perbaikan kepada BGN. Jika kinerjanya sangat buruk, kami siap menyarankan penutupan program," tambahnya.

Pengawasan ini sudah dibahas sebelumnya dengan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Kini, setelah Sudaryono menggantikan Nanik S Deyang, Purbaya menjadwalkan pertemuan pekan depan untuk menilai efektivitas anggaran MBG.

Saat ini belum ada angka pasti mengenai besaran efisiensi yang dapat dicapai. Pemerintah menunggu usulan resmi dari BGN terkait kebutuhan anggaran dan langkah peningkatan efektivitas program.

Wacana penghentian MBG bagi siswa dari keluarga mampu masih dalam tahap kajian. Presiden Prabowo Subianto memberi waktu satu bulan kepada Wakil Kepala BGN Trenggono untuk mengevaluasi tata kelola program, termasuk rencana penghentian bantuan bagi siswa dari desil 8 hingga 10.

Presiden menekankan bahwa bantuan MBG harus diprioritaskan bagi kelompok paling rentan: desil bawah, daerah tertinggal, dan wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, sambil tetap memperhatikan aspek psikologis siswa di sekolah dengan latar belakang ekonomi beragam.

Analisis Pakar

Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat dua dimensi utama dalam keputusan ini: fiskal dan sosial. Dari sisi fiskal, penghentian MBG bagi keluarga mampu dapat mengurangi beban anggaran Kementerian Keuangan secara signifikan. Program MBG, meski berbasis sosial, mengonsumsi dana yang seharusnya dapat dialokasikan ke sektor produktif lain, seperti infrastruktur atau dukungan UMKM. Penghematan ini, bila dikelola dengan transparansi, dapat meningkatkan rasio belanja pemerintah terhadap PDB, memperkuat posisi fiskal Indonesia di mata investor.

Namun, aspek sosial tidak boleh diabaikan. Program gizi sekolah telah terbukti meningkatkan produktivitas jangka panjang melalui peningkatan konsentrasi belajar dan penurunan stunting. Oleh karena itu, penyesuaian target harus dilakukan dengan data yang akurat—misalnya, menggunakan basis data Kartu Keluarga Sejahtera (KKKS) untuk mengidentifikasi rumah tangga yang benar‑benar berada di desil 8‑10. Tanpa mekanisme verifikasi yang kuat, ada risiko “leakage” atau justifikasi politik yang dapat menurunkan kepercayaan publik.

Selanjutnya, peran BGN sebagai pelaksana menjadi kunci. Pengawasan Kemenkeu melalui SPPG harus beralih dari sekadar kontrol administratif menjadi sistem audit berbasis teknologi, misalnya dengan platform blockchain untuk melacak alokasi dana secara real‑time. Ini tidak hanya meningkatkan akuntabilitas, tetapi juga membuka peluang bagi sektor swasta—seperti perusahaan logistik dan fintech—untuk berpartisipasi dalam rantai pasok gizi sekolah.

Akhirnya, keputusan ini harus diiringi dengan kebijakan komplementer, seperti program pelatihan gizi bagi guru dan kampanye edukasi orang tua. Jika berhasil, Indonesia tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan—sebuah win‑win bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa alasan utama penghentian MBG bagi keluarga mampu?
    A: Untuk menghemat anggaran negara dan memfokuskan bantuan pada kelompok paling rentan yang benar‑benar membutuhkan.
  • Q: Siapa yang bertanggung jawab atas teknis pelaksanaan penghentian MBG?
    A: Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pelaksana program, sementara Kementerian Keuangan mengawasi melalui SPPG.
  • Q: Kapan keputusan akhir mengenai efisiensi anggaran MBG akan diumumkan?
    A: Pemerintah menunggu usulan resmi dari BGN yang dipimpin Sudaryono; keputusan diperkirakan akan keluar setelah evaluasi selesai dalam satu bulan ke depan.
Meow! Tanya Nesi!
😸